Pengajaran Bina Iman sore itu diisi dengan menonton bersama film kartun Penampakan Bunda Maria di Fatima:
https://www.youtube.com/watch?v=87xRcZcriAk&t=378s
https://www.youtube.com/watch?v=GNa08jQlW_g
https://www.youtube.com/watch?v=V385KSsZULk
Usai menyaksikannya, seorang anak perempuan kelas 4 SD bertanya: "Mengapa Bunda Maria tidak menampakkan diri lagi sekarang?"
"Apakah ada di antara kalian yang berdoa Rosario setiap hari?" sang pengajar balik bertanya. Dua belas anak yang duduk di bangku SD kelas 1-4 itu menggelengkan kepala. "Ketiga anak gembala di Fatima mendaraskan doa Rosario setiap hari, seperti yang dipesankan Bunda Maria dalam 6 kali penampakan di Fatima. Bagaimana Bunda Maria mau mengunjungi kita, jika kita tidak dekat dengannya?" tandas sang pengajar.
Sejurus, semua anak terdiam. Lalu, seorang anak laki-laki kelas 3 SD berkata, "Ibu, saya tidak mau berdoa, karena kalau saya berdoa di depan teman-teman, mereka mengatakan saya sok suci." Problema zaman modern. "Kamu bisa tetap berdoa. Masuklah ke kamar tidur kamu, lalu tutup pintu. Di dalam kamar kamu bisa berdoa dengan tenang," sang pengajar menyarankan. Anak-anak mengangguk.
Minggu, 14 Mei 2017
Sabtu, 13 Mei 2017
100 Tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima
"Apakah kalian mau mempersembahkan dirimu kepada Allah dan menanggung semua penderitaan yang dikirimkan-Nya kepadamu, demi penebusan dosa-dosa yang melukai hati-Nya dan demi pertobatan para pendosa?"
(Pertanyaan Bunda Maria kepada Lusia, Fransiskus, dan Yasinta dalam Penampakan pertama di Fatima, Portugal, 13 Mei 1917)
***
Hari ini, ketika kita merayakan 100 tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima, kita patut merenungkan kembali pertanyaan Bunda Maria kepada tiga anak gembala dalam Penampakan Pertama itu:
- Apakah kita mau mempersembahkan diri kita kepada Allah?
- Apakah kita mau menanggung semua penderitaan yang diberikan Allah kepada kita?
Pesan Bunda Maria di Fatima 100 tahun yang lalu tetap relevan saat ini.
Persembahan diri dan kesediaan menanggung penderitaan dimaksudkan sebagai penebusan atas dosa-dosa kita yang telah melukai hati Tuhan dan untuk pertobatan orang-orang berdosa.
Ketiga anak
gembala yang masih anak-anak itu menjawab
"ya" dengan mantap untuk kedua pertanyaan Bunda Maria tersebut.
Bagaimana dengan kita?
Selasa, 09 Mei 2017
Keadilan Allah
"Apabila Aku menetapkan waktunya,
Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran.
(Mazmur 75:2)
Kami menanti keadilanMu, ya Tuhan, yang jauh melampaui keadilan manusia
Sabtu, 22 April 2017
Rabu, 19 April 2017
Menderita-Mati-Bangkit
Tiada kebangkitan tanpa kematian,
Tiada kematian tanpa penderitaan,
Perlu menderita dan mati, sebelum bangkit.
Tiada kematian tanpa penderitaan,
Perlu menderita dan mati, sebelum bangkit.
Jumat, 14 April 2017
Duka ke-7: Bunda Maria Mengantar Yesus ke Makam
Salah
satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka
Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan
Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini
merupakan refleksi pribadi.
Duka Ketujuh: Bunda Maria Mengantar Yesus ke Makam
..... Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ. (Yohanes 19:41-42)
*******
..... Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ. (Yohanes 19:41-42)
***
Meskipun telah mendengar Anaknya mengatakan Ia akan mati, dikubur, dan bangkit pada hari ketiga; ibu manakah yang tidak akan berurai air mata ketika mengantar anaknya ke makam?
Bunda Maria mengikuti prosesi pemakaman Putranya dalam diam, sambil merenungkan pesan Yesus tentang kebangkitanNya. Bunda Maria percaya itu akan terjadi, tetapi ia pun menyadari kelak relasinya dengan Sang Putra tercinta tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Relasi yang tidak kasat mata, melainkan kesatuan dalam Roh.
***
Mengantar kepergian selamanya dari orang-orang yang kita kenal, apalagi orang-orang yang kita cintai, selalu membawa kepedihan. Hal yang paling mendukakan ialah sejak saat itu kita tidak dapat lagi memandang dan menyentuhnya secara fisik.
Bunda Maria pun pernah mengalami duka itu, ketika ia berpisah secara fisik dengan Yesus. Namun, kita dapat belajar dari Bunda Maria, menyadari kefanaan relasi fisik dan mengubahnya menjadi kesatuan dalam Roh, lewat doa-doa yang kita panjatkan untuk orang-orang tercinta di Rumah Bapa.
Jumat, 07 April 2017
Duka ke-6: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat
Salah
satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka
Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan
Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini
merupakan refleksi pribadi.
Duka Keenam: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat
..... Sesudah itu, Yusuf dari Arimatea - ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi - meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. (Yohanes 19:38)
Setelah Yesus wafat di kayu salib, betapa pilu hati Bunda Maria melihat seorang serdadu menusuk lambung Putranya. Kemudian, jasad Yesus diturunkan dari salib. Bunda Maria diberi kesempatan memangku jenazah Putra tercintanya.
Inilah puncak penderitaan seorang ibu: menghadapi kenyataan anak yang dilahirkannya pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Bunda Maria kini harus melepaskan seluruh ikatan lahiriah dengan Putranya yang telah hidup bersamanya selama 30 tahun.
*******
..... Sesudah itu, Yusuf dari Arimatea - ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi - meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. (Yohanes 19:38)
***
Setelah Yesus wafat di kayu salib, betapa pilu hati Bunda Maria melihat seorang serdadu menusuk lambung Putranya. Kemudian, jasad Yesus diturunkan dari salib. Bunda Maria diberi kesempatan memangku jenazah Putra tercintanya.
Inilah puncak penderitaan seorang ibu: menghadapi kenyataan anak yang dilahirkannya pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Bunda Maria kini harus melepaskan seluruh ikatan lahiriah dengan Putranya yang telah hidup bersamanya selama 30 tahun.
***
Kematian adalah bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita menyikapinya, ketika kematian merenggut orang-orang yang kita kasihi? Apakah kita marah berkepanjangan sampai tidak mau lagi berbakti kepada Sang Pencipta, karena telah mengambil nyawa orang yang dekat dengan kita?
Kepedihan manusiawi tak dapat sirna, ketika sosok yang kita cintai lenyap dari pandangan dan sentuhan. Namun, belajar dari Bunda Maria, kita dapat berkata dalam duka: Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMu, ya Tuhan.