Ingin hidup bahagia?
Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan
menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu,
supaya kamu berbahagia! (Yeremia 7:23)
Jika kita menelaah isi Kitab Suci, kita akan menemukan intisarinya adalah Allah menghendaki umat manusia mendengarkanNya dan menaati segala perintahNya, maka umat manusia akan berbahagia di bumi dan di surga.
Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku, dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. (Keluaran 20:6)
Untuk dapat mendengarkanNya, lebih dahulu kita perlu mengenalNya.
Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Ia pasti muncul seperti fajar. Ia akan datang kepada kita seperti hujan... (Hosea 6:3)
Dari mana kita dapat mengenal Tuhan?
Carilah di dalam kitab TUHAN dan bacalah: Satupun dari semua makhluk
itu tidak ada yang ketinggalan dan yang satu tidak kehilangan yang lain;
sebab begitulah perintah yang keluar dari mulut TUHAN, dan Roh TUHAN
sendiri telah mengumpulkan mereka. (Yesaya 34:16)
Sabtu, 10 Maret 2018
Kamis, 01 Maret 2018
Hati
Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu!
Hati yang sudah membatu:
siapakah yang dapat mengetahuinya?
Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati dan menguji batin,
untuk memberi balasan kepada setiap orang
setimpal dengan hasil perbuatannya.
(Yeremia 17:9-10)
Semoga Roh Kudus-Mu yang ada di dalam hati kami senantiasa menyinari kami dan menghindari kami dari jalan yang sesat.
Hati yang sudah membatu:
siapakah yang dapat mengetahuinya?
Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati dan menguji batin,
untuk memberi balasan kepada setiap orang
setimpal dengan hasil perbuatannya.
(Yeremia 17:9-10)
Semoga Roh Kudus-Mu yang ada di dalam hati kami senantiasa menyinari kami dan menghindari kami dari jalan yang sesat.
Selasa, 27 Februari 2018
Syukur sebagai Korban
Siapa yang
mempersembahkan syukur sebagai korban,
ia memuliakan Aku
(Mazmur 50:23)
Terima kasih, Tuhan...
Engkau tidak menuntut korban bakaran dan korban persembahan.
Ucapan syukur dari hati yang tulus sudah merupakan persembahan bagiMu.
Terima kasih, Tuhan....
Jumat, 16 Februari 2018
Hikmat dan Kerendahan Hati
Jikalau keangkuhan tiba,
tiba juga cemooh,
tetapi hikmat ada pada
orang yang rendah hati
(Amsal 11:2)
Tuhan Yesus, ajari aku untuk selalu rendah hati sepertiMu
Rabu, 14 Februari 2018
Kesempatan BersamaMu
Masa Prapaskah tiba kembali,
suatu kurun waktu yang ditunggu-tunggu,
inilah kesempatan bersamaMu,
mengarungi padang gurun kehidupan,
tanpa rasa takut
inilah kesempatan bersamaMu,
menimba hikmah ajar dari berbagai pengalaman,
dengan rendah hati
inilah kesempatan bersamaMu,
menggali kedalaman hati,
agar semakin berkenan kepadaMu
suatu kurun waktu yang ditunggu-tunggu,
inilah kesempatan bersamaMu,
mengarungi padang gurun kehidupan,
tanpa rasa takut
inilah kesempatan bersamaMu,
menimba hikmah ajar dari berbagai pengalaman,
dengan rendah hati
inilah kesempatan bersamaMu,
menggali kedalaman hati,
agar semakin berkenan kepadaMu
Kamis, 18 Januari 2018
Bill Gates yang Lain
Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan pada akhir tahun 2017 sekitar US$ 91,8 miliar atau setara Rp 1.243 triliun, berkomitmen melunasi utang negara Nigeria sebesar US$ 76 juta atau sekitar Rp 1,02 triliun kepada pemerintah Jepang yang digunakan untuk memberantas penyebaran penyakit polio. Sungguh mengagumkan, seorang individu mampu melunasi utang sebuah negara.
Bill Gates telah berbuat baik kepada sesama. Aku tak akan mampu menyaingi kekayaan materi Bill Gates, aku tak mungkin bisa melunasi utang sebuah negara. Namun, aku dapat menjadi Bill Gates yang lain dalam keseharianku - melalui perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan kepada orang-orang di sekitarku. Entah sekadar melempar senyum kepada orang yang berpapasan denganku di jalan, mendengarkan orang yang mengeluhkan masalah yang dihadapinya, membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan, memberikan sebagian milikku kepada orang lain. Bukankah kita sama-sama berbuat baik?
Bill Gates telah berbuat baik kepada sesama. Aku tak akan mampu menyaingi kekayaan materi Bill Gates, aku tak mungkin bisa melunasi utang sebuah negara. Namun, aku dapat menjadi Bill Gates yang lain dalam keseharianku - melalui perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan kepada orang-orang di sekitarku. Entah sekadar melempar senyum kepada orang yang berpapasan denganku di jalan, mendengarkan orang yang mengeluhkan masalah yang dihadapinya, membantu tetangga yang membutuhkan pertolongan, memberikan sebagian milikku kepada orang lain. Bukankah kita sama-sama berbuat baik?
Jumat, 12 Januari 2018
Mengapa Ingin Sama?
Orang Israel ingin punya raja, tak puas dengan Yahwe sebagai Raja mereka.
Tuhan berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka." (1 Samuel 8:7)
Samuel lalu menyampaikan segala firman Tuhan kepada bangsa itu tentang hak raja atas bangsanya.
Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel. Mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami; maka kami pun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang." (1 Samuel 8:19-20)
Orang Israel gagal melihat, betapa sebenarnya lebih mulia memiliki Tuhan sebagai Raja, daripada mengangkat manusia menjadi raja. Terkadang keinginan untuk menjadi sama dalam segala hal bukanlah yang terbaik. Berani berbeda asalkan di jalur yang benar, justru menimbulkan rasa saling menghargai.
Tuhan berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka." (1 Samuel 8:7)
Samuel lalu menyampaikan segala firman Tuhan kepada bangsa itu tentang hak raja atas bangsanya.
Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel. Mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami; maka kami pun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang." (1 Samuel 8:19-20)
Orang Israel gagal melihat, betapa sebenarnya lebih mulia memiliki Tuhan sebagai Raja, daripada mengangkat manusia menjadi raja. Terkadang keinginan untuk menjadi sama dalam segala hal bukanlah yang terbaik. Berani berbeda asalkan di jalur yang benar, justru menimbulkan rasa saling menghargai.