Hati yang tak bernoda adalah hati yang suci dan murni. Sekudus apa pun para Santo dan Santa, hati mereka tidak sepenuhnya suci dan murni. Sebab, tak ada seorang manusia pun yang memiliki hati yang tak bernoda, kecuali Bunda Maria. Mengapa demikian?
Bunda Maria sejak awal telah dipilih untuk menjadi Bunda Putra Allah yang akan menjelma menjadi Manusia. Tak sulit untuk memahami dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dengan memakai analogi sangat sederhana ini: ketika masakan siap disajikan, bukankah kita akan menempatkannya pada wadah yang bersih?
Putra Allah yang Mahakudus membutuhkan tempat bernaung jasmaniah yang kudus pula, ketika Ia akan menjelma menjadi Manusia. Allah Bapa menyiapkan segalanya dengan sempurna jauh-jauh hari. Untuk itu, Allah Bapa telah menguduskan Santa Perawan Maria sejak ia dikandung ibunya. Selanjutnya, dengan dikandung tanpa noda, dalam kehidupan di dunia ini Santa Perawan Maria pun memiliki hati yang tak bernoda.
Kita memang tidak dapat memiliki hati yang tak bernoda seratus persen, tetapi dengan menyerahkan diri kita kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, kita akan hidup bersama Bunda Maria dan diubah dari dalam oleh Bunda Maria sendiri; sehingga semakin hari hidup kita semakin menyerupai Bunda Maria.
Kamis, 08 Desember 2016
Selasa, 29 November 2016
Mata yang Melihat
Mata siapakah yang dimaksud Yesus Kristus, ketika Ia mengatakan, "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat" dalam Injil Lukas 10:23b?
Mata yang melihat apa yang dilihat murid-murid Yesus waktu itu adalah mata kita semua, para pengikutNya di masa sekarang. Mata yang dapat melihat pernyataan Anak tentang BapaNya. Mata orang kecil yang dapat mengerti dan meyakini bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa, Tuhan langit dan bumi.
Mata yang melihat adalah mata iman di dalam hati setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Mata yang melihat apa yang dilihat murid-murid Yesus waktu itu adalah mata kita semua, para pengikutNya di masa sekarang. Mata yang dapat melihat pernyataan Anak tentang BapaNya. Mata orang kecil yang dapat mengerti dan meyakini bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa, Tuhan langit dan bumi.
Mata yang melihat adalah mata iman di dalam hati setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Minggu, 20 November 2016
Pintu Suci - Pintu Hati
Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. (Mazmur 118:19-20)
Pintu Suci (Porta Sancta) di Vatikan dibuka Paus Fransiskus pada 8 Desember 2015. "Saya bersukacita membuka Pintu Suci pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pintu Suci akan menjadi sebuah pintu kerahiman. Siapapun yang masuk, akan mengalami kasih Allah yang menghibur, mengampuni, dan menanamkan harapan." (Dikutip dari Bulla Paus Fransiskus tentang Misericordiae Vultus - Wajah Kerahiman)
Sepanjang Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah (8 Desember 2015 - 20 November 2016) umat Katolik seluruh dunia diajak semakin memahami dan meyakini Kerahiman Allah, sehingga dapat mengalami pertobatan pribadi; kemudian mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan nyata, dengan semakin berbelas kasih kepada sesama.
Hari ini, Pintu Suci yang kasat mata sudah ditutup, namun tidak demikian dengan pintu hati kita. Justru setelah mengalami penebusan dan pemurnian di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, pintu hati kita sekarang menjadi terbuka dan kita mulai melangkah dalam perjalanan rohani yang baru.
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu. Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu. Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu. (Yesaya 60:1, 11, 17b, 19)
Pintu Suci (Porta Sancta) di Vatikan dibuka Paus Fransiskus pada 8 Desember 2015. "Saya bersukacita membuka Pintu Suci pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pintu Suci akan menjadi sebuah pintu kerahiman. Siapapun yang masuk, akan mengalami kasih Allah yang menghibur, mengampuni, dan menanamkan harapan." (Dikutip dari Bulla Paus Fransiskus tentang Misericordiae Vultus - Wajah Kerahiman)
Sepanjang Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah (8 Desember 2015 - 20 November 2016) umat Katolik seluruh dunia diajak semakin memahami dan meyakini Kerahiman Allah, sehingga dapat mengalami pertobatan pribadi; kemudian mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan nyata, dengan semakin berbelas kasih kepada sesama.
Hari ini, Pintu Suci yang kasat mata sudah ditutup, namun tidak demikian dengan pintu hati kita. Justru setelah mengalami penebusan dan pemurnian di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, pintu hati kita sekarang menjadi terbuka dan kita mulai melangkah dalam perjalanan rohani yang baru.
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu. Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu. Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu. (Yesaya 60:1, 11, 17b, 19)
Rabu, 09 November 2016
Ekaristi Melenyapkan Masalah?
Seorang teman datang dengan wajah kusut. Ia bertutur, ketika akan ke gereja untuk mengikuti misa harian, seorang tetangganya berujar, "Kamu rajin ikut misa tiap pagi, tetapi kenapa hidupmu tetap banyak masalah?" Teman ini menjadi galau dan mempertanyakan: apakah Ekaristi dapat melenyapkan masalah?
Kita perlu memurnikan tujuan kita menghadiri perayaan Ekaristi harian. Apakah kita datang ke misa seperti seorang janda yang mendatangi seorang hakim terus-menerus untuk membela perkaranya? Ataukah kita datang ke misa untuk menyatakan kerapuhan kita sebagai orang berdosa yang tak berdaya tanpa Tuhan?
Di dalam perayaan Ekaristi kita mengenang kembali pemberian diri Tuhan Yesus secara total kepada umat manusia. KeagunganNya, kebesaran CintaNya, kepedulianNya tampak nyata dalam Hosti Kudus. Melalui perayaan Ekaristi, kita sebagai anak-anakNya dapat mengalami kedekatan dengan Kristus, serta menimba kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Bukan otomatis karena mengikuti misa harian, maka hidup akan tenteram tanpa masalah. Tetapi setelah mengikuti perayaan Ekaristi, hati kita akan tetap tenang dan damai meskipun didera berbagai masalah. Ekaristi menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan harapan.
Kita perlu memurnikan tujuan kita menghadiri perayaan Ekaristi harian. Apakah kita datang ke misa seperti seorang janda yang mendatangi seorang hakim terus-menerus untuk membela perkaranya? Ataukah kita datang ke misa untuk menyatakan kerapuhan kita sebagai orang berdosa yang tak berdaya tanpa Tuhan?
Di dalam perayaan Ekaristi kita mengenang kembali pemberian diri Tuhan Yesus secara total kepada umat manusia. KeagunganNya, kebesaran CintaNya, kepedulianNya tampak nyata dalam Hosti Kudus. Melalui perayaan Ekaristi, kita sebagai anak-anakNya dapat mengalami kedekatan dengan Kristus, serta menimba kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Bukan otomatis karena mengikuti misa harian, maka hidup akan tenteram tanpa masalah. Tetapi setelah mengikuti perayaan Ekaristi, hati kita akan tetap tenang dan damai meskipun didera berbagai masalah. Ekaristi menjadi sumber kekuatan, penghiburan, dan harapan.
Jumat, 04 November 2016
Rosario Merah Putih
Rosario Merah Putih yang diresmikan penggunaannya oleh Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, pada awal Bulan Maria 1 Mei 2016, dimaksudkan sebagai salah satu wujud nyata gerakan "Amalkan Pancasila" sesuai Arah Dasar (Ardas) KAJ 2016-2020.
Bukan suatu kebetulan, melainkan karya Roh Kudus yang menggerakkan Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di Jakarta, untuk mengedepankan doa Rosario Merah Putih di tengah tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dihadapi.
Mari kita terus berdoa bersama Bunda Maria yang pasti akan menolong kita untuk:
- Kebahagiaan kekal jiwa-jiwa para pahlawan bangsa
- Keutuhan alam Indonesia yang kaya dan subur
- Persatuan Indonesia
- Kebijaksanaan para pemimpin bangsa
- Upaya-upaya mewujudkan keadilan sosial
Bukan suatu kebetulan, melainkan karya Roh Kudus yang menggerakkan Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di Jakarta, untuk mengedepankan doa Rosario Merah Putih di tengah tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dihadapi.
Mari kita terus berdoa bersama Bunda Maria yang pasti akan menolong kita untuk:
- Kebahagiaan kekal jiwa-jiwa para pahlawan bangsa
- Keutuhan alam Indonesia yang kaya dan subur
- Persatuan Indonesia
- Kebijaksanaan para pemimpin bangsa
- Upaya-upaya mewujudkan keadilan sosial
Sabtu, 15 Oktober 2016
Tanaman yang Indah
Bagi yang suka berkebun, apa yang Anda lakukan jika melihat tanaman Anda tumbuh subur, menampilkan keindahan, dan menyenangkan hati? Anda tentu akan semakin menyayanginya, memerhatikannya dengan memberi pupuk dan menyingkirkan tanaman liar yang tumbuh di sekitarnya.
Pengalaman berkebun ini memberi pemahaman akan perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah dalam Injil Lukas 13:6-9. Betapa Sang Pencipta sebenarnya ingin melihat keindahan ciptaanNya.
Lalu, apakah kita sebagai ciptaanNya telah dan terus menampilkan keindahan kita bagai tanaman yang tumbuh subur di kebun Tuhan?
Untuk dapat menjadi tanaman yang indah dan menghasilkan buah, kita perlu senantiasa berpijak di jalan yang lurus serta berpegang pada FirmanNya, seperti yang disampaikan pemazmur: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)
Pengalaman berkebun ini memberi pemahaman akan perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah dalam Injil Lukas 13:6-9. Betapa Sang Pencipta sebenarnya ingin melihat keindahan ciptaanNya.
Lalu, apakah kita sebagai ciptaanNya telah dan terus menampilkan keindahan kita bagai tanaman yang tumbuh subur di kebun Tuhan?
Untuk dapat menjadi tanaman yang indah dan menghasilkan buah, kita perlu senantiasa berpijak di jalan yang lurus serta berpegang pada FirmanNya, seperti yang disampaikan pemazmur: Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3)
Jumat, 07 Oktober 2016
Sukacita Jumat Pertama
Nuansa yang merebak setiap kali kita melakukan devosi kepada Hati Mahakudus Yesus adalah sendu berbalut duka. Litani Hati Mahakudus Yesus dan doa Silih kepada Hati Mahakudus Yesus mengungkapkan suasana hati orang berdosa yang memohon belas kasih Allah.
Adakah kita menyadari, sebenarnya perayaan Hati Mahakudus Yesus adalah perayaan penuh syukur dan sukacita? Tuhan Yesus Kristus telah memberikan Hati IlahiNya. Pemberian Hati yang penuh Cinta adalah hadiah terbesar bagi umat manusia. Bersyukurlah dan bergembiralah, karena Tuhan Sang Pencipta begitu baik dan penuh kasih kepada ciptaanNya.
Adakah kita menyadari, sebenarnya perayaan Hati Mahakudus Yesus adalah perayaan penuh syukur dan sukacita? Tuhan Yesus Kristus telah memberikan Hati IlahiNya. Pemberian Hati yang penuh Cinta adalah hadiah terbesar bagi umat manusia. Bersyukurlah dan bergembiralah, karena Tuhan Sang Pencipta begitu baik dan penuh kasih kepada ciptaanNya.

