Kamis, 22 Mei 2014

Mendekat ke Bapa

Terima kasih, Bapa.... 
Engkau berkenan memasukkan aku dalam daftar orang-orang yang perlu diselamatkan. 
Engkau lalu mengutus Putra-Mu untuk menebusku.

Kebesaran Kasih-Mu nyata dalam diri Putra-Mu yang menarikku keluar dari jurang maut, membersihkanku dari segala noda dosa, dan memahkotaiku dengan hidup kekal.

Berbahagialah orang yang dosanya diampuni.
Aku menjadi orang yang diberkati karena Engkau. 

Kamis, 15 Mei 2014

Pengkhianat

Salah satu tokoh yang muncul setiap kali kita memperingati peristiwa sengsara dan wafat Kristus adalah Yudas Iskariot. Ia telah mengikuti Sang Guru selama lebih dari tiga tahun. Pada saat Yesus mengutus para rasul pergi berdua-dua untuk memberitakan Injil, Yudas ikut mewartakan Kabar Gembira, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Dalam perjamuan terakhir, Yudas pun masih dibasuh kakinya oleh Yesus.

Namun, rupanya kedekatan dengan Yesus dan karunia-karunia yang diperoleh Yudas sebagai rasul, tak cukup mampu mengalahkan apalagi memadamkan kejahatan yang ada dalam dirinya. Iblis berhasil membisiki Yudas untuk mengkhianati Sang Guru, justru pada saat mereka sedang makan bersama (lihat Yohanes 13:2).

Pengkhianat Kristus tetap ada dalam aneka wujudnya sampai sekarang. Paus Emeritus Benediktus XVI dalam pesan di Vatikan pada 26 Agustus 2012 menegaskan, umat Katolik yang tidak setuju dengan ajaran Katolik atau tidak percaya kepada Yesus Kristus, hendaknya meninggalkan Gereja ketimbang menjadi pengkhianat seperti Yudas. Yudas tetap bersama Yesus bukan karena iman atau cinta, melainkan dengan maksud rahasia mengkhianati Gurunya. Kejahatan paling serius dari Yudas adalah kepalsuan. 

Adakah kita tetap bersama Yesus saat ini karena iman dan cinta, atau karena kepalsuan - mengaku pengikut Kristus tetapi punya niat dan rencana terselubung yang menyakiti hatiNya? Atau tetap mengikuti Perayaan Ekaristi setiap minggu, namun berpandangan dan berperilaku yang jauh dari teladanNya? Senantiasa sadar dan pertimbangkan segala pikiran dan tindakan kita, agar tidak menjadi pengkhianat Kristus.     
 

Jumat, 09 Mei 2014

Rahasia Kekuatan

Jika roh sudah bersatu, masih perlukah kesatuan fisik? Bukankah persatuan roh lebih erat dan kekal dibandingkan persatuan fisik?

Setelah pertobatanku, belum setiap hari aku menghadiri Perayaan Ekaristi. Aku baru menambah satu hari dalam seminggu - selain hari Minggu - untuk menghampiri Meja PerjamuanMu. Hari ini Engkau membuka pemahamanku yang lebih luas tentang pentingnya persatuan fisik denganMu, di samping persatuan batin/roh. 

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. (Yohanes 6:53-54, 56-58b)

KehendakMu jelas, mengharapkan semua orang pilihanMu bersatu sesering mungkin dengan Tubuh dan DarahMu, agar Engkau tinggal di dalam mereka dan mereka di dalam Engkau. Engkaulah yang akan menggerakkan mereka, menjadi energi kehidupan bagi mereka.

Memang, telah lama kuperhatikan, orang-orang berjubah - rohaniwan dan rohaniwati- memiliki kekuatan fisik yang tangguh. Meskipun telah lanjut usia dan didera aneka penyakit, semangat mereka tetap berkobar. Mereka masih sanggup beraktivitas dari pagi sampai petang tanpa istirahat.

Yang mengagumkan, kelemahan fisik mereka seolah-olah lenyap sama sekali, tidak merintangi karya pelayanan mereka. Itulah rahasia kekuatan mereka:menyambut Tubuh dan DarahMu setiap pagi, sebelum memulai aktivitas harian mereka.

Sementara aku, tanpa melakukan banyak aktivitas pelayanan, tubuhku cepat merasa lelah. Pernah suatu hari Jumat, aku menghadiri Misa pagi. Setelah itu aku sibuk melakukan aktivitas kerja sepanjang hari. Menjelang malam, beberapa teman mengajakku bertandang ke rumah seorang teman lain untuk berbagi pengalaman hidup. Aku baru bisa beristirahat ketika hari itu hampir berakhir. Aku sama sekali tidak merasa letih. Aku punya energi ekstra yang kuyakini berasal dariMu.

"Untuk kelemahan fisikmu, engkau begitu rajin menenggak obat rutin setiap hari. Tak pernah sekali pun engkau melewatkan jadwal minum obat itu. Mengapa engkau tidak melakukan yang sama terhadapKu? Santaplah Tubuh dan DarahKu setiap pagi, maka engkau akan memperoleh kekuatanKu. Persatuan Roh adalah untuk roh dan jiwamu, sedangkan persatuan fisik adalah untuk ragamu," suaraMu terdengar lembut dalam batinku.

Terima kasih, Yesus, kini aku mengerti sepenuhnya makna menyambut Tubuh dan DarahMu setiap hari. Secara bertahap aku akan memenuhinya, sehingga persatuan kita bukan semata persatuan roh tetapi juga persatuan fisik, yang akan memampukanku bergerak di dalamMu dan bersamaMu.

Selasa, 06 Mei 2014

Terserah KepadaMu

Pengalaman bersamaMu di "padang gurun" tahun ini menghantarku pada pemahaman baru dalam berelasi denganMu:

Tak perlu aku merancang segala sesuatu untuk menyenangkan hatiMu
Tak perlu aku mencita-citakan segala sesuatu dengan alasan untuk kemuliaanMu
Tak perlu aku melakukan segala sesuatu dengan berjerih payah atas namaMu

Engkau tidak pernah menuntutku
Engkau tidak pernah memaksaku
Engkau tidak pernah mengharapkan kemasyhuran namaMu

Pada dasarnya, Engkau telah memiliki segalanya
Engkau telah mulia, tanpa perlu manusia menyanjungMu
Aku mendekatiMu, karena aku membutuhkanMu

Yang perlu kulakukan adalah mengikuti ayunan langkahMu dalam diriku
Membiarkan Engkau memakai raga dan jiwa ini seturut kehendakMuBersamaMu dan di dalamMu aku bergerak

Akan ada banyak kesempatan,
Akan ada banyak pilihan,
Engkau yang bekerja dalam diriku yang akan menentukannya

Akan ada banyak hambatan,
Akan ada banyak tantangan,
Engkau yang bertakhta dalam diriku yang akan menghadapinya

Aku berpikir, namun bukan lagi "aku" yang memikirkannya
Aku berkata, namun bukan lagi "aku" yang mengatakannya
Aku bergerak, namun bukan lagi "aku" yang menggerakkanya
Aku hanyalah wadah, Engkaulah yang mengisinya

Penyerahan diri ini membawa nuansa kehidupan baru
Segala sesuatu tampak indah
Segala sesuatu tampak baik
Segala sesuatu tampak menyenangkan
Segalanya terserah kepadaMu