Ketika Daud melihat seorang perempuan cantik sedang mandi, timbul keinginan untuk memiliki perempuan itu. Mereka berhubungan intim, kemudian Batsyeba hamil. Amatilah bagaimana dosa semakin merasuk. (lihat 2 Samuel 11:2-17)
Pertama, Daud berusaha melempar akibat dosanya itu kepada Uria, suami Batsyeba. Uria yang termasuk pasukan Israel di bawah komando Yoab dipanggil ke istana. Daud menyuruh Uria pulang dan tidur dengan istrinya. Tetapi Uria tidak melakukannya.
Tak berhasil dengan cara pertama, Daud membuat Uria mabuk dengan harapan ia pulang dan tidur dengan istrinya. Uria memang sempat mabuk, namun sekali lagi Uria tidak mau tidur di rumahnya. Ia lebih memilih bermalam dengan hamba-hamba tuannya.
Satu kebusukan berusaha ditutupi dengan kebusukan-kebusukan lain. Kembali gagal, Daud menulis surat kepada panglima perang Yoab untuk menempatkan Uria di garis depan dalam pertempuran paling hebat supaya Uria mati terbunuh. Ironisnya surat itu dibawa sendiri oleh Uria kepada Yoab. Kali ini rancangan jahat Daud berhasil.
Lihatlah bagaimana dosa yang semula hanya meliputi satu hal merambat ke dosa-dosa lain. Daud yang berusaha menutupi dosa persetubuhannya dengan merancang Uria meniduri istrinya, semakin meningkatkan kadar dosa dengan membuat mabuk Uria, bahkan akhirnya membunuh Uria dengan memakai tangan lawan.
Bandingkan dengan Kerajaan Allah yang bermula dari iman sekecil biji sesawi, yang ditaburkan di tanah. Biji sesawi adalah yang paling kecil di antara segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi, jika benih ini tumbuh, maka pohon sesawi menjadi pohon yang lebih besar dari segala sayuran yang lain. (lihat Markus 4:31-32)
Sama-sama berawal dari sesuatu yang kecil, namun mendatangkan akibat yang sangat berbeda. Dosa yang berkembang membawa manusia pada kebinasaan, tetapi iman yang berkembang membawa manusia pada keagungan.
Sabtu, 30 Januari 2016
Minggu, 24 Januari 2016
Tugas Perutusan Kita
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang
tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19)
Nas dari Yesaya 61:1 yang Engkau baca di rumah ibadat di Nazaret itu merupakan inti dari tugas perutusanMu, begitu pula inti dari tugas perutusan kami:
- menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, bukan berarti miskin harta; melainkan orang-orang yang belum mengenal dan merasakan kasihMu, yang haus akan Air Hidup yang kekal.
- memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, bukan berarti tawanan di rumah tahanan; melainkan orang-orang yang masih terkungkung pemikiran sempit dan penderitaan.
- penglihatan bagi orang-orang buta, bukan berarti buta secara fisik; melainkan orang-orang yang belum memahami kebenaran sejati di dalam Tuhan.
- membebaskan orang-orang yang tertindas, bukan berarti tertindas karena perbudakan; melainkan orang-orang yang mengalami ketidakadilan dan ketidakmerdekaan spiritual.
- memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang berarti sepanjang tahun penuh rahmat Tuhan. Suatu keadaan damai sejahtera yang akan dialami orang-orang yang telah menerima kabar baik, mengalami pembebasan, dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan sepenuhnya.
Nas dari Yesaya 61:1 yang Engkau baca di rumah ibadat di Nazaret itu merupakan inti dari tugas perutusanMu, begitu pula inti dari tugas perutusan kami:
- menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, bukan berarti miskin harta; melainkan orang-orang yang belum mengenal dan merasakan kasihMu, yang haus akan Air Hidup yang kekal.
- memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, bukan berarti tawanan di rumah tahanan; melainkan orang-orang yang masih terkungkung pemikiran sempit dan penderitaan.
- penglihatan bagi orang-orang buta, bukan berarti buta secara fisik; melainkan orang-orang yang belum memahami kebenaran sejati di dalam Tuhan.
- membebaskan orang-orang yang tertindas, bukan berarti tertindas karena perbudakan; melainkan orang-orang yang mengalami ketidakadilan dan ketidakmerdekaan spiritual.
- memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang berarti sepanjang tahun penuh rahmat Tuhan. Suatu keadaan damai sejahtera yang akan dialami orang-orang yang telah menerima kabar baik, mengalami pembebasan, dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan sepenuhnya.
Sabtu, 23 Januari 2016
Persahabatan
Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat
ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan (2 Samuel 1:26).
Begitulah Daud meratapi kematian sahabatnya Jonatan. Persahabatan sejati terjalin antara Jonatan anak raja Saul dengan Daud bakal raja yang akan menggantikan Saul. Membayangkan posisi kedua pemuda itu, sungguh sulit sebenarnya mendapati mereka bisa bersahabat baik.
Sebagai anak raja pertama Israel, jika Jonatan berpandangan sempit, ia tentu akan memusuhi Daud dan berharap kelak takhta kerajaan semestinya jatuh kepadanya atau saudara kandungnya. Tetapi Jonatan sadar dan menerima, suatu saat kedudukan ayahnya bakal diserahkan kepada Daud sebagai orang pilhan Allah yang telah diurapi nabi Samuel.
Sebagai bakal raja Israel, Daud berada di atas angin. Cepat atau lambat, ia akan naik takhta. Jika ia tinggi hati, tentu ia menampik uluran tangan persahabatan dari Jonatan. Apalagi ayah Jonatan, raja Saul, berusaha membunuh Daud yang dianggap Saul sebagai saingannya.
Berkaca pada relasi akrab antara Jonatan dan Daud, pada hakikatnya persahabatan adalah campuran anugerah Tuhan dengan keterbukaan hati di antara orang-orang yang bersahabat.
Sekeras apa pun usaha yang dilakukan seseorang untuk menjalin relasi dengan orang lain yang dianggap banyak kecocokan, bisa saling memahami, sejalan, seide, dan sebagainya; tidak akan dapat tercipta persahabatan jika Tuhan tidak menghendakinya.
Mungkin hanya terjadi perbincangan mengesankan sesaat karena kecocokan, namun kemudian kedua pihak dipisahkan oleh tempat, waktu, kesibukan berbeda yang membuat relasi tak langgeng.
Bisa terjadi, orang yang ingin sekali berelasi terus "menggempur" calon sahabatnya dengan aneka cara, tetapi tetap saja tidak terjalin persahabatan yang setara dan tulus. Mungkin yang terjadi adalah relasi yang berat sebelah - di satu pihak seseorang terus menjadi sang pemberi dengan harapan pihak yang dituju akan luluh hatinya dan mau menjadi sahabatnya. Sementara di pihak lain, karena tidak ada keterbukaan hati, si penerima sudah cukup senang memperoleh kecukupan kebutuhan, tanpa merasa perlu dan tergerak untuk menjalin relasi setara dan timbal-balik yang tulus dengan sang pemberi.
Persahabatan sepertinya mudah dijalin, tetapi sejatinya butuh anugerah Tuhan dan keterbukaan hati kedua pihak yang bersahabat; seperti dikatakan Santo Paulus, "... suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah (2 Korintus 1:12).
Pasang surut suatu relasi diuji dalam putaran waktu. Sahabat sejati adalah orang yang dapat terus bertahan dalam kasih dan kesetiaan yang setara dan timbal-balik yang tulus kepada sahabatnya.
Begitulah Daud meratapi kematian sahabatnya Jonatan. Persahabatan sejati terjalin antara Jonatan anak raja Saul dengan Daud bakal raja yang akan menggantikan Saul. Membayangkan posisi kedua pemuda itu, sungguh sulit sebenarnya mendapati mereka bisa bersahabat baik.
Sebagai anak raja pertama Israel, jika Jonatan berpandangan sempit, ia tentu akan memusuhi Daud dan berharap kelak takhta kerajaan semestinya jatuh kepadanya atau saudara kandungnya. Tetapi Jonatan sadar dan menerima, suatu saat kedudukan ayahnya bakal diserahkan kepada Daud sebagai orang pilhan Allah yang telah diurapi nabi Samuel.
Sebagai bakal raja Israel, Daud berada di atas angin. Cepat atau lambat, ia akan naik takhta. Jika ia tinggi hati, tentu ia menampik uluran tangan persahabatan dari Jonatan. Apalagi ayah Jonatan, raja Saul, berusaha membunuh Daud yang dianggap Saul sebagai saingannya.
Berkaca pada relasi akrab antara Jonatan dan Daud, pada hakikatnya persahabatan adalah campuran anugerah Tuhan dengan keterbukaan hati di antara orang-orang yang bersahabat.
Sekeras apa pun usaha yang dilakukan seseorang untuk menjalin relasi dengan orang lain yang dianggap banyak kecocokan, bisa saling memahami, sejalan, seide, dan sebagainya; tidak akan dapat tercipta persahabatan jika Tuhan tidak menghendakinya.
Mungkin hanya terjadi perbincangan mengesankan sesaat karena kecocokan, namun kemudian kedua pihak dipisahkan oleh tempat, waktu, kesibukan berbeda yang membuat relasi tak langgeng.
Bisa terjadi, orang yang ingin sekali berelasi terus "menggempur" calon sahabatnya dengan aneka cara, tetapi tetap saja tidak terjalin persahabatan yang setara dan tulus. Mungkin yang terjadi adalah relasi yang berat sebelah - di satu pihak seseorang terus menjadi sang pemberi dengan harapan pihak yang dituju akan luluh hatinya dan mau menjadi sahabatnya. Sementara di pihak lain, karena tidak ada keterbukaan hati, si penerima sudah cukup senang memperoleh kecukupan kebutuhan, tanpa merasa perlu dan tergerak untuk menjalin relasi setara dan timbal-balik yang tulus dengan sang pemberi.
Persahabatan sepertinya mudah dijalin, tetapi sejatinya butuh anugerah Tuhan dan keterbukaan hati kedua pihak yang bersahabat; seperti dikatakan Santo Paulus, "... suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah (2 Korintus 1:12).
Pasang surut suatu relasi diuji dalam putaran waktu. Sahabat sejati adalah orang yang dapat terus bertahan dalam kasih dan kesetiaan yang setara dan timbal-balik yang tulus kepada sahabatnya.
Rabu, 20 Januari 2016
Ada di Tangan Tuhan
Ketika kekuatan persenjataan dikedepankan, koalisi kejahatan dijalin, jalan kekerasan dianggap benar; bersikaplah seperti Daud belia yang berani menghadapi tantangan, disertai keyakinan pertempuran ada di tangan Tuhan dan Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang atau lembing.
(lihat 1 Samuel 17:47)
(lihat 1 Samuel 17:47)
Senin, 18 Januari 2016
Lebih Baik MendengarkanMu
Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan?
Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan,
memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
(1 Samuel 15:22)
Perkataan nabi Samuel kepada raja Saul masih tetap relevan sampai hari ini.
Ketaatan pada perintah Tuhan lebih utama dibandingkan persembahan harta milik. Terima kasih Yesus, untuk peneguhan ini.
Sesungguhnya mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan,
memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
(1 Samuel 15:22)
Perkataan nabi Samuel kepada raja Saul masih tetap relevan sampai hari ini.
Ketaatan pada perintah Tuhan lebih utama dibandingkan persembahan harta milik. Terima kasih Yesus, untuk peneguhan ini.
Senin, 11 Januari 2016
Penina dan Hana
Kedua perempuan ini adalah istri Elkana. Penina mempunyai anak, sedangkan Hana tidak. Karena itu Hana sering dicemooh Penina. Hana hanya dapat menangis dan tidak mau makan. Elkana menghiburnya dengan berkata, "Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?" (lihat 1 Samuel 1:1-8)
Bacaan ini mengawali masa biasa dalam kalender liturgi Gereja Katolik, setelah masa Natal yang ditutup dengan perayaan Pembaptisan Tuhan Yesus. Kedua tokoh perempuan yang ditampilkan dalam bacaan hari ini merupakan simbol keberpihakan Tuhan kepada orang-orang miskin, lemah, dan tersingkir.
Penina adalah simbol orang yang punya harta dan kekuasaan. Sedangkan Hana adalah simbol orang yang miskin, lemah, dan tersingkir. Tak perlu gusar menghadapi Penina-Penina. Perkataan Elkana kepada Hana adalah peneguhan yang Tuhan berikan kepada orang-orang seperti Hana, "Mengapa hatimu sedih? Bukankah Aku lebih berharga bagimu?"
Bacaan ini mengawali masa biasa dalam kalender liturgi Gereja Katolik, setelah masa Natal yang ditutup dengan perayaan Pembaptisan Tuhan Yesus. Kedua tokoh perempuan yang ditampilkan dalam bacaan hari ini merupakan simbol keberpihakan Tuhan kepada orang-orang miskin, lemah, dan tersingkir.
Penina adalah simbol orang yang punya harta dan kekuasaan. Sedangkan Hana adalah simbol orang yang miskin, lemah, dan tersingkir. Tak perlu gusar menghadapi Penina-Penina. Perkataan Elkana kepada Hana adalah peneguhan yang Tuhan berikan kepada orang-orang seperti Hana, "Mengapa hatimu sedih? Bukankah Aku lebih berharga bagimu?"
Jumat, 01 Januari 2016
Memeluk Kemiskinan
Engkau - Allah yang menjadi Manusia - memilih kandang dan palungan sebagai tempat tinggal pertamaMu di dunia. Engkau - Putra Allah yang mahakaya - malah merendahkan diri, menjadi Anak Manusia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya (lihat Matius 8:20).
Telah beberapa tahun aku berjalan bersamaMu, aku belum memeluk kemiskinan seperti Engkau. Refleksi di penghujung tahun lalu menyadarkanku. Aku perlu belajar keutamaan ini dariMu. Memiliki semangat hidup miskin bukanlah menjadi orang miskin yang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Semangat hidup miskin adalah menganggap uang bukanlah yang utama dalam hidup ini dan kepemilikan benda-benda duniawi tak selalu harus segera dipenuhi.
Semangat hidup miskin di era modern sekarang dapat dihidupkan antara lain dengan memilih diam di rumah daripada pergi ke pusat perbelanjaan; memilih bertekun dalam doa daripada menyaksikan acara televisi, bermain game atau internet; memilih memasak sendiri daripada membeli lauk atau makan di restoran; memilih memanfaatkan secara optimal barang-barang yang sudah dimiliki daripada membeli barang-barang baru. Dengan semangat hidup miskin, pemborosan dan perampasan hak orang lain dapat dicegah.
Mempraktikkan semangat hidup miskin mensyaratkan ketaatan dan kepasrahan penuh kepadaMu. Meneladan semangat hidup miskinMu membuahkan kekayaan di dalam Engkau.
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:3)
Telah beberapa tahun aku berjalan bersamaMu, aku belum memeluk kemiskinan seperti Engkau. Refleksi di penghujung tahun lalu menyadarkanku. Aku perlu belajar keutamaan ini dariMu. Memiliki semangat hidup miskin bukanlah menjadi orang miskin yang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Semangat hidup miskin adalah menganggap uang bukanlah yang utama dalam hidup ini dan kepemilikan benda-benda duniawi tak selalu harus segera dipenuhi.
Semangat hidup miskin di era modern sekarang dapat dihidupkan antara lain dengan memilih diam di rumah daripada pergi ke pusat perbelanjaan; memilih bertekun dalam doa daripada menyaksikan acara televisi, bermain game atau internet; memilih memasak sendiri daripada membeli lauk atau makan di restoran; memilih memanfaatkan secara optimal barang-barang yang sudah dimiliki daripada membeli barang-barang baru. Dengan semangat hidup miskin, pemborosan dan perampasan hak orang lain dapat dicegah.
Mempraktikkan semangat hidup miskin mensyaratkan ketaatan dan kepasrahan penuh kepadaMu. Meneladan semangat hidup miskinMu membuahkan kekayaan di dalam Engkau.
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:3)