Hidup yang dapat dijalani semua orang,
bukan milik eksklusif kaum berjubah.
Hidup yang dijiwai Roh Kudus,
yang bersemayam dalam diri.
Kaki melangkah di bumi,
tangan menyentuh benda duniawi,
mata memandang sekeliling;
namun
pikiran netral - tidak menilai dan membandingkan,
mulut dibuka hanya bila diperlukan,
hati senantiasa tertuju pada hal-hal surgawi.
Jumat, 27 Mei 2016
Kamis, 12 Mei 2016
Terus Bertahan
Di Yerusalem, para petinggi agama Yahudi menentang pengajaran Yesus, bahkan Yesus mati disalib di kota ini. Namun, di sanalah Yesus meminta murid-muridNya tetap tinggal sampai Ia mengirim Roh Kudus seperti yang dijanjikan Bapa (lihat Lukas 24:49).
Masa penantian mulai dari Yesus naik ke Surga hingga turunnya Roh Kudus tentu bukan periode yang tenteram. Suasananya seperti setelah Yesus dimakamkan - murid-murid Yesus berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi (lihat Yohanes 20:19).
Dalam kalender liturgi Gereja, masa penantian hanya sembilan hari - dari peringatan Yesus naik ke Surga hingga perayaan Pentakosta. Dalam kenyataan di zaman itu, entah berapa lama masa penantian turunnya Roh Kudus.
Namun satu hal yang pasti, para rasul bersama beberapa perempuan serta Bunda Maria dan saudara-saudara Yesus - lihat Kisah Para Rasul 1:14 - tetap bertahan di tengah ketidakpastian, kecemasan, dan kesesakan. Mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi, hanya mengandalkan iman karena percaya akan janji Yesus.
Terus bertahan, itu juga menjadi pesan Yesus kepada kita yang masih berziarah di dunia ini. Bertahan dalam aneka situasi yang menantang. Bertahan dalam penderitaan jasmani dan rohani. Bertahan dalam ketidakpastian masa depan yang masih gelap.
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12)
Masa penantian mulai dari Yesus naik ke Surga hingga turunnya Roh Kudus tentu bukan periode yang tenteram. Suasananya seperti setelah Yesus dimakamkan - murid-murid Yesus berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi (lihat Yohanes 20:19).
Dalam kalender liturgi Gereja, masa penantian hanya sembilan hari - dari peringatan Yesus naik ke Surga hingga perayaan Pentakosta. Dalam kenyataan di zaman itu, entah berapa lama masa penantian turunnya Roh Kudus.
Namun satu hal yang pasti, para rasul bersama beberapa perempuan serta Bunda Maria dan saudara-saudara Yesus - lihat Kisah Para Rasul 1:14 - tetap bertahan di tengah ketidakpastian, kecemasan, dan kesesakan. Mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi, hanya mengandalkan iman karena percaya akan janji Yesus.
Terus bertahan, itu juga menjadi pesan Yesus kepada kita yang masih berziarah di dunia ini. Bertahan dalam aneka situasi yang menantang. Bertahan dalam penderitaan jasmani dan rohani. Bertahan dalam ketidakpastian masa depan yang masih gelap.
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12)
Jumat, 06 Mei 2016
Kuangkat Jiwaku
Kepada-Mu ya Tuhan, kuangkat jiwaku (Mazmur 25:1)
Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku (Mazmur 86:4)
.... Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.(Mazmur 143:8)
Apa maksud kuangkat jiwaku?
Tumbuhan hanya mempunyai tubuh, tidak bisa berpindah tempat; hewan memiliki tubuh dan jiwa yang dapat menggerakkannya berdasarkan naluri. Namun, hewan tidak bisa mengangkat jiwanya, karena tidak memiliki roh.
Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa berada di antara tubuh dan roh, maka manusia dapat menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh atau mengangkatnya ke tingkat roh.
Contoh perilaku manusia yang menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh: marah yang meledak hingga melakukan kekerasan. Seorang pengemudi sepeda motor menyenggol sebuah mobil. Pengemudi mobil marah dan memukul pengemudi motor. Bukankah perilaku ini seperti hewan yang merasa teritorinya diserang, lalu marah dan balas menyerang? Jiwa turun ke tingkat tubuh.
Sebaliknya, contoh perilaku manusia yang mengangkat jiwanya ke tingkat roh: meski mendapat perlakuan kasar dari Mahkamah Agama Yahudi, dilempari batu sampai tewas, Stefanus mengangkat jiwanya ke tingkat roh, sehingga ia dapat berkata, "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Dan kepada orang-orang yang menyakitinya, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." (lihat Kisah Para Rasul 7:51-60)
Tentu masih banyak contoh lain tentang perilaku manusia yang menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh atau mengangkat jiwanya ke tingkat roh.
Berdasarkan pengalaman nabi Daud dalam Mazmur di atas, manusia perlu mengangkat jiwa ke tingkat roh sehingga dapat memahami apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya (Mazmur 143:8). Dengan mengangkat jiwa ke tingkat roh - bersatu dengan Roh Tuhan - akan membuat jiwa manusia bersuka cita (Mazmur 86:4).
Sadarilah keberadaan tubuh, jiwa, dan roh dalam diri kita. Dengan kesadaran itu, saat kita mengalami suatu peristiwa, kita dapat dengan cepat memutuskan apakah jiwa kita akan kita turunkan ke bawah - mengikuti keinginan tubuh; atau jiwa kita akan kita angkat ke atas - mengikuti kuasa Roh Kudus yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada setiap orang yang percaya kepadaNya.
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5:23)
Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku (Mazmur 86:4)
.... Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.(Mazmur 143:8)
Apa maksud kuangkat jiwaku?
Tumbuhan hanya mempunyai tubuh, tidak bisa berpindah tempat; hewan memiliki tubuh dan jiwa yang dapat menggerakkannya berdasarkan naluri. Namun, hewan tidak bisa mengangkat jiwanya, karena tidak memiliki roh.
Manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Jiwa berada di antara tubuh dan roh, maka manusia dapat menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh atau mengangkatnya ke tingkat roh.
Contoh perilaku manusia yang menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh: marah yang meledak hingga melakukan kekerasan. Seorang pengemudi sepeda motor menyenggol sebuah mobil. Pengemudi mobil marah dan memukul pengemudi motor. Bukankah perilaku ini seperti hewan yang merasa teritorinya diserang, lalu marah dan balas menyerang? Jiwa turun ke tingkat tubuh.
Sebaliknya, contoh perilaku manusia yang mengangkat jiwanya ke tingkat roh: meski mendapat perlakuan kasar dari Mahkamah Agama Yahudi, dilempari batu sampai tewas, Stefanus mengangkat jiwanya ke tingkat roh, sehingga ia dapat berkata, "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Dan kepada orang-orang yang menyakitinya, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka." (lihat Kisah Para Rasul 7:51-60)
Tentu masih banyak contoh lain tentang perilaku manusia yang menurunkan jiwanya ke tingkat tubuh atau mengangkat jiwanya ke tingkat roh.
Berdasarkan pengalaman nabi Daud dalam Mazmur di atas, manusia perlu mengangkat jiwa ke tingkat roh sehingga dapat memahami apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya (Mazmur 143:8). Dengan mengangkat jiwa ke tingkat roh - bersatu dengan Roh Tuhan - akan membuat jiwa manusia bersuka cita (Mazmur 86:4).
Sadarilah keberadaan tubuh, jiwa, dan roh dalam diri kita. Dengan kesadaran itu, saat kita mengalami suatu peristiwa, kita dapat dengan cepat memutuskan apakah jiwa kita akan kita turunkan ke bawah - mengikuti keinginan tubuh; atau jiwa kita akan kita angkat ke atas - mengikuti kuasa Roh Kudus yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada setiap orang yang percaya kepadaNya.
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5:23)
Senin, 02 Mei 2016
Diselingkuhi
Ada dua kabar perceraian yang kuterima belakangan ini dari teman-temanku. Pertama, seorang ibu muda dengan tiga anak usia 2-7 tahun, lebih memilih berpisah dengan pria yang dinikahinya secara Katolik, daripada hampir setiap hari rumah tangganya diwarnai pertengkaran sengit. Kedua, seorang ibu yang telah menikah 25 tahun pun memilih jalan sendiri-sendiri, ketimbang memaafkan suaminya.
Meski kedua pasangan berbeda kota dan tak saling kenal, sang istri mengalami perlakuan yang sama dari suami masing-masing: diselingkuhi.
Yang sering terjadi, pihak yang diselingkuhi (istri) merasa sebagai pihak yang kalah, harga diri direndahkan dan tidak lagi dicintai, karena itu patut menuntut balas dengan perceraian. Padahal, jika kita berpikir jernih, pihak yang diselingkuhi adalah pihak yang menang. Mengapa demikian? Menang karena selama ini berhasil menjaga kesetiaan dalam pernikahan.
Namun, seperti kata pepatah: sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak dapat dipercaya. Agaknya itulah yang diterapkan para istri dalam berelasi dengan pasangan hidup. Mereka lupa akan firman Tuhan untuk mengasihi sesama bahkan musuh dan mengampuni orang yang bersalah tanpa batas (70 kali 7 kali).
Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pesan "terakhir" yang diberikan Tuhan Yesus dan digemakan dalam Injil menjelang KenaikanNya ke Surga. Dalam amanat perpisahanNya, Tuhan Yesus kerap menekankan dua hal, yaitu menaati perintah (firman) Tuhan dan saling mengasihi - lihat Yohanes 15:7-12.
Menaati firmanNya antara lain berarti mau mengampuni orang yang bersalah dan tetap mengasihi, seperti telah diteladankan Yesus. Tiga kali Petrus mengkhianatiNya, tetapi Yesus mengampuninya dan tetap mengasihi dengan meminta Petrus menggembalakan domba-dombaNya - lihat Yohanes 21:15-17.
Jika pernikahan Anda di ambang kehancuran karena Anda diselingkuhi, janganlah mengambil keputusan segera untuk bercerai saat emosi Anda tinggi dan kacau. Ingatlah, Anda bukan pihak yang kalah. Anda adalah pemenang dalam hal kesetiaan berumah tangga. Inilah ujian iman Anda: apakah Anda akan menaati firman Tuhan dengan mengampuni pasangan hidup Anda dan tetap mengasihinya? Jika Anda menjawab "ya" untuk pertanyaan ini, berarti Anda benar-benar pemenang sejati di mata Tuhan.
Meski kedua pasangan berbeda kota dan tak saling kenal, sang istri mengalami perlakuan yang sama dari suami masing-masing: diselingkuhi.
Yang sering terjadi, pihak yang diselingkuhi (istri) merasa sebagai pihak yang kalah, harga diri direndahkan dan tidak lagi dicintai, karena itu patut menuntut balas dengan perceraian. Padahal, jika kita berpikir jernih, pihak yang diselingkuhi adalah pihak yang menang. Mengapa demikian? Menang karena selama ini berhasil menjaga kesetiaan dalam pernikahan.
Namun, seperti kata pepatah: sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak dapat dipercaya. Agaknya itulah yang diterapkan para istri dalam berelasi dengan pasangan hidup. Mereka lupa akan firman Tuhan untuk mengasihi sesama bahkan musuh dan mengampuni orang yang bersalah tanpa batas (70 kali 7 kali).
Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan pesan "terakhir" yang diberikan Tuhan Yesus dan digemakan dalam Injil menjelang KenaikanNya ke Surga. Dalam amanat perpisahanNya, Tuhan Yesus kerap menekankan dua hal, yaitu menaati perintah (firman) Tuhan dan saling mengasihi - lihat Yohanes 15:7-12.
Menaati firmanNya antara lain berarti mau mengampuni orang yang bersalah dan tetap mengasihi, seperti telah diteladankan Yesus. Tiga kali Petrus mengkhianatiNya, tetapi Yesus mengampuninya dan tetap mengasihi dengan meminta Petrus menggembalakan domba-dombaNya - lihat Yohanes 21:15-17.
Jika pernikahan Anda di ambang kehancuran karena Anda diselingkuhi, janganlah mengambil keputusan segera untuk bercerai saat emosi Anda tinggi dan kacau. Ingatlah, Anda bukan pihak yang kalah. Anda adalah pemenang dalam hal kesetiaan berumah tangga. Inilah ujian iman Anda: apakah Anda akan menaati firman Tuhan dengan mengampuni pasangan hidup Anda dan tetap mengasihinya? Jika Anda menjawab "ya" untuk pertanyaan ini, berarti Anda benar-benar pemenang sejati di mata Tuhan.