Jumat, 26 September 2014

Perempuan-Perempuan yang MelayaniMu

Pepatah mengatakan, di balik kehebatan seorang laki-laki, tentu ada perempuan yang berperan. Agaknya kebenaran pepatah tersebut telah terbukti dari zaman ke zaman, bahkan semasa Yesus Kristus hidup di dunia.

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. (Lukas 8:1-3)

Hanya Injil Lukas yang menyinggung tentang keberadaan banyak perempuan dalam rombongan Yesus. Perempuan-perempuan itu mengikuti Yesus terus, setelah mereka disembuhkan dari roh jahat atau berbagai penyakit. Perempuan-perempuan itu melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka. 

Jika hanya sekadar telah disembuhkan dari penyakit atau dikeluarkan roh jahat dari dalam diri mereka, belum tentu perempuan-perempuan tersebut mau mengikuti Yesus terus. Tentu ada pesona tersendiri pada diri Yesus, yang membuat mereka tak bisa lepas dari Yesus.

Ketertarikan fisik, keunggulan Yesus merangkai kata-kata dalam pengajaran dan pembicaraan, kebaikan dan kemurahan hati Yesus,atau daya Ilahi yang terpancar dari Yesus - yang telah membuat perempuan-perempuan itu tak bergeming dari hadapan Yesus?  

Santo Lukas tidak merinci lebih jauh bagaimana sikap perempuan-perempuan itu saat berada dalam rombongan Yesus. Apakah di antara mereka ada kecemburuan satu sama lain karena ingin dirinya yang paling dekat dengan Yesus? Adakah intrik-intrik di antara mereka untuk bisa tampil semenarik mungkin, berupaya dengan berbagai cara untuk mengambil hati Yesus?

Bisa saja itu terjadi, kita tidak tahu. Tetapi dengan caraNya sendiri, Yesus tentu akan membawa mereka ke relasi yang lebih indah dan lebih jauh dari sekadar relasi manusiawi. Seiring berjalannya waktu, perempuan-perempuan itu akhirnya paham maksud dan makna sejati dari mengikuti Yesus.  

Persahabatan murni di antara dua manusia berjenis kelamin berbeda dapat terjadi, bila masing-masing pihak menyadari posisinya tanpa berusaha menguasai pihak lainnya. Kesadaran ini membuat kedua pihak dapat mengembangkan diri secara positif, bebas dari belenggu relasi duniawi, dan menghantar pada kekudusan kedua pihak.

Persahabatan di antara orang-orang kudus seperti St. Fransiskus Assisi dengan St. Clara Assisi, St. Teresa Avila dengan St. Yohanes Salib, St. Fransiskus de Sales dengan St. Frances de Chantal - merupakan contoh betapa relasi di antara mereka mendorong pada kekudusan satu sama lain.

Bagaimana dengan relasi antara para imam dengan umatnya? Apakah umat secara positif menyokong karya dan pelayanan imam-imam? Atau sebaliknya, umat - dalam hal ini kaum perempuan - malah lebih suka menggoda para imam, menarik mereka ke relasi duniawi ketimbang saling mendoakan dan bersama-sama berkembang menjadi orang-orang kudus?

.... tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1 Petrus 1:15-16)

Minggu, 21 September 2014

Penghargaan yang Sama

Melalui perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Matius 20:1-16), Engkau menggambarkan dengan jelas kemurahan hatiMu kepada semua pekerjaMu. Pekerja yang bekerja dari pagi di kebun anggurMu mendapat upah yang sama dengan pekerja yang baru mulai bekerja menjelang tengah hari dan petang. Bahkan Engkau membayarkan upah lebih dulu kepada pekerja yang masuk paling akhir.

"Terlambat aku mencintaiMu. Aku mencariMu di luar, padahal Engkau ada di dalam," kata Santo Agustinus. Ia bertobat dan dibaptis pada usia 33 tahun. Meski sudah terlambat dalam pandangannya, Agustinus masih diberi kesempatan mewartakan Kristus yang diimaninya selama 43 tahun lagi.

Berapa lama waktu yang Engkau berikan kepadaku, setelah aku menyerahkan diriku secara total kepadaMu? Terkadang aku merasa berkejaran dengan waktu. Aku ingin berbuat banyak untukMu, selagi aku masih berada di dunia ini.

Aku mengimani, semua dosaku telah Engkau ampuni melalui penebusanMu di Kayu Salib. Aku merasakan, betapa besar KasihMu kepadaku. Aku adalah orang yang berbahagia, karena itu aku ingin orang-orang lain mengalami kebahagiaan yang sama seperti yang aku rasakan. Keinginan tersebut membuatku sibuk merancang dan berbuat ini-itu, padahal mungkin bukan demikian yang Engkau inginkan dariku.

Aku terdiam, berhenti melangkah. Membiarkan Engkau mengarahkanku, menghantarku pada hal-hal yang memang perlu aku kerjakan menurutMu. Ternyata, kuk yang Kau pasang enak dan bebanku ringan. Aku hanya perlu mengosongkan diri, memberi ruang kepadaMu untuk bergerak di dalam aku.

Karyawan lama - karyawan baru, tidak masalah di mataMu. Engkau yang merekrut, Engkau tentu tahu job description kami masing-masing. Sekarang aku tak terlalu memusingkannya, biarlah Engkau sebagai CEO Kehidupan yang mengaturnya.

Bersama Santa Teresa Avila, aku mendaraskan doa ini: Perolehlah kembali waktu yang terbuang itu, ya Tuhan, dengan memberi aku rahmat sekarang dan di masa mendatang, supaya aku dapat menghadap Engkau, ya Tuhan, dengan berpakaian pengantin; sebab bila Kau kehendaki, Engkau dapat melakukannya. Amin.

Selasa, 09 September 2014

Pandangan yang Terhalang

Di tengah perjalanan, aku minta izin kepadaMu untuk sejenak menikmati pemandangan. Seperti biasa dan selalu, Engkau memberi kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih.

Pemandangan itu begitu indah dan menyenangkan, aku ingin tinggal lebih lama di sana. Tetapi, karena aku hanya minta izin sebentar, aku harus segera kembali berjalan bersamaMu.

Aku masih menengok ke belakang, berusaha tetap mempertahankan pemandangan itu, sementara kita telah mulai melangkah lagi melanjutkan perjalanan.

Aku masih membayangkan keindahan pemandangan tadi. Akibatnya, pandanganku jadi terhalang. Aku tidak bisa melihat jalan yang akan kita lalui dengan jelas.

Betapa pun, perhentian sejenak itu mengesankan, walau kini telah menjadi bagian dari masa lalu. Sekali lagi aku ingat perkataanMu: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62)

Ah, maafkan aku yang masih keduniawian ini. Mari kita lanjutkan perjalanan kita.

Senin, 01 September 2014

Menyiapkan Tanah

KataMu, "Tanah harus disiapkan, sebelum benih ditabur." 
Engkau lalu memberiku tugas menyiapkan tanah itu, sementara tugasMu adalah menabur benih berkat ke tanah yang telah disiapkan.
Engkau juga memintaku meluangkan lebih banyak waktu untuk menyiapkan tanah itu. Doa akan membuat tanah menjadi subur. Banyak hal harus dikerjakan dalam menyiapkan tanah itu.
"Kita mengerjakannya bersama-sama dan bersuka cita saat menuai hasilnya," janjiMu.

(God Calling - renungan tanggal 2 Agustus)

Senin, 18 Agustus 2014

Kemerdekaan Sejati dalam Kristus

"Tuhan, jadikan kami orang yang benar-benar merdeka," demikian tanggapan atas Doa Umat yang didaraskan dalam Perayaan Ekaristi kemarin.

Tuhan adalah Roh, di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan, kata rasul Paulus dalam 2 Korintus 3:17. Maka, orang yang benar-benar merdeka adalah:

- Hidup dalam Roh Kristus yang telah memerdekakannya dari hukum dosa dan hukum maut. (Roma 8:2)
- Berdiri teguh dan tidak mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)
- Tidak menggunakan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa. (Galatia 5:13a)
- Melayani satu sama lain karena kasih. (Galatia 5:13b)


... dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)

*Terima kasih, Yesus Kristus - Pembebas roh, jiwa, dan tubuhku
atas pengalaman seminggu di Padang Gurun bersamaMu (10-17 Agustus 2014)

Jumat, 15 Agustus 2014

Diangkat ke Surga

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama ada dua orang yang tubuh dan jiwanya diangkat ke Surga, yaitu Henokh dan nabi Elia. Henokh adalah anak dari Kain. Dalam hidupnya ia bergaul dengan Allah, memiliki relasi dekat dengan Allah, sehingga suatu saat ia tidak ada lagi karena telah diangkat oleh Allah. (lihat Kejadian 5:24) Nabi Elia diangkat ke Surga dengan kereta berapi dan kuda berapi dalam angin badai. (lihat 2 Raja-Raja 2:11) Kedua orang itu diangkat Allah ke Surga, berbeda dengan  Tuhan Yesus yang naik ke Surga bukan diangkat, melainkan dengan kekuatanNya sendiri.

Selama berabad-abad umat Katolik meyakini Bunda Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke Surga, karena peran pentingnya dalam kehidupan Yesus. Pada 1 November 1950 Paus Pius X mengeluarkan dogma yang mengukuhkan tentang pengangkatan tubuh dan jiwa Bunda Maria ke Surga. 

Jika Henokh dan nabi Elia yang bergaul akrab dengan Allah mendapat hak istimewa diangkat tubuh dan jiwa mereka ke Surga, terlebih lagi Maria. Sejak masih kanak-kanak, Maria telah bergaul akrab dengan Allah. Magnificat atau Kidung Maria dalam Lukas 1:46-55 yang secara spontan terlontar dari mulut Maria menjadi tanda kedekatan Maria dengan Allah.

Kesediaan Maria untuk taat penuh pada kehendak Allah merupakan bukti iman Maria yang mendalam kepada Tuhannya. Maria selalu setia mendampingi Putranya, Yesus, sejak saat Ia lahir ke dunia sampai wafat di kayu salib. Setelah Yesus naik ke Surga, Maria masih meneruskan misi yang diterimanya dari Allah, yakni mendampingi para rasul dalam menanti dan menerima Roh Kudus, serta mewartakan Kabar Sukacita.

Bunda Maria diangkat ke Surga -kiranya bukan sekadar dogma, melainkan keyakinan dan kenyataan. 

Sabtu, 09 Agustus 2014

Hati yang Murni

Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. (Mazmur 51:12)

Refren Mazmur Tanggapan dua hari yang lalu menggugahku. Hati yang murni..... itulah yang menjadi dambaanku sejak enam tahun silam. Saat itu lewat pengalaman doa sehari-hari, aku merasa doa-doaku dijawab Tuhan, jika aku menyampaikannya dengan hati yang murni, tanpa tergores sedikit pun oleh noda apalagi dosa. Bukan hanya jawaban atas doa-doa. Hati yang murni membuatku mampu menjalani hari-hariku dengan sukacita dan damai, memandang segalanya dengan tulus.  

Namun, ketika itu - enam tahun silam - hati yang murni masih menjadi kerinduan utamaku. Aku baru mengalaminya sesekali, bukan sesuatu yang ada dalam diriku. Aku masih meraba-raba, bagaimana cara memperoleh hati yang murni?

Dengan caraNya, Tuhan Yesus menghantarku pada pemahaman dan pengalaman itu secara bertahap. Perkenalanku dengan meditasi, pemurnianku dari segala dosa masa lampau, pendekatanku kepada Tuhan melalui pembacaan Alkitab setiap hari dan doa-doa rutin harian, serta belakangan ini kehadiran dalam perayaan Ekaristi sesering mungkin kalau bisa setiap hari - semuanya mengasah hati untuk semakin menuju pada kemurniannya.

Kehidupan memiliki dinamikanya tersendiri. Kita mengalami peristiwa-peristiwa dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari. Kemurnian hati bukan suatu kondisi yang permanen, melainkan ikut bergerak bersama dinamika kehidupan. Melalui berbagai peristiwa dan pengalaman dengan orang lain, kemurnian hati kita diuji. Di sinilah tantangannya.

Dalam 1 Timotius 1:19, rasul Paulus mengatakan tentang beberapa orang yang telah menolak hati nuraninya yang murni, sehingga iman mereka kandas. Kita perlu terus memurnikan hati kita, agar kita semakin serupa dengan gambaran Allah - karena kita diciptakan Allah secara murni pada mulanya.  

Bersama rasul Paulus,  mari kita katakan, "Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." (Kisah Para Rasul 24:16)