Seorang nenek, tetanggaku, berjalan melintas di depan rumah. Aku menyapanya, mengingatkan agar ia memakai masker demi kesehatannya. Bulan depan, nenek ini akan berulang tahun ke-92. Suatu berkat kehidupan yang patut disyukuri.
Tetapi sang nenek dengan mata berkaca-kaca mengatakan, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya. Berulang kali ia memohon kepada Tuhan agar mencabut nyawanya. Alasannya, anak yang paling disayanginya telah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam.
Tindakan nenek yang berjalan tanpa masker bisa dikatakan menunjukkan sikapnya menantang maut, sementara sebagian besar umat manusia berjuang menentang maut yang mengintai di masa pandemi Covid-19 ini.
Kehidupan adalah anugerah Tuhan yang penuh misteri. Mengapa tidak kita hidupi tanpa menantang atau menentang maut? Jika sampai hari ini Tuhan masih memberi kita napas kehidupan, berarti Ia masih memberi kita kesempatan menikmati anugerah-Nya di dunia ini. Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya; tanpa penyesalan, tanpa ketakutan.