Senin, 29 Februari 2016

Ragu Tetapi Taat

* Musa ragu akan kemampuannya membawa bangsa Israel keluar perbudakan yang dialami di tanah Mesir.

* Naaman ragu akan saran nabi Elisa untuk mandi tujuh kali disungai Yordan agar penyakit kustanya sembuh.

* Janda di Sarfat ragu untuk memenuhi permintaan nabi Elia yang memintanya memasak tepung yang sudah tinggal sedikit itu untuk sang nabi terlebih dulu.

* Yohanes Pembaptis ragu untuk membaptis Yesus karena menganggap dirinya tidak layak.

* Petrus ragu menebarkan jala sesuai saran Yesus, karena sudah semalaman ia melaut dan tidak mendapat ikan.

Keraguan dapat menghinggapi manusia ketika ia diminta melakukan sesuatu yang berbeda, karena dipikirnya tindakan itu bakal merugikannya. Tetapi belajar dari beberapa tokoh di atas, percayalah, tetap taat  menjalani apa yang diperintahkan Tuhan akan membawa berkah.

Sabtu, 27 Februari 2016

Sangat Kaya

Anak sulung itu marah kepada ayahnya, karena sang ayah lebih memerhatikan adiknya yang pulang kembali ke rumah, setelah menghabiskan harta dengan berfoya-foya. "Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku," kata si sulung (lihat Lukas 15:29).

Sang ayah dengan penuh kasih menjawab anaknya, "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu...." (Lukas 15:31).

Orang yang bersikap dan perilaku seperti anak sulung itu - setia melayani dan taat (belum pernah melanggar perintah) - sebenarnya tinggal serumah dengan Allah; inilah yang disebut persatuan dengan Tuhan.

Namun, kita sering kali tidak menyadari kehadiran Roh Tuhan yang bersemayam dalam diri kita, yang menggerakkan kita menjadi orang baik. Dan kita menganggap segala rahmat Tuhan sebagai hal yang lumrah.

Sadarilah, sebenarnya kita sangat kaya selama kita selalu bersama-sama dengan Tuhan, karena segala kepunyaanNya adalah kepunyaan kita. 

Selasa, 23 Februari 2016

Godaan dan Pilihan

Ketika manusia digoda, ia selalu punya pilihan: mengikuti godaan atau menolaknya. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendakNya, karena IA menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Kenali godaan melalui pengalaman beberapa tokoh dalam Alkitab berikut ini:

- Hawa digoda si jahat yang menawarinya makan buah pengetahuan baik dan buruk. Hawa tahu, kalau ia memakan buah itu berarti ia melanggar pesan Allah, tetapi ia memilih untuk mengikuti godaan (lihat Kejadian 3:1-7).

- Kain iri karena persembahan Habel adiknya diterima Allah, sedangkan persembahannya ditolak. Kain tergoda untuk menghabisi Habel, padahal ia bisa memilih untuk memohon kepada Allah agar mau menerima persembahannya (lihat Kejadian 4:1-12).  

- Daud menjadi target pembunuhan raja Saul yang tidak senang terhadap calon raja penggantinya. Dalam satu kesempatan di padang gurun En-Gedi, Daud sebenarnya bisa membunuh Saul yang terus mengejarnya. Tetapi Daud memilih hanya memotong punca jubah Saul (lihat 1 Samuel 24:1-13).

- Yusuf tergoda untuk menceraikan Maria tunangannya dengan diam-diam, meskipun ia tahu Maria mengandung dari Roh Kudus. Dalam kebimbangan, malaikat Tuhan muncul dalam mimpi Yusuf, sehingg ia memilih untuk menikahi Maria (lihat Matius 1:18-25)

- Saulus tergoda untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan di Damsyik. Dalam perjalanan ke kota itu, Yesus menampakkan diri. Saulus tidak dapat melihat apa-apa dan tak mau makan-minum selama tiga hari. Dalam pergumulan itu, bisa saja Saulus bersikeras tetap melaksanakan rencananya semula, apalagi ia menjadi buta karena Yesus. Tetapi Saulus memilih untuk bertobat dan menjadi rasul Kristus yang bersemangat baja.
 
Sadarilah godaan, lalu segera ambil pilihan yang tepat. Jangan berlama-lama mendengar bujukan si jahat, sehingga akhirnya terbujuk. Belajarlah cara Yesus menolak godaan. Dengan cepat Yesus menghentikan ocehan si jahat yang tiga kali mencobaiNya di padang gurun (lihat Lukas 4:1-13). Tanpa ragu pula Yesus memarahi Petrus yang berharap Allah menjauhkan Yesus dari derita yang harus ditanggungNya di Yerusalem (lihat Matius 16:21-23).

Si jahat memang selalu menunggu waktu yang baik untuk menggoda manusia, tetapi godaan sedahsyat apa pun tak akan mampu menggoyahkan manusia yang mengambil pilihan berdasarkan Firman Tuhan.


Jumat, 19 Februari 2016

Memberi Nasihat = Menghakimi?

Sekarang banyak orang tak berani mengatakan Kebenaran dengan alasan yang tampaknya mulia - mengutip perkataan Yesus ketika orang-orang Yahudi hendak melempari batu ke seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah, "Kita semua orang berdosa, kita tidak berhak menghakimi."

Di satu sisi pernyataan itu benar, kita semua memang orang berdosa. Tetapi di sisi lain kita punya tanggung jawab untuk mengajar dan memberi nasihat (lihat Katekismus Gereja Katolik 2447). Menegur orang yang berbuat salah bukanlah menghakimi, melainkan justru mengingatkan orang tersebut akan kekeliruan yang mungkin tidak disadari sebelumnya.

Yesus tidak menghukum perempuan pendosa tersebut dengan hukuman fisik. Namun setelah orang-orang Yahudi pergi, Yesus memberi nasihat kepada perempuan itu, "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:11).

Orang-orang masa kini mencari yang termudah dan terenak bagi diri sendiri. Tak perlu ikut campur urusan orang lain karena kita menghormati hak asasi manusia. Tak perlu menegur orang yang berbuat salah karena kita pun ada salahnya. Nanti kita malah dicap sok suci.

Padahal, tidak menyuarakaan Kebenaran sama dengan melakukan pembiaran. Lama kelamaan penyimpangan dan kejahatan merajalela, karena tak ada lagi orang yang berani menyatakan Kebenaran. Belajarlah pada Yesus. Jangan hanya mengadopsi sepenggal perkataanNya untuk membenarkan sikap dan tindakan keliru kita. Yesus memang tidak menghakimi, tetapi memberi nasihat jitu kepada orang-orang yang keluar dari rel Kebenaran.

 

Jumat, 12 Februari 2016

Tidak Cukup

Tidak cukup mencariMu setiap hari,
Tidak cukup suka mengenal segala jalanMu,
Tidak cukup menanyakan kepadaMu tentang hukum-hukum yang benar,
Tidak cukup suka mendekat kepadaMu.

Perbuatan mendekatkan diri kepadaMu itu sepertinya benar dan saleh,
tetapi tak berarti apa-apa bagiMu,
jika tanpa disertai perbuatan baik kepada sesama.

Engkau menghendaki kami tidak sekadar melaksanakan hukum dan perintahMu,
melainkan berbuat yang konkret,
melampaui hukum dan perintah yang tertulis.  

Di masa puasa ini, Engkau menghendaki kami:
Membuka belenggu-belenggu kelaliman,
Melepaskan tali-tali kuk,
Memerdekakan orang yang teraniaya,
Mematahkan setiap kuk,
Memecah-mecah roti bagi orang yang lapar,
Membawa ke rumah -orang miskin yang tak punya rumah,
memberi pakaian kepada orang telanjang,
tidak menyembunyikan diri terhadap saudara sendiri.

(lihat Yesaya 58:1-7)

Rabu, 10 Februari 2016

Bertolak BersamaMu

Engkau mengajakku untuk bertolak ke tempat yang dalam. (lihat Lukas 5:4)

Mengikuti ajakanMu berarti berani meninggalkan tempat berpijakku sekarang,
membiarkanMu membimbingku ke tempat yang Engkau ingin kita tuju.

Tanpa mengetahui dengan jelas seberapa berat perjalanan ini,
pemandangan dan tantangan apa saja yang akan kita hadapi.

Yang terpenting, kita mengarunginya bersama-sama,
dan Engkau meyakiniku seraya berkata, "Jangan takut!"