Senin, 19 Januari 2015

Wi-Fi

Kehadiran teknologi wi-fi memudahkan orang terkoneksi dengan internet di mana pun dan kapan pun. Jika menginap di hotel atau berada di tempat umum, kita akan merasa senang dan tenang kalau ada koneksi wi-fi. Senang karena kita bisa menggunakan internet sesuka hati, tenang karena kalau membutuhkan informasi apa pun, koneksi tersedia.Wi-fi singkatan wireless fidelity - kesetiaan nirkabel. Jaringan internet yang setia menyertai kita.

Kehadiran Tuhan dalam hidup manusia bisa dianalogikan seperti teknologi wi-fi. IA melingkupi seluruh kehidupan kita. Seperti dikatakan Pemazmur, "Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku." (Mazmur 139:5)

Masalahnya: apakah kita merasa senang dan tenang kalau terkoneksi dengan Tuhan? Senang karena kita bisa berbincang denganNya di mana pun dan kapan pun. Tenang karena kita bisa mengandalkanNya dalam situasi apa pun.

Kesetiaan Tuhan jauh melampaui kesetiaan nirkabel. Kasih setiaNya tetap bagi orang-orang yang percaya kepadaNya. Koneksi kita dengan wi-fi bisa terputus atau tidak mulus karena satu dan lain sebab, namun koneksi kita dengan Tuhan tetap langgeng; bahkan sekali pun kita berdosa, Tuhan tetap mengasihi kita dan mengharapkan kita kembali kepadaNya.

Setiap kali kita menggunakan wi-fi, ingatlah selalu akan satu Pribadi yang luar biasa, yang melingkupi kita bagai teknologi wi-fi. Tidak kasat mata, tetapi nyata ada.

Kamis, 15 Januari 2015

Setelah Menjawab: Ya

Setelah Abraham menyatakan kesediaannya berpindah dari tanah asalnya ke tempat yang akan ditunjukkan Allah,
Setelah Musa menyanggupi tugas yang dipercayakan Allah kepadanya untuk menghantar umat Israel ke tanah Kanaan,
Setelah nabi Yehezkiel melihat kemuliaan Tuhan dan Tuhan berbicara kepadanya untuk bernubuat kepada bangsa Israel,
Setelah Bunda Maria mengatakan, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu..."

Tak selalu semua tampak jelas,
Ada kalanya jalan berkabut, tak tentu kaki melangkah,
Padang gurun membentang, membangkitkan rasa takut menempuhnya,
Tugas beraneka macam, menimbulkan tanda tanya,
Kesulitan demi kesulitan dijumpai, menyurutkan rasa percaya....

"Jika orang ingin tahu pasti jalan yang dilaluinya, ia harus menutup matanya dan berjalan dalam kegelapan," kata St. Yohanes dari Salib.

Butuh keberanian untuk berani melepas segalanya,
membiarkan diri sepenuhnya dituntun Roh Allah,
tidak perlu mempersoalkan kejelasan jalan yang ditempuh,
yakin pada akhirnya tujuan tercapai....


Rabu, 31 Desember 2014

Memahkotai Tahun

Apa pun yang telah aku alami,
apa pun yang bakal aku alami,
aku mau senantiasa mengucap syukur kepadaMu,
karena aku tahu di balik semua peristiwa,
Engkau selalu memahkotai tahun 
dengan kebaikanMu 
(lihat Mazmur 65:11a)

Kamis, 25 Desember 2014

Tak Perlu Mencari Penginapan Lagi

Di tengah malam gelap dan sunyi,
ketika penduduk kota Betlehem telah terlelap,
AyahMu mencari penginapan,
IbuMu menahan sakit menjelang persalinan.

Beberapa rumah menolak menerima,
tak ada ruang tersisa untuk Ayah dan IbuMu,
apalagi ditambah Seorang Bayi yang akan lahir,
mereka tak mau terusik di tengah kenyamanan.

Menjelang perayaan hari lahirMu,
rumah kami telah selesai dibangun,
Ayah dan IbuMu tak perlu mencari penginapan lagi,
tinggallah seterusnya di sini.

Inilah rumah yang akan menjadi RumahMu,
tempat Ayah dan IbuMu membesarkanMu,
kami siap menjadi pelayan-pelayanMu,
senantiasa bersamaMu di bawah satu atap.

Kamis, 18 Desember 2014

Semarak Menyambut KelahiranMu

Hari-hari ini, ketika berjalan dalam mal-mal anyar, kita dapat merasakan begitu semarak aneka hiasan dan lagu-lagu yang dikumandangkan untuk menyambut perayaan Natal. Hati kita dipenuhi rasa sukacita menikmati kesemarakan itu.

Semoga, hati setiap orang juga memiliki semarak yang sama, karena menerima kehadiran Sang Bayi Mungil nan suci dalam hidup mereka. Jika ini terjadi, maka kemilau indah aneka hiasan dan kidung gembira yang digemakan di pusat-pusat perbelanjaan akan semakin memberi makna, bukan sekadar ritual perayaan tahunan.

Minggu, 07 Desember 2014

Lega....

Tenangkanlah hatimu, 
perhambaanmu sudah berakhir, 
kesalahanmu telah diampuni,
sebab engkau telah menerima hukuman 
dari tangan Tuhan dua kali lipat
karena segala dosamu.

(lihat Yesaya 40:2, bacaan pertama dalam Perayaan Ekaristi di minggu Adven ke-2) 

Jumat, 05 Desember 2014

Teringat Dosa Lama

Masa Adven - penantian akan kedatanganMu. Ajakan untuk bertobat menggema - menyucikan hati, agar pantas menerima kehadiran Engkau, Sang Juru Selamat.

Merefleksikan perjalanan hidup untuk menggali dosa-dosa yang masih tersisa dan perlu diakui, membuatku teringat akan dosa lama. Tiga dosa besar itu telah aku akui dalam Sakramen Rekonsiliasi hampir lima tahun silam, menjelang Natal seperti sekarang.

Engkau telah mengampuniku, menebusku dengan Darah suciMu. Sejauh timur dari barat, Engkau menjauhkan aku dari pelanggaranku. (lihat Mazmur 103:12)

Semestinya semua sudah selesai. Namun, ingatan akan dosa lama itu dimanfaatkan si jahat untuk merenggangkan relasiku denganMu. Aku jadi merasa tak pantas berada dalam hadiratMu. Aku menarik diri, melangkah mundur dari hadapanMu. Aku enggan menyapaMu, apalagi berbincang secara pribadi denganMu. Rasanya malu, tak layak.

Sesaat terasa hampa. Ah... di pojok sana si jahat menyeringai.
Bertepuk tangan penuh kemenangan. 

Hei, apa yang terjadi denganku?

Dengan sikapku seperti ini, bukankah berarti....
aku meragukan pengampunanMu,
aku menolak kerahimanMu,
aku menghancurkan kedekatan relasi yang telah terbangun di antara kita.

Ampuni, aku, ya Yesus.
Engkau adalah Gembala yang rela meninggalkan 99 ekor domba
hanya untuk mencari seekor domba yang hilang.
Engkau adalah Ayah yang selalu mengasihi,
meskipun si anak telah menghamburkan harta warisan.

Aku kembali kepadaMu, apa adanya.