Rabu, 25 Agustus 2021

Ganti HP - Mulai Baru

Ketika telepon seluler (HP) rusak, kita mengganti dengan perangkat baru seturut kebutuhan komunikasi digital saat ini. Kita akan memindahkan semua kontak yang ada di HP lama, supaya memudahkan keterhubungan dengan orang-orang yang kita kenal. 

Lalu, kita masih menambah "beban" HP baru dengan memindahkan foto-foto, video, dokumen, bahkan seluruh chatting dari media sosial di HP lama. Padahal, tak semua itu kita butuhkan untuk memulai dengan perangkat baru.

Mengapa perlu membawa terus beban masa lampau? Hidup ini sarat dengan aneka tantangan. Bersikaplah bijak dengan memilah mana yang penting dan perlu, mana yang tidak penting dan tidak perlu. Mulai baru tanpa beban.

 

Jumat, 06 Agustus 2021

Belum Selesai di Atas Gunung yang Tinggi

Petrus mengajak Yesus tinggal di gunung yang tinggi dengan membuat tiga kemah, satu untuk Yesus, satu untuk Musa, dan satunya lagi untuk Elia (lihat Markus 9:2-10). Seandainya Yesus terbujuk mengikuti saran Petrus, kita bisa membayangkan kelanjutannya... misi penyelamatan manusia gagal diwujudkan!

Yesus tidak terpengaruh, tetap teguh pada pendirian-Nya, meski Ia tahu harus melewati jalan salib. Ketika mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan agar murid-murid-Nya tidak menceritakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Markus 9:9). 

Beranikah kita melepas sesuatu yang nikmat dan menjanjikan? Maukah kita menyangkal diri dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih baik, jika kita melepaskan kenikmatan itu?

Jika Anda sedang berada di gunung yang tinggi saat ini, jangan takut melepaskan kenyamanan itu. Misi harus diteruskan. Kita belum selesai di atas gunung yang tinggi ini.

 

Sabtu, 24 Juli 2021

Menyelidiki Tuhan

Mengapa orang baik itu Engkau biarkan sakit terpapar virus, kemudian Engkau memanggilnya pulang? Satu pertanyaan berkembang jadi tanda tanya tak terhingga, ketika orang-orang berhadapan dengan penyakit dan kematian di masa pandemi ini. 

Pertanyaanku menguap. Aku yakin demikian pula tanya-tanya lain yang mengudara di berbagai belahan dunia. Dalam diam malah aku menemukan jawabannya: inilah bukti ke-Mahakuasaan-Mu.
 
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:33-34)

Ya, Tuhan Allah-ku, terjadilah pada kami seturut kehendak-Mu. Kami mengakui ke-Mahakuasaan-Mu.


Jumat, 16 Juli 2021

Segera Lakukan Ini

Berserah kepada Bunda Maria secara total,
menjadi hambanya yang siap menerima apa pun yang diberikan olehnya,
maka hati kita akan menjadi tenang di masa pandemi yang mencekam ini,
karena percaya telah berada dalam perlindungan Ibu Surgawi,
seorang Ibu tentu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
 
"Kami berlari kepada perlindunganmu, O Bunda Allah yang kudus.
Jangan menolak permohonan-permohonan kami dalam kesesakan kami,
tetapi bebaskanlah kami dari segala bahaya,
O, Perawan yang termulia dan terberkati." 
 (Doa Sub Tuum Praesidium - abad ke-3)

Kamis, 15 Juli 2021

Mati Raga

Dalam situasi yang mendesak saat ini, selain berdoa dengan tekun, kita perlu bermati raga. 
 
Ingatlah yang dilakukan penduduk Niniwe, ketika diperingatkan Nabi Yunus untuk bertobat (lihat Yunus 3:1-10). Raja memerintahkan semua penduduk bahkan ternak berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah. Mereka harus berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 

Bermati raga dalam hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari. Misalnya, mengurangi waktu menyaksikan siaran televisi, diganti dengan berdoa; membagi makanan yang kita miliki kepada tetangga di sekitar kita yang sangat membutuhkan; menyapa kenalan, saudara, sahabat kita yang sedang berduka; dan perbuatan-perbuatan baik lain yang bisa kita lakukan disertai penyangkalan diri. Inilah saat kita dengan rela memikul salib, tanpa menimbang untung-rugi.

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." (Yoel 2:12)

Kamis, 01 Juli 2021

Permohonanku

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90:12)
 

Minggu, 27 Juni 2021

Percaya

Percaya berarti meyakini keunggulan-keunggulan atau kualitas yang dimiliki oleh orang atau benda atau hal yang dipercayai. Misalnya, percaya obat yang diminum akan menyembuhkan penyakit yang diderita, percaya olah raga setiap hari akan membuat tubuh bugar, percaya pasangan hidup tidak akan berkhianat. 

Untuk dapat menjadi percaya, orang perlu referensi atau pengalaman yang membuatnya menjadi percaya. Percaya obat yang diberikan karena direferensikan dokter, percaya bugar berolah raga karena melihat bukti orang yang melakukannya sehat, percaya pada pasangan hidup karena telah bertahun-tahun setia hidup bersama.

Seorang perwira di Kapernaum percaya Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit, karena ia telah melihat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit (Matius 8:5-13). Buah dari percaya ialah memperoleh apa yang diyakini, sebagaimana dikatakan Yesus kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." 

Terkadang, yang kelihatan tidak menampakkan hal yang diyakini, sehingga timbul rasa tidak percaya. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" kata murid-murid-Nya ketika membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan perahu (Markus 4:38). Di saat seperti inilah kepercayaan diuji. 

Bagaimana kepercayaan kita terhadap Yesus Sang Penyelamat? Ketika terjadi hal-hal buruk pada kita, apakah kita seperti murid-murid Yesus yang mempertanyakan kuasa-Nya, atau tetap percaya penuh kepada-Nya seperti perwira di Kapernaum?

"Jangan takut, percaya saja!" kata Yesus memberi harapan kepada Yairus - kepala rumah ibadat yang diberitahu anaknya telah mati, pada saat ia memohon kesembuhan kepada Yesus (Markus 5:21-43). Ketika harapan semakin terkikis, apakah kata-kata Yesus itu menggema dalam hati kita: "Jangan takut, percaya saja!"