Apa yang Engkau pikirkan saat Engkau duduk di atas keledai yang berjalan memasuki kota Yerusalem?
Lautan manusia memujiMu. Mereka melambai-lambaikan daun palem, bahkan ada yang membentangkan kain saat Engkau lewat. Mereka sangat berharap Engkau menjadi raja, memimpin mereka dengan kekuasaan besar yang Engkau miliki.
Apalagi yang kurang? Engkau baru saja membuat mukjizat terhebat: membangkitkan Lazarus yang sudah beberapa hari meninggal. Adakah hal lain yang lebih pelik daripada kematian? Jika itu saja bisa Engkau takhlukkan, apalagi hal-hal duniawi lainnya.
Mereka begitu yakin, semua akan beres jika Engkau naik takhta. Bahkan bangsa Romawi si penjajah itu akan menyingkir karena kehebatanMu. Tak seorang pun akan kelaparan, karena Engkau bisa menggandakan roti. Mereka juga tidak akan menderita berbagai sakit, karena Engkau dengan mudah menjamah mereka langsung sembuh.
Engkau adalah Allah yang menjadi Manusia. Tak dipungkiri, pemikiran-pemikiran manusia bermain pula dalam benakMu. Di atas keledai itu, sempat terlintas pikiran untuk menerima tawaran rakyat karena belas kasihanMu yang besar. Di atas keledai itu, sempat terlintas pikiran untuk mengakhiri penjajahan bangsa Romawi. Di atas keledai itu, sempat terlintas pikiran untuk menghindari salib.
Setiap manusia diciptakan Allah dengan kehendak bebas. Allah tak pernah memaksakan kehendakNya, apalagi kepada AnakNya sendiri. Engkau memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memilih yang Engkau kehendaki.
Akhirnya, Engkau memilih jalan salib, ketimbang jalan dunia. Engkau memilih merangkul penderitaan, ketimbang memeluk kenikmatan. Engkau memilih sesuatu yang bodoh di mata manusia, ketimbang yang tidak berkenan kepada Allah.
Ternyata, pilihanMu membawa konsekuensi luas: segala dosa manusia lenyap seiring imannya kepadaMu. Lewat pengalamanMu manusia belajar berani dan rela memanggul salibnya masing-masing. Menaati kehendak Allah adalah prioritas utama dalam hidup ini.
Minggu, 29 Maret 2015
Selasa, 24 Maret 2015
Ular Tembaga dan Kayu Salib
Berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, bangsa Israel mulai bersungut-sungut. "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di
padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan
akan makanan hambar ini kami telah muak," kata mereka melawan Allah dan Musa (lihat Bilangan 21:5).
Lalu, Tuhan menyuruh ular-ular tedung mendekati bangsa Isrel dan memagut mereka, sehingga banyak yang mati. Bangsa Israel menyadari dosa mereka dan menghadap Musa supaya Tuhan menjauhkan ular-ular itu dari mereka.
Tuhan kemudian meminta Musa untuk membuat ular tedung dan menaruhnya di tiang. Orang yang terpagut ular tedung akan tetap hidup, jika ia memandang ular tedung dari tembaga yang ada di tiang.
Menghadapi berbagai tantangan kehidupan, orang-orang di zaman ini bersungut-sungut. "Mengapa Engkau memberi kami penderitaan ini? Supaya kami mati? Kami telah muak dengan bermacam kesulitan hidup yang kami hadapi setiap hari," kata mereka menyangsikan Allah.
Penderitaan itu tak berkurang. Bagai ular-ular tedung, penderitaan terus mengintai dan memagut orang-orang di zaman ini. Yang tidak kuat bertahan, dengan mudah jatuh ke dalam berbagai dosa. Bahkan banyak pula yang memilih mengakhiri hidup mereka di dunia dengan bunuh diri.
Namun, mereka yang menyesal dan bertobat setelah mengalami kemerosotan iman, akan selamat dengan memandang Tubuh Kristus yang dipaku pada Kayu Salib.
dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." (Yohanes 12:32)
Lalu, Tuhan menyuruh ular-ular tedung mendekati bangsa Isrel dan memagut mereka, sehingga banyak yang mati. Bangsa Israel menyadari dosa mereka dan menghadap Musa supaya Tuhan menjauhkan ular-ular itu dari mereka.
Tuhan kemudian meminta Musa untuk membuat ular tedung dan menaruhnya di tiang. Orang yang terpagut ular tedung akan tetap hidup, jika ia memandang ular tedung dari tembaga yang ada di tiang.
***
Menghadapi berbagai tantangan kehidupan, orang-orang di zaman ini bersungut-sungut. "Mengapa Engkau memberi kami penderitaan ini? Supaya kami mati? Kami telah muak dengan bermacam kesulitan hidup yang kami hadapi setiap hari," kata mereka menyangsikan Allah.
Penderitaan itu tak berkurang. Bagai ular-ular tedung, penderitaan terus mengintai dan memagut orang-orang di zaman ini. Yang tidak kuat bertahan, dengan mudah jatuh ke dalam berbagai dosa. Bahkan banyak pula yang memilih mengakhiri hidup mereka di dunia dengan bunuh diri.
Namun, mereka yang menyesal dan bertobat setelah mengalami kemerosotan iman, akan selamat dengan memandang Tubuh Kristus yang dipaku pada Kayu Salib.
dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." (Yohanes 12:32)
Selasa, 17 Maret 2015
Memandang SalibMu
Jangan berhenti pada kayu salib saja,
salib hanyalah palang kayu tanpa makna,
jika Kristus tidak dipaku di atasnya.
Pandanglah WajahNya yang hancur,
bersama mahkota duri yang menghiasi kepalaNya,
menatap penuh kasih dalam kepedihan hatiNya,
menangisi kebebalan hati umat manusia.
Pandanglah Tubuh SuciNya yang penuh guratan luka,
bersimbah darah di sana-sini,
yang dipersembahkanNya sebagai kurban silih,
bagi penebusan segala dosa umat manusia.
Pandanglah Tetes-Tetes DarahNya yang mengalir,
Darah termulia Anak Domba Allah yang tak bercela,
dicurahkan sebagai Perjanjian Darah yang kekal,
perdamaian antara Allah dengan umat manusia.
Pandanglah Tangan dan KakiNya yang dipaku,
anggota tubuh yang selama tiga tahun terakhir hidupNya telah berbuat banyak,
merangkul dengan cinta, menjamah yang sakit dan menderita,
melangkah tanpa kenal lelah demi menyelamatkan umat manusia.
Pandanglah LambungNya yang ditombak,
mengalirkan darah dan air sehabis-habisnya dari tubuhNya,
pemberian diri yang total, penyangkalan diri yang penuh,
hanya lantaran cintaNya yang begitu besar bagi umat manusia.
Memandang SalibMu adalah memandang HatiMu
salib hanyalah palang kayu tanpa makna,
jika Kristus tidak dipaku di atasnya.
Pandanglah WajahNya yang hancur,
bersama mahkota duri yang menghiasi kepalaNya,
menatap penuh kasih dalam kepedihan hatiNya,
menangisi kebebalan hati umat manusia.
Pandanglah Tubuh SuciNya yang penuh guratan luka,
bersimbah darah di sana-sini,
yang dipersembahkanNya sebagai kurban silih,
bagi penebusan segala dosa umat manusia.
Pandanglah Tetes-Tetes DarahNya yang mengalir,
Darah termulia Anak Domba Allah yang tak bercela,
dicurahkan sebagai Perjanjian Darah yang kekal,
perdamaian antara Allah dengan umat manusia.
Pandanglah Tangan dan KakiNya yang dipaku,
anggota tubuh yang selama tiga tahun terakhir hidupNya telah berbuat banyak,
merangkul dengan cinta, menjamah yang sakit dan menderita,
melangkah tanpa kenal lelah demi menyelamatkan umat manusia.
Pandanglah LambungNya yang ditombak,
mengalirkan darah dan air sehabis-habisnya dari tubuhNya,
pemberian diri yang total, penyangkalan diri yang penuh,
hanya lantaran cintaNya yang begitu besar bagi umat manusia.
Memandang SalibMu adalah memandang HatiMu
Kamis, 12 Maret 2015
Melampaui Segala Janji
Di tempat-tempat tertentu, pada waktu-waktu tertentu didaraskan doa-doa tertentu untuk memohon wujud-wujud tertentu. Banyak janji indah diberikan bagi para devosan (orang yang berdevosi) seperti 12 janji Hati Kudus Yesus, 15 janji Bunda Maria bagi mereka yang setia berdoa Rosario, 33 janji Yesus bagi mereka yang melaksanakan novena Hati Kudus Yesus dan Hati Maria Tak Bernoda.
Terlepas dari pesan khusus yang didapat orang-orang kudus tertentu dari Tuhan Yesus dan Bunda Maria, mungkin janji-janji itu merupakan daya tarik bagi mereka yang belum pernah berdevosi. Namun seiring perjalanan waktu, setelah beberapa kali berdevosi, motivasi devosan perlu dimurnikan. Berdevosilah bukan untuk memperoleh pemenuhan janji-janji itu, melainkan karena cinta, hormat, dan syukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria.
Masih perlukah janji-janji manis, jika dua pribadi telah saling mengenal dan mencintai? Yang dibutuhkan hanyalah saling percaya. Cinta melampaui segala janji.
Terlepas dari pesan khusus yang didapat orang-orang kudus tertentu dari Tuhan Yesus dan Bunda Maria, mungkin janji-janji itu merupakan daya tarik bagi mereka yang belum pernah berdevosi. Namun seiring perjalanan waktu, setelah beberapa kali berdevosi, motivasi devosan perlu dimurnikan. Berdevosilah bukan untuk memperoleh pemenuhan janji-janji itu, melainkan karena cinta, hormat, dan syukur kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria.
Masih perlukah janji-janji manis, jika dua pribadi telah saling mengenal dan mencintai? Yang dibutuhkan hanyalah saling percaya. Cinta melampaui segala janji.
Selasa, 10 Maret 2015
Masa Muda yang Baru
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali (Mazmur 103:5)
Ketika membaca ayat ini, awalnya aku tak mengerti. Apa maksud masa muda yang baru seperti pada burung rajawali? Pemahaman tentang burung rajawali aku temukan lewat buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang karangan Judirman Djalimin.
Burung rajawali paling panjang usianya di antara semua jenis burung. Umumnya burung rajawali bisa mencapai usia 70 tahun. Tetapi, ketika memasuki umur 40 tahun, rajawali harus membuat perubahan besar dan mengambil keputusan yang menyangkut hidup dan mati.
Di usia 40 tahunan, paruh rajawali bertambah panjang dan bengkok hampir mencapai dada sehingga tak bisa memangsa makanan. Cakarnya semakin tua dan lemah sehingga mengurangi daya cengkeram, bulu sayapnya bertambah lebat dan berat sehingga susah terbang tinggi. Saat itulah, rajawali harus meluangkan waktu untuk membarui dirinya.
Rajawali punya dua pilihan: mati kelaparan atau harus menjalani proses perubahan yang sangat menyakitkan.
Untuk menjalani proses perubahan, rajawali harus terbang ke puncak gunung yang tinggi. Ia harus mematahkan paruh dari mulutnya dengan cara menghantamkannya berulang kali ke batu yang keras. Sesudah paruh terlepas, rajawali dengan sabar menunggu paruh tumbuh kembali.
Kemudian, rajawali harus mencabut cakarnya, agar kuku yang baru bisa tumbuh. Ia juga harus mencabuti semua bulu di tubuhnya dan dengan sabar menunggu proses pembaruan ini. Rajawali mencari sinar matahari untuk mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan bulu-bulunya.
Proses perubahan yang sangat menyiksa dan menyakitkan itu harus dijalankan rajawali selama enam bulan. Tetapi, melalui proses perubahan ini, rajawali mampu hidup lebih lama, sekitar 30 tahun lagi.
Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk naik ke puncak gunung yang tinggi dan melakukan proses pembaruan seperti burung rajawali.
Mungkin "paruh" kita perlu diganti dengan "paruh" yang baru, "cakar" kita sudah melemah, dan "bulu-bulu" kita memberatkan langkah.
Ingat, proses pembaruan itu berlangsung menyakitkan dan membutuhkan waktu. Menyakitkan saat kita berkaca pada diri sendiri dan menelanjangi semua dosa kita. Butuh waktu untuk memulihkan luka-luka itu.
Seperti rajawali yang mencari sinar matahari untuk mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan bulu-bulunya, kita pun memerlukan Sinar Roh Kudus untuk membantu proses pembaruan diri kita.
Setelah melewati "peremajaan," kita pun akan mengalami masa muda yang baru seperti pada burung rajawali. Masa muda bukan dalam hitungan umur, melainkan dalam semangat hidup dan pembaruan jiwa.
Mari, naik ke puncak gunung yang tinggi. Jalani proses pembaruan tanpa rasa takut akan kesakitan yang bakal kita alami selama proses ini.
Ketika membaca ayat ini, awalnya aku tak mengerti. Apa maksud masa muda yang baru seperti pada burung rajawali? Pemahaman tentang burung rajawali aku temukan lewat buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang karangan Judirman Djalimin.
Burung rajawali paling panjang usianya di antara semua jenis burung. Umumnya burung rajawali bisa mencapai usia 70 tahun. Tetapi, ketika memasuki umur 40 tahun, rajawali harus membuat perubahan besar dan mengambil keputusan yang menyangkut hidup dan mati.
Di usia 40 tahunan, paruh rajawali bertambah panjang dan bengkok hampir mencapai dada sehingga tak bisa memangsa makanan. Cakarnya semakin tua dan lemah sehingga mengurangi daya cengkeram, bulu sayapnya bertambah lebat dan berat sehingga susah terbang tinggi. Saat itulah, rajawali harus meluangkan waktu untuk membarui dirinya.
Rajawali punya dua pilihan: mati kelaparan atau harus menjalani proses perubahan yang sangat menyakitkan.
Untuk menjalani proses perubahan, rajawali harus terbang ke puncak gunung yang tinggi. Ia harus mematahkan paruh dari mulutnya dengan cara menghantamkannya berulang kali ke batu yang keras. Sesudah paruh terlepas, rajawali dengan sabar menunggu paruh tumbuh kembali.
Kemudian, rajawali harus mencabut cakarnya, agar kuku yang baru bisa tumbuh. Ia juga harus mencabuti semua bulu di tubuhnya dan dengan sabar menunggu proses pembaruan ini. Rajawali mencari sinar matahari untuk mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan bulu-bulunya.
Proses perubahan yang sangat menyiksa dan menyakitkan itu harus dijalankan rajawali selama enam bulan. Tetapi, melalui proses perubahan ini, rajawali mampu hidup lebih lama, sekitar 30 tahun lagi.
***
Mungkin "paruh" kita perlu diganti dengan "paruh" yang baru, "cakar" kita sudah melemah, dan "bulu-bulu" kita memberatkan langkah.
Ingat, proses pembaruan itu berlangsung menyakitkan dan membutuhkan waktu. Menyakitkan saat kita berkaca pada diri sendiri dan menelanjangi semua dosa kita. Butuh waktu untuk memulihkan luka-luka itu.
Seperti rajawali yang mencari sinar matahari untuk mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan bulu-bulunya, kita pun memerlukan Sinar Roh Kudus untuk membantu proses pembaruan diri kita.
Setelah melewati "peremajaan," kita pun akan mengalami masa muda yang baru seperti pada burung rajawali. Masa muda bukan dalam hitungan umur, melainkan dalam semangat hidup dan pembaruan jiwa.
Mari, naik ke puncak gunung yang tinggi. Jalani proses pembaruan tanpa rasa takut akan kesakitan yang bakal kita alami selama proses ini.
Kamis, 05 Maret 2015
Doa yang Seimbang
Keberpihakan kepada mereka yang menderita adalah baik dan sesuai ajaran sosial Gereja. Itu sebabnya kita membela korban yang menderita dalam pertikaian atau konflik antara dua pihak. Namun, ajaran dan teladan Yesus melampaui keberpihakan kepada para korban. Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (lihat Matius 5:44).
Karena itu:
- Doakanlah juga pengemudi yang lalai, ketika kita mendoakan korban kecelakaan transportasi.
- Doakanlah juga pihak yang menyeleweng, ketika kita mendoakan korban perselingkuhan.
- Doakanlah juga pelaku kekerasan, ketika kita mendoakan korban kekerasan.
- Doakanlah juga pihak yang memfitnah, ketika kita mendoakan korban fitnah.
- Doakanlah juga koruptor, ketika kita mendoakan korban korupsi.
- Doakanlah juga pertobatan para pelaku, ketika kita mendoakan umat Kristen yang dianiaya.
Melalui doa yang seimbang, seperti kata Yesus, kita menjadi anak-anak Bapa di Surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (lihat Matius 5:45).
Bukankah Yesus menghendaki agar kita sempurna, sama seperti Bapa di Surga adalah sempurna?
Karena itu:
- Doakanlah juga pengemudi yang lalai, ketika kita mendoakan korban kecelakaan transportasi.
- Doakanlah juga pihak yang menyeleweng, ketika kita mendoakan korban perselingkuhan.
- Doakanlah juga pelaku kekerasan, ketika kita mendoakan korban kekerasan.
- Doakanlah juga pihak yang memfitnah, ketika kita mendoakan korban fitnah.
- Doakanlah juga koruptor, ketika kita mendoakan korban korupsi.
- Doakanlah juga pertobatan para pelaku, ketika kita mendoakan umat Kristen yang dianiaya.
Melalui doa yang seimbang, seperti kata Yesus, kita menjadi anak-anak Bapa di Surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (lihat Matius 5:45).
Bukankah Yesus menghendaki agar kita sempurna, sama seperti Bapa di Surga adalah sempurna?