Hari ini kita merayakan Minggu Panggilan. Sebagai orang Katolik, mendengar kata "panggilan," kita langsung menghubungkannya dengan panggilan khusus menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Padahal, setiap kita yang menghirup udara di muka bumi ini juga memiliki panggilan.
Panggilan hakiki setiap manusia adalah menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Membuka Perjanjian Lama, kita mendapati banyak contoh seseorang yang menjadi saluran berkat bagi orang lain. Beberapa di antaranya:
- Ketika Tuhan akan menghukum kota Sodom dan Gomora karena kedosaan mereka, Abraham mencoba melunakkan hati Tuhan dengan memohon dan bertanya, "Sekiranya ada 50 orang benar di kota itu, apakah Engkau akan menghukum juga?" Tuhan berfirman, "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (Kejadian 18:26). Abraham kurang yakin ada orang benar sebanyak itu di kota Sodom, maka ia bernegosiasi dengan Tuhan, "Bagaimana kalau ada 10 orang benar?" Ternyata, meskipun hanya ada 10 orang benar di kota itu, Tuhan tidak akan menghukumnya. Segelintir orang benar dapat menyelamatkan seluruh kota.
- Yusuf yang dijual saudara-saudaranya ke orang Ismael, dibeli Potifar, kepala pengawal raja Firaun di Mesir. Yusuf dikasihi tuannya dan diberi kuasa atas rumah dan segala milik Potifar. Sejak itu, Tuhan memberkati rumah Potifar karena Yusuf (lihat Kejadian 39:5). Potifar orang Mesir, tidak mengenal Tuhan, tetapi ia mendapat berkat dariNya karena Yusuf, yang dikasihi Tuhan.
- Naaman, panglima raja Aram, sakit kusta. Seorang anak perempuan dari Israel yang menjadi pelayan istri Naaman, memberitahukan tentang Nabi Elisa yang dapat menyembuhkan sakit Naaman (lihat 2 Raja-Raja 5:1-14). Anak perempuan Israel yang percaya akan kesalehan nabi Elisa ini menjadi saluran berkat bagi Naaman melalui informasi yang diberikannya.
Mencermati kehidupan Yesus Kristus, kita dapat melihat seluruh hidupNya merupakan saluran berkat Allah Bapa bagi orang-orang di sekitarNya.
Petrus menyembuhkan seorang lumpuh sejak lahir yang dijumpainya
bersama Yohanes di depan gerbang Bait Allah. Mukjizat penyembuhan yang
dicatat dalam Kisah Para Rasul 3:1-10 ini yang pertama terjadi setelah
Kristus naik ke Surga dan para rasul menerima karunia Roh Kudus pada
hari Pentakosta. Dalam kisah ini, Petrus yang penuh dengan Roh Kudus
menjadi saluran berkat bagi orang lumpuh itu.
Kita pun dapat berbuat seperti para rasul, menjadi saluran berkat bagi orang lain. Untuk itu, pertama-tama kita perlu memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan. Relasi yang dekat hanya dapat tercipta karena ada cinta yang tulus antara kedua pihak.
Memupuk benih cinta kepada Tuhan setiap hari dapat kita lakukan melalui doa, mengenalNya lebih dekat lewat FirmanNya, dan menghadiri Perayaan Ekaristi. Ingatlah akan perkataan Yesus, barangsiapa makan TubuhNya dan minum DarahNya, maka orang itu tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam orang itu (lihat Yohanes 6:56).
Kesatuan dengan Yesus Kristus memampukan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh yang Ia janjikan akan diberikanNya, setelah Ia bangkit dari kematian dan kembali kepada Bapa di Surga.
Lihatlah bagaimana Filipus mendapat bisikan Roh untuk mendekati sebuah kereta yang di dalamnya ada seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan ratu negeri itu, yang sedang membaca kitab nabi Yesaya. Filipus mendampingi orang tersebut dan memberitakan Injil Yesus. Sida-sida itu lalu minta dibaptis. Setelahnya, Roh Tuhan melarikan Filipus ke Asdod. Di situ Filipus memberitakan Injil di semua kota sampai tiba di Kaisarea (lihat Kisah Para Rasul 8:26-40).
Sadarilah, setiap kita dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain di sekitar kita. Kita hanya perlu membuka diri untuk menanggapi panggilan itu dengan mendengarkan suara Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita.
Minggu, 26 April 2015
Selasa, 21 April 2015
Pekerjaan DariMu
Untuk kesekian kali aku disodorkan pertanyaan yang sama oleh mereka yang berbincang denganku, "Apa kerjamu sekarang? Bagaimana kamu menghidupi keluarga setelah suamimu wafat?" Aku memahami perhatian dan kecemasan mereka, padahal aku tenang saja menjalani hidup ini. Aku katakan, aku menerima apa yang Tuhan berikan dan membiarkanNya mengatur segala sesuatu untukku.
Mereka tak puas dengan jawabanku. Mereka bilang tidak bisa demikian. Aku perlu bekerja, supaya ada income tetap. Jika hanya satu-dua orang yang berpendapat seperti itu, mungkin aku tak terlalu peduli. Tetapi, jika sudah lebih dari lima orang yang melontarkan gagasan yang sama, aku jadi berpikir ulang.
Jangan-jangan, aku salah mengartikan Sabda yang mengatakan: Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. (Mazmur 127:2) Mungkinkah aku terlalu meyakini kata-kata pemazmur itu, sampai 'malas' bekerja?
Lalu, aku mulai memikirkan beberapa kegiatan produktif yang dapat dikerjakan untuk memperoleh pemasukan. Aku membayangkan kesibukan akan menyita banyak waktuku: tergesa-gesa di pagi hari, bekerja sepanjang siang, dan kelelahan di malam hari.
Aku akan kehilangan waktu bersamaMu: terpaksa mengurangi doa-doa harian, tak sempat lagi merenungkan Firman, membaca buku-buku rohani, dan melayani orang-orang di sekitarku. Benarkah ini kehidupan yang seharusnya kujalani, setelah 15 bulan aku melewati hari-hari denganMu?
"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu... (Yohanes 6:27)," kuresapi perkataanMu saat bacaan Injil kemarin.
Ah, biarlah mereka mengajukan pertanyaan itu terus kepadaku, aku pun akan tetap bertahan pada keyakinanku. Aku hanya akan melakukan pekerjaan dariMu.
Mereka tak puas dengan jawabanku. Mereka bilang tidak bisa demikian. Aku perlu bekerja, supaya ada income tetap. Jika hanya satu-dua orang yang berpendapat seperti itu, mungkin aku tak terlalu peduli. Tetapi, jika sudah lebih dari lima orang yang melontarkan gagasan yang sama, aku jadi berpikir ulang.
Jangan-jangan, aku salah mengartikan Sabda yang mengatakan: Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. (Mazmur 127:2) Mungkinkah aku terlalu meyakini kata-kata pemazmur itu, sampai 'malas' bekerja?
Lalu, aku mulai memikirkan beberapa kegiatan produktif yang dapat dikerjakan untuk memperoleh pemasukan. Aku membayangkan kesibukan akan menyita banyak waktuku: tergesa-gesa di pagi hari, bekerja sepanjang siang, dan kelelahan di malam hari.
Aku akan kehilangan waktu bersamaMu: terpaksa mengurangi doa-doa harian, tak sempat lagi merenungkan Firman, membaca buku-buku rohani, dan melayani orang-orang di sekitarku. Benarkah ini kehidupan yang seharusnya kujalani, setelah 15 bulan aku melewati hari-hari denganMu?
"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu... (Yohanes 6:27)," kuresapi perkataanMu saat bacaan Injil kemarin.
Ah, biarlah mereka mengajukan pertanyaan itu terus kepadaku, aku pun akan tetap bertahan pada keyakinanku. Aku hanya akan melakukan pekerjaan dariMu.
Jumat, 17 April 2015
Galilea-ku
Dalam perjalanan ke Taman Getsemani di bukit Zaitun setelah mengadakan Perjamuan Terakhir, Engkau mengatakan kepada para rasul, "Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." (Matius 26:32)
Pesan yang sama disampaikan malaikat, ketika beberapa perempuan datang ke makamMu menjelang fajar, "Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.... (Matius 28:7)
Engkau memilih Galilea sebagai tempat perjumpaan dengan orang-orang yang Engkau kasihi. Di Galilea pertama kali Engkau bertemu dengan mereka, ketika mereka sedang menangkap ikan. Di Galilea pula Engkau menanti mereka, berjumpa kembali denganMu setelah kebangkitanMu.
Galilea-ku adalah rumahku. Di tempat ini pertama kali Engkau mengetuk hatiku. Di tempat ini pula Engkau mendahului aku, menanti kepulanganku, setelah perayaan kebangkitanMu....
Suamiku wafat sekitar 14 bulan silam, sejak itu aku selalu merasa tidak nyaman berada sendirian di rumah. Selama hampir satu tahun, aku mengikuti putriku yang menuntut ilmu di luar kota. Tetapi aku tak bisa seterusnya demikian, karena rumah kami yang telah selesai direnovasi perlu dihuni.
Meskipun penampilan rumah sudah berbeda, namun aku tidak betah di rumah pada malam hari. Sepanjang pagi hingga sore hari, aku tak mengalami masalah berada sendirian di rumah. Tetapi, begitu langit berganti malam, aku mulai resah. Kesepian mencengkeram.
Menjadi niatku selama masa Prapaskah untuk pantang menginap di luar rumah. Terkadang putriku pulang menemaniku, namun tidak setiap akhir pekan ia bisa seperti itu. Selama 47 hari masa retret agung Prapaskah, aku sempat melewati 15 malam sendirian di rumah.
Setiap malam aku terbangun beberapa kali. Setelah itu sulit memejamkan mata kembali. Apa yang kutakuti atau kucemaskan? Aku tidak takut hantu, setan, dan sejenisnya. Aku pun tidak mencemaskan tindak kejahatan. Tetapi, seperti ada bagian dalam diriku yang menolak kehadiran sang malam.
Trihari Suci berlalu. Seusai libur Paskah, putriku kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu. Aku segera mengikutinya. Bukankah masa Prapaskah sudah usai? Dua malam aku menginap di hotel. Betapa pun aku ingin tetap berada dekat putriku, aku harus kembali ke rumah.
Di depan pintu gerbang rumah, aku berkata dalam hati, "Inilah Galilea-ku. Tempat Kristus mengunjungiku secara pribadi lebih dari tiga tahun silam, dan tempat Kristus kini telah menanti aku." Aku masuk ke rumah dengan hati yang damai.
Malam hari itu, untuk pertama kali aku bisa melewati malam dengan tenang dan tidur yang cukup. Hari berganti, malam menjelang. Tak ada sedikit pun rasa kesepian dalam kesendirian. Sejak itu, aku menikmati keberadaanku sepenuhnya di rumah.
Dalam keheningan suasana, di tengah doa-doa yang kudaraskan, aku dapat merasakan kehadiranMu. Keadaan sekeliling masih tetap sama saat ini seperti sebelum Paskah, namun aku yakin hatiku-lah yang telah Engkau ubah dengan kuasa Roh Kudus.
Terima kasih, ya Yesus Kristus, Engkau berkenan memberiku pengalaman Kebangkitan bersamaMu.
Pesan yang sama disampaikan malaikat, ketika beberapa perempuan datang ke makamMu menjelang fajar, "Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.... (Matius 28:7)
Engkau memilih Galilea sebagai tempat perjumpaan dengan orang-orang yang Engkau kasihi. Di Galilea pertama kali Engkau bertemu dengan mereka, ketika mereka sedang menangkap ikan. Di Galilea pula Engkau menanti mereka, berjumpa kembali denganMu setelah kebangkitanMu.
***
Galilea-ku adalah rumahku. Di tempat ini pertama kali Engkau mengetuk hatiku. Di tempat ini pula Engkau mendahului aku, menanti kepulanganku, setelah perayaan kebangkitanMu....
Suamiku wafat sekitar 14 bulan silam, sejak itu aku selalu merasa tidak nyaman berada sendirian di rumah. Selama hampir satu tahun, aku mengikuti putriku yang menuntut ilmu di luar kota. Tetapi aku tak bisa seterusnya demikian, karena rumah kami yang telah selesai direnovasi perlu dihuni.
Meskipun penampilan rumah sudah berbeda, namun aku tidak betah di rumah pada malam hari. Sepanjang pagi hingga sore hari, aku tak mengalami masalah berada sendirian di rumah. Tetapi, begitu langit berganti malam, aku mulai resah. Kesepian mencengkeram.
Menjadi niatku selama masa Prapaskah untuk pantang menginap di luar rumah. Terkadang putriku pulang menemaniku, namun tidak setiap akhir pekan ia bisa seperti itu. Selama 47 hari masa retret agung Prapaskah, aku sempat melewati 15 malam sendirian di rumah.
Setiap malam aku terbangun beberapa kali. Setelah itu sulit memejamkan mata kembali. Apa yang kutakuti atau kucemaskan? Aku tidak takut hantu, setan, dan sejenisnya. Aku pun tidak mencemaskan tindak kejahatan. Tetapi, seperti ada bagian dalam diriku yang menolak kehadiran sang malam.
Trihari Suci berlalu. Seusai libur Paskah, putriku kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu. Aku segera mengikutinya. Bukankah masa Prapaskah sudah usai? Dua malam aku menginap di hotel. Betapa pun aku ingin tetap berada dekat putriku, aku harus kembali ke rumah.
Di depan pintu gerbang rumah, aku berkata dalam hati, "Inilah Galilea-ku. Tempat Kristus mengunjungiku secara pribadi lebih dari tiga tahun silam, dan tempat Kristus kini telah menanti aku." Aku masuk ke rumah dengan hati yang damai.
Malam hari itu, untuk pertama kali aku bisa melewati malam dengan tenang dan tidur yang cukup. Hari berganti, malam menjelang. Tak ada sedikit pun rasa kesepian dalam kesendirian. Sejak itu, aku menikmati keberadaanku sepenuhnya di rumah.
Dalam keheningan suasana, di tengah doa-doa yang kudaraskan, aku dapat merasakan kehadiranMu. Keadaan sekeliling masih tetap sama saat ini seperti sebelum Paskah, namun aku yakin hatiku-lah yang telah Engkau ubah dengan kuasa Roh Kudus.
Terima kasih, ya Yesus Kristus, Engkau berkenan memberiku pengalaman Kebangkitan bersamaMu.
Kamis, 09 April 2015
Ketika Engkau Melepas Belengguku
Ada rasa sakit ketika Engkau melepas belengguku,
di hari pertama setelah perayaan KebangkitanMu.
Selama ini belenggu itu telah menyatu denganku,
menjadi bagian diriku, sampai aku tak lagi memandangnya sebagai belenggu.
Tentu Engkau punya maksud tertentu dengan tindakanMu itu,
aku belum dapat memahaminya saat ini.
Seperti Maria Magdalena yang belum menyadari KebangkitanMu,hatiku yang tertutup kepedihan, tak dapat melihat kehadiranMu di dekatku.
Betapa pun, belenggu ini memang perlu dilepas,
agar aku dapat menjalani hidup dengan cara pandang baru.
di hari pertama setelah perayaan KebangkitanMu.
Selama ini belenggu itu telah menyatu denganku,
menjadi bagian diriku, sampai aku tak lagi memandangnya sebagai belenggu.
Tentu Engkau punya maksud tertentu dengan tindakanMu itu,
aku belum dapat memahaminya saat ini.
Seperti Maria Magdalena yang belum menyadari KebangkitanMu,hatiku yang tertutup kepedihan, tak dapat melihat kehadiranMu di dekatku.
Betapa pun, belenggu ini memang perlu dilepas,
agar aku dapat menjalani hidup dengan cara pandang baru.
Minggu, 05 April 2015
Sukacita - Sukacita - Sukacita
Trihari Suci adalah Perayaan Sukacita:
* Sukacita Persatuan
Perjamuan TerakhirMu bersama para rasul. Makan malam bersama yang sedikit menegangkan dan membawa kesedihan, karena Engkau mengatakan ada yang mengkhianatiMu. Namun, ini adalah perayaan sukacita, karena dalam Perjamuan Terakhir ini Engkau memberi teladan untuk melayani dengan sepenuh hati dan sukacita. Dalam Perjamuan ini pula, Engkau memberikan kenangan abadi yang terindah: Tubuh dan DarahMu sebagai makanan dan minuman. Suatu warisan sangat berharga yang tak lekang oleh waktu. Setiap orang percaya yang menyambut Tubuh dan DarahMu, bersatu secara fisik denganMu. Adakah persatuan manusiawi lain yang lebih indah selain daripada persatuan Tubuh dan Darah?
* Sukacita Salib
Mengalami siksaan lahir dan batin, ketidakadilan dalam pengadilan, yang berujung pada kematianMu di kayu salib - Engkau menanggung semua itu dengan ikhlas. Engkau tahu, setelah kesusahan ini sukacita menanti. SalibMu adalah Salib Sukacita. Melalui kesediaanMu untuk menderita, relasi Allah dan manusia dipulihkan. Ini adalah perayaan sukacita, karena lewat SalibMu orang yang percaya mengalami penebusan sepenuhnya. Semua dosa dihapus oleh tetes-tetes DarahMu. Adakah yang lebih menggembirakan selain daripada terbebas dari beban berat akibat dosa-dosa?
* Sukacita Kebangkitan
Kematian - akhir dari kehidupan fana. Engkau pun mengalaminya. Tetapi lewat kematianMu, Engkau menunjukkan kuasa Allah yang melampaui maut. Itulah kehidupan kekal. Dan kekekalan ini juga dapat dinikmati manusia yang menaruh kepercayaan kepadaMu. Maut tak lagi berkuasa atas manusia. Ini adalah perayaan sukacita yang sangat besar, karena ada jaminan akan kehidupan abadi yang menanti setelah kehidupan fana. Adakah yang lebih mulia selain daripada mengetahui manusia yang fana telah Engkau angkat menjadi anak-anakMu dan berhak menikmati kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah?
Bersukacitalah karena CintaNya, PenebusanNya, KemenanganNya!
* Sukacita Persatuan
Perjamuan TerakhirMu bersama para rasul. Makan malam bersama yang sedikit menegangkan dan membawa kesedihan, karena Engkau mengatakan ada yang mengkhianatiMu. Namun, ini adalah perayaan sukacita, karena dalam Perjamuan Terakhir ini Engkau memberi teladan untuk melayani dengan sepenuh hati dan sukacita. Dalam Perjamuan ini pula, Engkau memberikan kenangan abadi yang terindah: Tubuh dan DarahMu sebagai makanan dan minuman. Suatu warisan sangat berharga yang tak lekang oleh waktu. Setiap orang percaya yang menyambut Tubuh dan DarahMu, bersatu secara fisik denganMu. Adakah persatuan manusiawi lain yang lebih indah selain daripada persatuan Tubuh dan Darah?
* Sukacita Salib
Mengalami siksaan lahir dan batin, ketidakadilan dalam pengadilan, yang berujung pada kematianMu di kayu salib - Engkau menanggung semua itu dengan ikhlas. Engkau tahu, setelah kesusahan ini sukacita menanti. SalibMu adalah Salib Sukacita. Melalui kesediaanMu untuk menderita, relasi Allah dan manusia dipulihkan. Ini adalah perayaan sukacita, karena lewat SalibMu orang yang percaya mengalami penebusan sepenuhnya. Semua dosa dihapus oleh tetes-tetes DarahMu. Adakah yang lebih menggembirakan selain daripada terbebas dari beban berat akibat dosa-dosa?
* Sukacita Kebangkitan
Kematian - akhir dari kehidupan fana. Engkau pun mengalaminya. Tetapi lewat kematianMu, Engkau menunjukkan kuasa Allah yang melampaui maut. Itulah kehidupan kekal. Dan kekekalan ini juga dapat dinikmati manusia yang menaruh kepercayaan kepadaMu. Maut tak lagi berkuasa atas manusia. Ini adalah perayaan sukacita yang sangat besar, karena ada jaminan akan kehidupan abadi yang menanti setelah kehidupan fana. Adakah yang lebih mulia selain daripada mengetahui manusia yang fana telah Engkau angkat menjadi anak-anakMu dan berhak menikmati kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah?
Bersukacitalah karena CintaNya, PenebusanNya, KemenanganNya!
Kamis, 02 April 2015
Pengajaran TerakhirMu
Menjelang Perjamuan Terakhir yang Engkau adakan bersama para rasulMu, sebelum Engkau mengalami sengsara dan wafat di Kayu Salib, kami menerima pengajaran terakhirMu. Alangkah baiknya menyelami makna kata-kataMu, saat kami mengenangkan Engkau dalam perayaan Kamis Putih.
Pengajaran ini Engkau sampaikan kepada para rasul, setelah salah seorang dari mereka - Yudas Iskariot - meninggalkan ruang perjamuan. (lihat Yohanes 13:31 - 17:26) Cukup panjang, tetapi penuh ungkapan KasihMu.
Mungkin awalnya Engkau kecewa dan kesal, karena para rasul belum juga memahami makna terdalam kedatanganMu di dunia, dari mana asalMu, ke mana Engkau akan pergi.
Petrus bertanya dan sesumbar, "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" (Yohanes 13:37) Lalu, Tomas bertanya, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (Yohanes 14:5) Kemudian Filipus memohon, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." (Yohanes 14:8)
Mencermati kebingungan para rasul, Engkau lalu menjanjikan seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai para rasul selama-lamanya. Tetapi, syaratnya Engkau perlu menyingkir supaya Roh Kudus datang. "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu," Engkau menjelaskan. (Yohanes 16:7)
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Engkau sampaikan kepada para rasul, tetapi menurutMu sekarang mereka belum dapat menanggungnya. (lihat Yohanes 16:12) Engkau lalu menyampaikan salam perpisahanMu dengan mengatakan kedukaan yang akan mereka alami setelah Engkau beralih dari dunia ini. Namun, di balik duka itu, Engkau berjanji akan datang kembali.
Engkau mengakui, semuanya Engkau katakan kepada para rasul dengan kiasan. Akan tiba saatnya, Engkau tidak lagi berkata-kata dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepada para rasul. (lihat Yohanes 16:25) Tiba-tiba, Roh Kudus bekerja. Para rasul bisa memahami perkataanMu, sehingga mereka berkata, "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah." (Yohanes 16:29-30)
Pengakuan mereka membuat Engkau tenang. Sekarang, mata hati mereka telah terbuka. Engkau lalu memanjatkan doa untuk mereka dan orang-orang yang percaya kepadaMu oleh pemberitaan mereka. (lihat Yohanes 17:1:26) Inilah Doa Cinta Teragung yang Engkau ucapkan bagi semua orang yang Bapa berikan kepadaMu. Kata-kataMu dalam doa ini mencerminkan Kasih yang mendalam dan abadi.
Pengajaran terakhirMu merangkum seluruh rangkaian pengajaran dan perbuatanMu di muka umum selama tiga tahun. Intinya adalah Kasih yang murni dan tulus, tanpa dilatari kepentingan diri, demi keselamatan jiwa yang dikasihi.
Pengajaran ini Engkau sampaikan kepada para rasul, setelah salah seorang dari mereka - Yudas Iskariot - meninggalkan ruang perjamuan. (lihat Yohanes 13:31 - 17:26) Cukup panjang, tetapi penuh ungkapan KasihMu.
Mungkin awalnya Engkau kecewa dan kesal, karena para rasul belum juga memahami makna terdalam kedatanganMu di dunia, dari mana asalMu, ke mana Engkau akan pergi.
Petrus bertanya dan sesumbar, "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" (Yohanes 13:37) Lalu, Tomas bertanya, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" (Yohanes 14:5) Kemudian Filipus memohon, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." (Yohanes 14:8)
Mencermati kebingungan para rasul, Engkau lalu menjanjikan seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai para rasul selama-lamanya. Tetapi, syaratnya Engkau perlu menyingkir supaya Roh Kudus datang. "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu," Engkau menjelaskan. (Yohanes 16:7)
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Engkau sampaikan kepada para rasul, tetapi menurutMu sekarang mereka belum dapat menanggungnya. (lihat Yohanes 16:12) Engkau lalu menyampaikan salam perpisahanMu dengan mengatakan kedukaan yang akan mereka alami setelah Engkau beralih dari dunia ini. Namun, di balik duka itu, Engkau berjanji akan datang kembali.
Engkau mengakui, semuanya Engkau katakan kepada para rasul dengan kiasan. Akan tiba saatnya, Engkau tidak lagi berkata-kata dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepada para rasul. (lihat Yohanes 16:25) Tiba-tiba, Roh Kudus bekerja. Para rasul bisa memahami perkataanMu, sehingga mereka berkata, "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah." (Yohanes 16:29-30)
Pengakuan mereka membuat Engkau tenang. Sekarang, mata hati mereka telah terbuka. Engkau lalu memanjatkan doa untuk mereka dan orang-orang yang percaya kepadaMu oleh pemberitaan mereka. (lihat Yohanes 17:1:26) Inilah Doa Cinta Teragung yang Engkau ucapkan bagi semua orang yang Bapa berikan kepadaMu. Kata-kataMu dalam doa ini mencerminkan Kasih yang mendalam dan abadi.
Pengajaran terakhirMu merangkum seluruh rangkaian pengajaran dan perbuatanMu di muka umum selama tiga tahun. Intinya adalah Kasih yang murni dan tulus, tanpa dilatari kepentingan diri, demi keselamatan jiwa yang dikasihi.