Hanya Engkaulah yang berhak memerintahkan para malaikat untuk mencabuti lalang di ladang dunia. Sementara tugasku adalah mencabuti lalang, begitu ia mulai bertumbuh dalam ladang hatiku. Aku tak ingin lalang itu meninggi, sehingga Engkau tidak dapat memanen gandum kelak dari ladang hatiku.
Minggu, 20 Juli 2014
Sabtu, 19 Juli 2014
Pelajaran dari Selembar Uang
Kemarin sore aku naik angkutan umum. Aku menyodorkan selembar uang Rp 20.000 yang masih mulus. Di antara uang kembalian yang diberikan sopir, ada selembar uang Rp 1.000 yang kehitaman, dekil, robek di beberapa tepinya, serta semplak di ujung kiri atasnya.
Aku sangat kecewa. Aku menggerutu. Mengapa aku telah berbaik hati memberikan sopir itu uang yang bagus, tetapi ia mengembalikan dengan uang yang butut?
Aku begitu kesal dengan uang lusuh itu, sampai aku menyelipkannya di pagar stasiun kereta, membiarkan orang lain menemukan dan mengambilnya.
Dalam perjalanan di kereta, aku merenungkan kejadian tersebut. Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepadaku lewat peristiwa yang tidak menyenangkan itu?
Aku diingatkan kembali akan sebuah renungan harian yang aku baca dalam buku God Calling. Tuhan sedang membentuk karakter pribadiku. Aku hendaknya belajar untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain setelah aku melakukan suatu perbuatan baik.
Lewat pengalaman tersebut, aku diajarNya untuk rendah hati dan berdoa bagi orang yang telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan ini. "Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan," kataMu dalam Matius 18:7.
Setelah mendapat pemahaman itu, aku malah menyesal telah membuang uang lusuh tersebut. Seandainya uang itu masih ada padaku, aku akan membingkainya dan memajangnya sebagai pengingat - selalu rendah hati serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain.
Aku sangat kecewa. Aku menggerutu. Mengapa aku telah berbaik hati memberikan sopir itu uang yang bagus, tetapi ia mengembalikan dengan uang yang butut?
Aku begitu kesal dengan uang lusuh itu, sampai aku menyelipkannya di pagar stasiun kereta, membiarkan orang lain menemukan dan mengambilnya.
Dalam perjalanan di kereta, aku merenungkan kejadian tersebut. Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepadaku lewat peristiwa yang tidak menyenangkan itu?
Aku diingatkan kembali akan sebuah renungan harian yang aku baca dalam buku God Calling. Tuhan sedang membentuk karakter pribadiku. Aku hendaknya belajar untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain setelah aku melakukan suatu perbuatan baik.
Lewat pengalaman tersebut, aku diajarNya untuk rendah hati dan berdoa bagi orang yang telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan ini. "Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan," kataMu dalam Matius 18:7.
Setelah mendapat pemahaman itu, aku malah menyesal telah membuang uang lusuh tersebut. Seandainya uang itu masih ada padaku, aku akan membingkainya dan memajangnya sebagai pengingat - selalu rendah hati serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain.
Rabu, 16 Juli 2014
Ilmu dan Iman
Sewaktu remaja, ia berkisah, sebagai putra altar ia bisa setiap hari mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja. Ia begitu percaya akan isi Kitab Suci. Kini di usianya yang ke-70 tahun, imannya menguap. Ia meragukan isi Kitab Suci, bahkan keberadaan Tuhan.
Baginya, bukti-bukti temuan ilmu pengetahuan menjadi kebenaran yang sahih, bukan isi Kitab Suci yang bagaikan cerita rekaan. Katanya, sekarang ia beriman secara rasional. Ia hanya sesekali ke Gereja, agama tidak lebih sebagai sarana untuk menenteramkan hati.
Apa yang dapat kukatakan kepada orang-orang seperti itu, yang bersikukuh dengan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran? Mata hati mereka tak lagi dapat memandangMu, telinga mereka tak lagi mampu mendengar bisikanMu. Pemaparanku tentang Engkau sama sekali tidak digubris. Semoga di penghujung hidup mereka kelak, mata hati mereka kembali terang, dan telinga mereka kembali dapat mendengar bisikan lembutMu.
Melintas dalam benakku, perkataanMu yang meneguhkan, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Matius 11:25)
Dalam pandanganMu, orang bijak dan orang pandai yang mengagungkan ilmu pengetahuan malah Kau anggap bukan apa-apa. Engkau justru memberitahu rahasia KerajaanMu kepada orang-orang kecil yang membuka hati seluas-luasnya kepadaMu.
Baginya, bukti-bukti temuan ilmu pengetahuan menjadi kebenaran yang sahih, bukan isi Kitab Suci yang bagaikan cerita rekaan. Katanya, sekarang ia beriman secara rasional. Ia hanya sesekali ke Gereja, agama tidak lebih sebagai sarana untuk menenteramkan hati.
Apa yang dapat kukatakan kepada orang-orang seperti itu, yang bersikukuh dengan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran? Mata hati mereka tak lagi dapat memandangMu, telinga mereka tak lagi mampu mendengar bisikanMu. Pemaparanku tentang Engkau sama sekali tidak digubris. Semoga di penghujung hidup mereka kelak, mata hati mereka kembali terang, dan telinga mereka kembali dapat mendengar bisikan lembutMu.
Melintas dalam benakku, perkataanMu yang meneguhkan, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Matius 11:25)
Dalam pandanganMu, orang bijak dan orang pandai yang mengagungkan ilmu pengetahuan malah Kau anggap bukan apa-apa. Engkau justru memberitahu rahasia KerajaanMu kepada orang-orang kecil yang membuka hati seluas-luasnya kepadaMu.
Kamis, 03 Juli 2014
Maha-Segalanya
Memandang dari udara - tebaran atap rumah-rumah yang berdesakan, membuat diriku merasa sangat kecil di mataMu.
Begitu banyak rumah, terlebih lagi banyak sekali orang yang tinggal di dalam rumah-rumah itu - tetapi Engkau dapat mengetahui dengan tepat, segala isi hati setiap orang di dunia.
Engkau Maha Segalanya, ya Tuhan Allah Tritunggal,
pikiranku tak sanggup menjangkau pikiranMu,
hanya jiwaku yang mampu mengagungkanMu dalam kekaguman total, dan rohku perlahan merayap mendekatiMu.
Begitu banyak rumah, terlebih lagi banyak sekali orang yang tinggal di dalam rumah-rumah itu - tetapi Engkau dapat mengetahui dengan tepat, segala isi hati setiap orang di dunia.
Engkau Maha Segalanya, ya Tuhan Allah Tritunggal,
pikiranku tak sanggup menjangkau pikiranMu,
hanya jiwaku yang mampu mengagungkanMu dalam kekaguman total, dan rohku perlahan merayap mendekatiMu.
Minggu, 29 Juni 2014
Kelemahan Manusia-Kesempurnaan KasihMu
Tiga kali rasulMu itu menyangkalMu, padahal sebelumnya ia begitu mantap mengatakan, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." (Matius 26:33)
Lalu, setelah Engkau bangkit dari mati, tiga kali Engkau meminta kepastian tentang kesungguhannya mengasihiMu. Ia menjadi sedih hati dan berkata, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." (Yohanes 21:17)
Kemudian, Engkau naik ke Surga. Dengan bimbingan Roh Kudus, rasulMu itu mewartakan Jalan Tuhan - Kabar SukacitaMu kepada orang-orang sebangsanya.
Setelah tiga tahun mengikutiMu secara langsung, setelah Engkau memberikan kunci Surga kepadanya, setelah Engkau memintanya menggembalakan domba-dombaMu, setelah ia dipenuhi Roh Kudus; bukan berarti ia menjadi manusia sempurna yang tak bercacat.
Dalam Galatia 2:11-14, rasul Paulus mengisahkan pertentangannya dengan rasul Petrus. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mau makan bersama saudara-saudara yang tidak bersunat; tetapi setelah beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut kepada saudara-saudara yang bersunat.
Ada pula legenda yang mengisahkan, rasul Petrus berusaha melarikan diri dari Roma yang membara karena penangkapan orang-orang beriman. Sampai di suatu jalan dalam pelariannya ia bertemu denganMu yang tengah memanggul salib. Petrus bertanya kepadaMu, "Mau ke mana, Engkau, Tuhan?" JawabMu," Aku mau pergi untuk disalibkan kembali." Petrus sadar, ia tak jadi melarikan diri. Di Roma, ia mati disalibkan dengan kepala di bawah - karena tidak ingin menyamai posisiMu di salib.
Kelemahan rasul Petrus yang utama adalah rasa takut. Namun, kelemahan itu tidak membuatMu mengalihkan kepercayaanMu darinya. Engkau tetap memilihnya sebagai yang utama dari antara ke-12 rasulMu - mendirikan jemaatMu di atas batu karang itu. (lihat Matius 16:18)
Kelemahan manusia bukan halangan bagiMu untuk tetap berkarya di tengah umat manusia saat ini. Kesempurnaan kasihMu akan melengkapi kelemahan manusia pilihanMu, sehingga ia dapat menghasilkan karya dahsyat yang melampaui segala yang dapat dipikirkan manusia.
Lalu, setelah Engkau bangkit dari mati, tiga kali Engkau meminta kepastian tentang kesungguhannya mengasihiMu. Ia menjadi sedih hati dan berkata, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." (Yohanes 21:17)
Kemudian, Engkau naik ke Surga. Dengan bimbingan Roh Kudus, rasulMu itu mewartakan Jalan Tuhan - Kabar SukacitaMu kepada orang-orang sebangsanya.
Setelah tiga tahun mengikutiMu secara langsung, setelah Engkau memberikan kunci Surga kepadanya, setelah Engkau memintanya menggembalakan domba-dombaMu, setelah ia dipenuhi Roh Kudus; bukan berarti ia menjadi manusia sempurna yang tak bercacat.
Dalam Galatia 2:11-14, rasul Paulus mengisahkan pertentangannya dengan rasul Petrus. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mau makan bersama saudara-saudara yang tidak bersunat; tetapi setelah beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut kepada saudara-saudara yang bersunat.
Ada pula legenda yang mengisahkan, rasul Petrus berusaha melarikan diri dari Roma yang membara karena penangkapan orang-orang beriman. Sampai di suatu jalan dalam pelariannya ia bertemu denganMu yang tengah memanggul salib. Petrus bertanya kepadaMu, "Mau ke mana, Engkau, Tuhan?" JawabMu," Aku mau pergi untuk disalibkan kembali." Petrus sadar, ia tak jadi melarikan diri. Di Roma, ia mati disalibkan dengan kepala di bawah - karena tidak ingin menyamai posisiMu di salib.
Kelemahan rasul Petrus yang utama adalah rasa takut. Namun, kelemahan itu tidak membuatMu mengalihkan kepercayaanMu darinya. Engkau tetap memilihnya sebagai yang utama dari antara ke-12 rasulMu - mendirikan jemaatMu di atas batu karang itu. (lihat Matius 16:18)
Kelemahan manusia bukan halangan bagiMu untuk tetap berkarya di tengah umat manusia saat ini. Kesempurnaan kasihMu akan melengkapi kelemahan manusia pilihanMu, sehingga ia dapat menghasilkan karya dahsyat yang melampaui segala yang dapat dipikirkan manusia.
Minggu, 08 Juni 2014
Berjalan BersamaMu
Berjalan bersamaMu adalah petualangan yang menakjubkan,
menyusuri jalan setapak tanpa memusingkan yang telah dilalui di belakang dan yang akan menghadang di depan.
Berjalan bersamaMu adalah penyerahan diri total berbalut sukacita, menaruh kepercayaan penuh tanpa meragukan jalan yang Kau pilih dan berapa lama jarak tempuhnya.
Berjalan bersamaMu adalah berpegang erat pada FirmanMu dalam terang Roh Kudus, memperoleh kepastian dalam kegelapan dan peneguhan dalam terang.
menyusuri jalan setapak tanpa memusingkan yang telah dilalui di belakang dan yang akan menghadang di depan.
Berjalan bersamaMu adalah penyerahan diri total berbalut sukacita, menaruh kepercayaan penuh tanpa meragukan jalan yang Kau pilih dan berapa lama jarak tempuhnya.
Berjalan bersamaMu adalah berpegang erat pada FirmanMu dalam terang Roh Kudus, memperoleh kepastian dalam kegelapan dan peneguhan dalam terang.
Jumat, 06 Juni 2014
PertanyaanMu
Sepertinya semalam Engkau ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, tetapi yang ada hanya keheningan. Pagi ini, ketika aku mengikuti perayaan Ekaristi, aku tahu apa yang ingin Engkau sampaikan: "Apakah engkau mengasihi Aku?" (Yohanes 21:15-17)
Tiga kali Engkau menanyakan hal itu kepada rasul Petrus. Engkau pun meminta aku menjawab pertanyaan yang sama.
PertanyaanMu membawaku pemahaman lebih jauh:
- Tak cukup sekadar mengucapkan, "Aku mencintaiMu dengan Cinta yang murni dan mendalam." MengasihiMu perlu diwujudnyatakan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
- Bukan kedekatan relasi antara guru-murid atau majikan-hamba. MengasihiMu merupakan kesatuan Roh yang kuat dalam kesetaraan.
- Tanpa terjerat pada situasi yang dialami, selalu dipenuhi damai dan sukacita. MengasihiMu adalah memberi yang terbaik bagi Sang Kekasih.
"Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau."
Tiga kali Engkau menanyakan hal itu kepada rasul Petrus. Engkau pun meminta aku menjawab pertanyaan yang sama.
PertanyaanMu membawaku pemahaman lebih jauh:
- Tak cukup sekadar mengucapkan, "Aku mencintaiMu dengan Cinta yang murni dan mendalam." MengasihiMu perlu diwujudnyatakan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
- Bukan kedekatan relasi antara guru-murid atau majikan-hamba. MengasihiMu merupakan kesatuan Roh yang kuat dalam kesetaraan.
- Tanpa terjerat pada situasi yang dialami, selalu dipenuhi damai dan sukacita. MengasihiMu adalah memberi yang terbaik bagi Sang Kekasih.
"Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau."