Suatu malam, Allah menampakkan diri kepada Salomo dan berfirman kepadanya, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Salomo meminta hikmat dan pengertian, agar ia dapat memimpin bangsanya. Tuhan berkenan akan permintaan Salomo, karena ia tidak meminta kekayaan, kemuliaan, atau umur panjang. (lihat 2 Tawarikh 1:10-12)
Salomo memang menjadi raja yang adil dalam menghakimi rakyatnya. Kisah dua ibu yang memperebutkan seorang bayi melegendakan hikmat Salomo. Namun, Salomo tidak memiliki hikmat dalam relasi dengan Allah dan manusia. Ia memiliki 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik. Istri-istrinya itu menjauhkan hatinya dari Tuhan.
Pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya mencondongkan hati Salomo kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, berbeda dengan Daud - ayahnya. Tuhan menjadi marah dan berniat mengoyakkan kerajaan yang dikuasai Salomo. Tetapi Tuhan masih berbaik hati kepada Salomo, sehingga hal itu baru akan terjadi pada saat kerajaan diperintah oleh anak Salomo. Dan karena kasih Tuhan kepada Daud, bagi keturunannya disisakan satu suku (Yehuda) dari 12 suku Israel. (lihat 1 Raja-Raja 11:3-13)
Seandainya Tuhan berfirman kepada kita secara pribadi, apakah yang akan kita minta? Ajukanlah permintaan yang tepat - yang berkenan kepada Tuhan, memberi keselamatan bagi kita, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di
rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati
bait-Nya.
(Mazmur 27:4)
Minggu, 27 Juli 2014
Sabtu, 26 Juli 2014
Bertahan
Satu hal terpenting, agar tetap berada di jalanMu ialah bertahan.
Bertahan, meski segala tampak suram dan tanpa harapan.
Seperti dicontohkan Ayub, ketika ia didera berbagai musibah.
Seperti diteladankan Engkau sendiri, ya Yesus, dari Taman Getsemani ke Golgota.
Bertahan, sesuatu yang sulit dilakukan, selama kita berpegang pada keinginan kita.
Bertahan, sesuatu yang mudah dilakukan, selama kita mengarahkan pandangan kita kepadaNya.
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!....... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
(Wahyu 2:10)
Bertahan, meski segala tampak suram dan tanpa harapan.
Seperti dicontohkan Ayub, ketika ia didera berbagai musibah.
Seperti diteladankan Engkau sendiri, ya Yesus, dari Taman Getsemani ke Golgota.
Bertahan, sesuatu yang sulit dilakukan, selama kita berpegang pada keinginan kita.
Bertahan, sesuatu yang mudah dilakukan, selama kita mengarahkan pandangan kita kepadaNya.
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!....... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
(Wahyu 2:10)
Minggu, 20 Juli 2014
Mencabuti Lalang
Hanya Engkaulah yang berhak memerintahkan para malaikat untuk mencabuti lalang di ladang dunia. Sementara tugasku adalah mencabuti lalang, begitu ia mulai bertumbuh dalam ladang hatiku. Aku tak ingin lalang itu meninggi, sehingga Engkau tidak dapat memanen gandum kelak dari ladang hatiku.
Sabtu, 19 Juli 2014
Pelajaran dari Selembar Uang
Kemarin sore aku naik angkutan umum. Aku menyodorkan selembar uang Rp 20.000 yang masih mulus. Di antara uang kembalian yang diberikan sopir, ada selembar uang Rp 1.000 yang kehitaman, dekil, robek di beberapa tepinya, serta semplak di ujung kiri atasnya.
Aku sangat kecewa. Aku menggerutu. Mengapa aku telah berbaik hati memberikan sopir itu uang yang bagus, tetapi ia mengembalikan dengan uang yang butut?
Aku begitu kesal dengan uang lusuh itu, sampai aku menyelipkannya di pagar stasiun kereta, membiarkan orang lain menemukan dan mengambilnya.
Dalam perjalanan di kereta, aku merenungkan kejadian tersebut. Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepadaku lewat peristiwa yang tidak menyenangkan itu?
Aku diingatkan kembali akan sebuah renungan harian yang aku baca dalam buku God Calling. Tuhan sedang membentuk karakter pribadiku. Aku hendaknya belajar untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain setelah aku melakukan suatu perbuatan baik.
Lewat pengalaman tersebut, aku diajarNya untuk rendah hati dan berdoa bagi orang yang telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan ini. "Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan," kataMu dalam Matius 18:7.
Setelah mendapat pemahaman itu, aku malah menyesal telah membuang uang lusuh tersebut. Seandainya uang itu masih ada padaku, aku akan membingkainya dan memajangnya sebagai pengingat - selalu rendah hati serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain.
Aku sangat kecewa. Aku menggerutu. Mengapa aku telah berbaik hati memberikan sopir itu uang yang bagus, tetapi ia mengembalikan dengan uang yang butut?
Aku begitu kesal dengan uang lusuh itu, sampai aku menyelipkannya di pagar stasiun kereta, membiarkan orang lain menemukan dan mengambilnya.
Dalam perjalanan di kereta, aku merenungkan kejadian tersebut. Apa yang Tuhan ingin ajarkan kepadaku lewat peristiwa yang tidak menyenangkan itu?
Aku diingatkan kembali akan sebuah renungan harian yang aku baca dalam buku God Calling. Tuhan sedang membentuk karakter pribadiku. Aku hendaknya belajar untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain setelah aku melakukan suatu perbuatan baik.
Lewat pengalaman tersebut, aku diajarNya untuk rendah hati dan berdoa bagi orang yang telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan ini. "Yang Kukehendaki adalah belas kasih, bukan persembahan," kataMu dalam Matius 18:7.
Setelah mendapat pemahaman itu, aku malah menyesal telah membuang uang lusuh tersebut. Seandainya uang itu masih ada padaku, aku akan membingkainya dan memajangnya sebagai pengingat - selalu rendah hati serta tidak mengharapkan ucapan terima kasih, penghargaan, dan kebaikan dari orang lain.
Rabu, 16 Juli 2014
Ilmu dan Iman
Sewaktu remaja, ia berkisah, sebagai putra altar ia bisa setiap hari mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja. Ia begitu percaya akan isi Kitab Suci. Kini di usianya yang ke-70 tahun, imannya menguap. Ia meragukan isi Kitab Suci, bahkan keberadaan Tuhan.
Baginya, bukti-bukti temuan ilmu pengetahuan menjadi kebenaran yang sahih, bukan isi Kitab Suci yang bagaikan cerita rekaan. Katanya, sekarang ia beriman secara rasional. Ia hanya sesekali ke Gereja, agama tidak lebih sebagai sarana untuk menenteramkan hati.
Apa yang dapat kukatakan kepada orang-orang seperti itu, yang bersikukuh dengan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran? Mata hati mereka tak lagi dapat memandangMu, telinga mereka tak lagi mampu mendengar bisikanMu. Pemaparanku tentang Engkau sama sekali tidak digubris. Semoga di penghujung hidup mereka kelak, mata hati mereka kembali terang, dan telinga mereka kembali dapat mendengar bisikan lembutMu.
Melintas dalam benakku, perkataanMu yang meneguhkan, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Matius 11:25)
Dalam pandanganMu, orang bijak dan orang pandai yang mengagungkan ilmu pengetahuan malah Kau anggap bukan apa-apa. Engkau justru memberitahu rahasia KerajaanMu kepada orang-orang kecil yang membuka hati seluas-luasnya kepadaMu.
Baginya, bukti-bukti temuan ilmu pengetahuan menjadi kebenaran yang sahih, bukan isi Kitab Suci yang bagaikan cerita rekaan. Katanya, sekarang ia beriman secara rasional. Ia hanya sesekali ke Gereja, agama tidak lebih sebagai sarana untuk menenteramkan hati.
Apa yang dapat kukatakan kepada orang-orang seperti itu, yang bersikukuh dengan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran? Mata hati mereka tak lagi dapat memandangMu, telinga mereka tak lagi mampu mendengar bisikanMu. Pemaparanku tentang Engkau sama sekali tidak digubris. Semoga di penghujung hidup mereka kelak, mata hati mereka kembali terang, dan telinga mereka kembali dapat mendengar bisikan lembutMu.
Melintas dalam benakku, perkataanMu yang meneguhkan, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Matius 11:25)
Dalam pandanganMu, orang bijak dan orang pandai yang mengagungkan ilmu pengetahuan malah Kau anggap bukan apa-apa. Engkau justru memberitahu rahasia KerajaanMu kepada orang-orang kecil yang membuka hati seluas-luasnya kepadaMu.
Kamis, 03 Juli 2014
Maha-Segalanya
Memandang dari udara - tebaran atap rumah-rumah yang berdesakan, membuat diriku merasa sangat kecil di mataMu.
Begitu banyak rumah, terlebih lagi banyak sekali orang yang tinggal di dalam rumah-rumah itu - tetapi Engkau dapat mengetahui dengan tepat, segala isi hati setiap orang di dunia.
Engkau Maha Segalanya, ya Tuhan Allah Tritunggal,
pikiranku tak sanggup menjangkau pikiranMu,
hanya jiwaku yang mampu mengagungkanMu dalam kekaguman total, dan rohku perlahan merayap mendekatiMu.
Begitu banyak rumah, terlebih lagi banyak sekali orang yang tinggal di dalam rumah-rumah itu - tetapi Engkau dapat mengetahui dengan tepat, segala isi hati setiap orang di dunia.
Engkau Maha Segalanya, ya Tuhan Allah Tritunggal,
pikiranku tak sanggup menjangkau pikiranMu,
hanya jiwaku yang mampu mengagungkanMu dalam kekaguman total, dan rohku perlahan merayap mendekatiMu.