Jumat, 31 Maret 2017

Duka ke-5: Bunda Maria Berdiri di Kaki Salib Yesus

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Kelima: Bunda Maria Berdiri di Kaki Salib Yesus

.....Dan dekat salib Yesus, berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:25-27)

***

Setelah mengikuti jalan salib yang mengiris hati, kini Bunda Maria dihadapkan pada penderitaan lain yang lebih besar: melihat Putra terkasihnya dipaku dan digantung pada kayu salib, menghembuskan napas terakhir di sana.

Sedikit penghiburan diperoleh Bunda Maria, tatkala dari atas kayu salib Yesus meminta rasul Yohanes untuk selanjutnya merawat IbuNya.   
 
Bunda Maria sering dijuluki Martir Tanpa Darah. Sebuah julukan yang tepat  bagi seorang ibu yang dalam diam, dengan ketegaran hati menyaksikan langsung sengsara dan wafat Buah Hati tercinta.

***

Apakah kita bisa tetap setia seperti Bunda Maria, meskipun harus menyaksikan dan mengalami penderitaan bertubi-tubi? Percayakah kita, Tuhan akan memberikan rahmat khusus kepada kita agar dapat menanggung penderitaan itu? 

Kita dapat belajar dari Bunda Maria yang tidak lari dari penderitaan, seberapa pun berat dan pahitnya, meski sampai harus mengurbankan diri kita sebagai martir dengan atau tanpa darah. 
    

Jumat, 24 Maret 2017

Duka ke-4: Bunda Maria Bertemu Yesus di Jalan Salib

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Keempat: Bunda Maria Bertemu Yesus di Jalan Salib

..... Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! (Lukas 23:27-28)

*** 

Sebagai pribadi yang beroleh kasih karunia Allah, seperti dikatakan Malaikat Agung Gabriel kepada Bunda Maria pada saat akan mengandung Bayi Kudus Yesus, Bunda Maria tentu tahu apa yang bakal diderita Yesus di akhir hidupNya. 

Namun, perjumpaan langsung di jalan salib: melihat tubuh Yesus yang banyak tergores oleh siksaan, wajah Yesus berlumur darah, langkah Yesus yang terseok-seok; Ibu manakah yang tak akan hancur hatinya?

Bunda Maria tak dapat berbuat apa-apa, selain menatap Putranya dalam diam. Berdoa agar Allah memberi Putranya dan dirinya kekuatan untuk menghadapi peristiwa salib ini, disertai harapan semua kekejian ini segera berakhir.

***

Dalam kehidupan kita, ada kalanya kita berada di posisi seperti Bunda Maria. Melihat penderitaan yang dialami orang-orang yang kita kasihi, tetapi kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita hanya dapat menemani dan mendaraskan doa, seraya berharap penderitaan itu segera berlalu.  
 
Kita dapat belajar dari Bunda Maria yang berani menghadapi kengerian jalan salib Putranya. Sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, tetapi harus dilalui, karena jalan penderitaan ini termasuk bagian dari misteri rencana Tuhan kepada kita.    
     
 

Jumat, 17 Maret 2017

Duka ke-3: Bunda Maria Mencari Yesus di Kenisah

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Ketiga: Bunda Maria Mencari Yesus di Kenisah

...... Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari, mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. (Lukas 2:44-46)


***

Adakah hal yang lebih mencemaskan daripada kehilangan anak ketika sedang bepergian? Bukan hanya sesaat atau beberapa jam, melainkan tiga hari kemudian, barulah Bunda Maria dapat menemukan Anaknya.

Tiga hari dirundung kecemasan hebat. Tak tahu apa yang terjadi pada Putra tunggal yang berusia 12 tahun. Bunda Maria dengan diam merenungkan arti peristiwa ini. 

Dalam perjalanan pencarian itu, tentu timbul pergumulan dalam batin. Di satu sisi Bunda Maria sangat berharap dapat segera menemukan Yesus, Buah Hatinya yang telah diasuhnya selama lebih dari sepuluh tahun. Kedekatan ikatan antara ibu dan anak. Sementara di sisi lain, Bunda Maria pun tahu, jika Allah berkehendak mengambil PutraNya kembali dengan cara tak terduga, ia tak dapat berbuat apa-apa.

***

Ketika sesuatu yang berharga tiba-tiba hilang dari kehidupan kita, dapatkah kita melihatnya sebagai bagian dari rencana besar Tuhan? Tentu kita pun mengalami pergumulan batin. Kita masih ingin menikmati sesuatu yang berharga itu entah pasangan hidup, anak, saudara, sahabat, karier, atau barang penting, dan sebagainya. 

Kita berharap disertai kecemasan, akankah terjadi mukjizat yang dapat mengembalikan sesuatu yang berharga itu? Di sisi lain, kita pun menyadari kita tak dapat mengelak dari misteri kehendak Tuhan. Dari pengalaman duka Bunda Maria ini, kita belajar untuk berharap dalam kepasrahan, tanpa menyalahkan Tuhan dan orang-orang yang terkait dalam peristiwa kehilangan yang kita alami. 


Jumat, 10 Maret 2017

Duka ke-2: Bunda Maria Mengungsi ke Mesir

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Kedua: Bunda Maria Membawa Bayi Yesus Mengungsi ke Mesir

..... Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu beserta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." (Matius 2:14-15)

***

Tengah malam Bunda Maria dibangunkan suaminya, segera berkemas dan pergi dari Betlehem ke Mesir. Tak ada waktu untuk berembuk. Bunda Maria hanya terdiam, merenungkan apa arti semua ini.

Mesir, tanah yang asing. Adakah hal menyenangkan ketika berada di pengungsian? Di bawah Gereja Abu Sirga di Kairo, terdapat sebuah gua yang diyakini sebagai tempat tinggal Keluarga Kudus. Tidak lama menetap di sini, Keluarga Kudus berpindah-pindah tempat di Mesir untuk menghapus jejak.

Kesulitan hidup dalam pengungsian sudah pasti dialami Keluarga Kudus sebagai pengungsi. Namun, Bunda Maria menerima semua yang terjadi sebagai bagian dari kehendak Tuhan.


***

Ketika kita terpaksa mengungsi, entah karena bencana alam, perang, penggusuran, atau rumah tak lagi layak dihuni; adakah kita berkeluh-kesah?  

Pengungsian memang bukan tempat yang nyaman, penuh tantangan fisik dan mental. Tetapi, jika mengungsi hanya satu-satunya jalan yang ada, mau tak mau kita harus menempuhnya. Kita dapat belajar dari Bunda Maria yang menjalani hari demi hari di pengungsian dengan iman yang teguh dan penyerahan total kepada Tuhan.
 

Jumat, 03 Maret 2017

Duka ke-1: Bunda Maria Mendengar Nubuat Nabi Simeon

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Pertama: Bunda Maria Mendengar Nubuat Nabi Simeon

..... Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Lukas 2:34-35)

***

Mendengar ramalan seorang nabi, menimbulkan perasaan tertentu. Bunda Maria selalu menyimpan segalanya dalam hati dan merenungkannya. Belum habis ketidakpahaman Bunda Maria akan kehamilannya yang ajaib, lalu kelahiran Yesus di kandang ternak, kehadiran para gembala dan tiga orang majus; kini saat mempersembahkan Yesus ke Bait Allah, ia mendengar nubuat yang "aneh."

Bunda Maria bertanya-tanya dalam hati, apakah artinya pedang akan menembus jiwanya? Muncul kecemasan dan kekhawatiran, juga pertanyaan: "Seperti apakah pedang yang akan menembus jiwaku? Sanggupkah aku menerima tusukan pedang itu?" Bunda Maria terdiam, merenung dalam hati. Di masa yang lalu Allah menuntunku, tentu Ia juga akan membimbingku di masa depan. 

***  

Ketika kita mendengar prediksi para ahli tentang dunia, perkiraan bakal terjadi suatu tindak kekerasan, atau mendengar diagnosis dokter tentang penyakit, kegalauan melanda perasaan. Bagaikan pedang yang akan menembus jiwa. 

Belajar dari Bunda Maria, kita pun dapat menyerahkan segala kecemasan dan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Ia telah menyertai kita hari demi hari sampai saat sekarang, tentu Ia pun akan membimbing kita dalam naungan kasihNya sampai akhir hidup kita.

         

Rabu, 01 Maret 2017

MendengarkanMu

Padang gurun, tempat yang sunyi
Ke sanalah aku ingin mendengarkanMu

"Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." 
(1 Samuel 3:10)