Ketika Engkau mengunjungi rumah Marta dan Maria, Engkau menegur Marta yang begitu sibuk melayani Engkau dan rombonganMu, sementara Maria dengan tenang duduk diam di bawah kakiMu. (Lukas 10:38-42)
Ketika aku mulai sibuk merancang ini-itu dengan harapan semakin banyak orang mengenalMu dan memiliki relasi yang dekat denganMu, aku malah merasa jauh dariMu, ada jarak di antara kita. Aku mempersingkat waktu doa pagi, menunda waktu merenungkan FirmanMu, dan meniadakan waktu hening - saat kuangkat jiwaku kepada RohMu.
"Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu," kataMu kepada Marta, seperti Engkau tujukan juga kepadaku.BagiMu, waktu bersamaMu lebih penting ketimbang segala urusan lain -
termasuk berbagai kesibukan pelayanan atas namaMu.Engkau ingin
orang-orang yang mencintaiMu hadir di hadapanMu, duduk diam menikmati waktu bersamaMu.
Tanda cinta yang sejati: dua hati berpadu dalam keheningan.
Senin, 29 Juli 2013
Senin, 22 Juli 2013
MenemukanMu
Di manakah Engkau bisa ditemukan? Ketika aku sibuk mencariMu, aku malah tidak menemukanMu.
Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?" Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia. (Kidung Agung 3:1-4a)
Begitu aku meninggalkan segalanya, diam dalam keheningan, Engkau mendekat dengan segala pesonaMu.
Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. "Apakah kamu melihat jantung hatiku?" Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia. (Kidung Agung 3:1-4a)
Begitu aku meninggalkan segalanya, diam dalam keheningan, Engkau mendekat dengan segala pesonaMu.
Rabu, 17 Juli 2013
Membedakan
Ajarilah aku, ya Yesus, agar dengan bijak dapat membedakan antara: menunggu waktuMu yang tepat untuk bertindak dengan keengganan dalam diriku untuk bertindak selaras kehendakMu.
Aku membuka diriku seluas-luasnya, agar Engkau dapat berkarya dalam diriku, sesuai rencanaMu sejak semula - ketika Engkau menciptakan aku.
Aku membuka diriku seluas-luasnya, agar Engkau dapat berkarya dalam diriku, sesuai rencanaMu sejak semula - ketika Engkau menciptakan aku.
Senin, 15 Juli 2013
Belajar MencintaiMu
Ketika sendi-sendi sekujur tubuh terasa ngilu, kepala bagai ditusuk-tusuk, mata pedih berair, tenaga lenyap sama sekali; aku teringat kepadaMu. Aku sangat bersyukur, aku boleh sedikit merasakan penderitaanMu di kayu salib melalui sakit yang kuderita ini.
Hari demi hari kulalui tanpa berdaya. Menggerakkan anggota tubuh saja perlu perjuangan. Aku masih lebih beruntung ketimbang diriMu saat memanggul salib. Aku mengonsumsi parasetamol tiga kali sehari untuk meredakan sakit sendi-sendi ini, sementara Engkau menanggung luka dan sakit tanpa obat pereda sakit.
Tidak seperti pengalaman-pengalaman sakitku sebelumnya, kali ini aku menerima sakit yang Kau berikan kepadaku dengan penuh cinta kepadaMu.Ternyata perbedaan pandangan ini sangat memengaruhi suasana hati dalam menanggung sakit flu tulang. Aku menjadi lebih pasrah pada kehendakMu dan mengangkat jiwaku mendekati RohMu.
Terima kasih, karena Engkau berkenan memakai tubuhku untuk berbagi penderitaanMu. Tak ada lagi tanya untuk denyut berkepanjangan di alis mata kanan selama beberapa hari, detak jantung berulang yang memedihkan di selama Jumat sore hingga malam, rahang mulut yang tak dapat digerakkan selama satu jam pada Jumat malam minggu berikutnya. Aku kini paham makna cinta di balik penderitaan. Dengan cara inilah aku belajar mencintaiMu seperti Engkau ingin kucintai.
Hari demi hari kulalui tanpa berdaya. Menggerakkan anggota tubuh saja perlu perjuangan. Aku masih lebih beruntung ketimbang diriMu saat memanggul salib. Aku mengonsumsi parasetamol tiga kali sehari untuk meredakan sakit sendi-sendi ini, sementara Engkau menanggung luka dan sakit tanpa obat pereda sakit.
Tidak seperti pengalaman-pengalaman sakitku sebelumnya, kali ini aku menerima sakit yang Kau berikan kepadaku dengan penuh cinta kepadaMu.Ternyata perbedaan pandangan ini sangat memengaruhi suasana hati dalam menanggung sakit flu tulang. Aku menjadi lebih pasrah pada kehendakMu dan mengangkat jiwaku mendekati RohMu.
Terima kasih, karena Engkau berkenan memakai tubuhku untuk berbagi penderitaanMu. Tak ada lagi tanya untuk denyut berkepanjangan di alis mata kanan selama beberapa hari, detak jantung berulang yang memedihkan di selama Jumat sore hingga malam, rahang mulut yang tak dapat digerakkan selama satu jam pada Jumat malam minggu berikutnya. Aku kini paham makna cinta di balik penderitaan. Dengan cara inilah aku belajar mencintaiMu seperti Engkau ingin kucintai.
Minggu, 07 Juli 2013
Ujian Tingkat Lanjut
Beberapa hari sebelum kami sakit, putriku mengatakan, sekarang Engkau akan mengujiku melalui dirinya. Aku masih tenang saja, sampai tiba-tiba putriku menderita sesak napas di dada kanan dan timbul bercak-bercak merah di wajah dan sekujur tubuhnya. Dari diagnosis dokter, putriku menderita sakit campak (measles). Masih menurut dokter, penyakit ini sangat menular, karena itu disarankan putriku tidur terpisah.
Di hari yang sama, menjelang malam hari, aku mulai merasakan gejala serupa. Tubuh menggigil dan demam, mata pedas, persendian sakit. Ah, bagaimana aku bisa merawat putriku yang sakit, kalau aku sendiri sakit? Aku mulai melirik jalan pintas: ke rumah sakit, dirawat sekamar berdua.
Rumah sakit yang biasanya penuh pasien sehingga harus mengantre, kali ini begitu aku menelepon, kamar tersedia. Inikah jalanMu atau godaan? Aku teringat, aku telah bertekad tidak mau diopname lagi setelah tiga kali aku keluar-masuk rumah sakit dalam kurun 14 bulan. Terakhir aku diopname karena muntah dan diare pada pertengahan Januari 2013.
Tentu saja, aku berusaha memegang teguh komitmenku kepadaMu. Lalu, muncul suara yang membujukku: "Hei, kasus ini berbeda. Yang sakit bukan hanya dirimu, tetapi juga anakmu. Bagaimana kau bisa merawat orang sakit sementara kau sendiri sakit? Di rumah sakit, kau tak perlu pusing memikirkan makanan dan sebagainya."
Malam itu angin bertiup kencang, hujan turun. Dalam cuaca seperti ini, rasanya bukan tindakan bijak pergi ke rumah sakit dengan taksi. Aku menunda keputusanku sampai keesokan hari.
Aku bangun dengan hati bimbang. Aku memohon kepadaMu untuk menunjukkan kehendakMu. Suara lembut dalam hati mengatakan agar aku menyimak bacaan hari ini. Di situlah aku akan mendapatkan jawabanMu.
Bacaan Kamis lalu (4 Juli) mengisahkan tentang iman Abraham yang diuji sehabis-habisnya oleh Tuhan. Abraham diminta mengurbankan Ishak, anak tunggal kesayangannya. Meski berat, tanpa bertanya, Abraham menaati kehendak Tuhan. (lihat Kejadian 22:1-19) Kemudian, bacaan Injil hari itu mengulas tentang orang lumpuh yang Engkau sembuhkan karena keteguhan imannya. (Matius 9:1-8)
Bacaan tersebut sama dengan situasi yang kualami sekarang. Engkau memintaku keteguhan imanku untuk berani "mengurbankan" putriku untukMu. Membiarkan Engkau yang menjamah dan menyembuhkannya, tanpa ketergantungan besar pada kenyamanan pengobatan di rumah sakit.
Dalam keterbatasan fisikku yang menderita sakit pula, aku memercayakan segalanya kepadaMu. Benarlah yang dikatakan putriku, sekarang Engkau mengujiku melalui dirinya. Ujian yang hanya menyangkut diri sendiri lebih mudah dihadapi, daripada ujian yang menyangkut orang-orang yang disayangi.
Engkau menempatkanku pada ujian tingkat lanjut ini untuk semakin memurnikan relasiku denganMu. Seperti Abraham, aku mau melaksanakan perintahMu tanpa mempertanyakannya.
Di hari yang sama, menjelang malam hari, aku mulai merasakan gejala serupa. Tubuh menggigil dan demam, mata pedas, persendian sakit. Ah, bagaimana aku bisa merawat putriku yang sakit, kalau aku sendiri sakit? Aku mulai melirik jalan pintas: ke rumah sakit, dirawat sekamar berdua.
Rumah sakit yang biasanya penuh pasien sehingga harus mengantre, kali ini begitu aku menelepon, kamar tersedia. Inikah jalanMu atau godaan? Aku teringat, aku telah bertekad tidak mau diopname lagi setelah tiga kali aku keluar-masuk rumah sakit dalam kurun 14 bulan. Terakhir aku diopname karena muntah dan diare pada pertengahan Januari 2013.
Tentu saja, aku berusaha memegang teguh komitmenku kepadaMu. Lalu, muncul suara yang membujukku: "Hei, kasus ini berbeda. Yang sakit bukan hanya dirimu, tetapi juga anakmu. Bagaimana kau bisa merawat orang sakit sementara kau sendiri sakit? Di rumah sakit, kau tak perlu pusing memikirkan makanan dan sebagainya."
Malam itu angin bertiup kencang, hujan turun. Dalam cuaca seperti ini, rasanya bukan tindakan bijak pergi ke rumah sakit dengan taksi. Aku menunda keputusanku sampai keesokan hari.
Aku bangun dengan hati bimbang. Aku memohon kepadaMu untuk menunjukkan kehendakMu. Suara lembut dalam hati mengatakan agar aku menyimak bacaan hari ini. Di situlah aku akan mendapatkan jawabanMu.
Bacaan Kamis lalu (4 Juli) mengisahkan tentang iman Abraham yang diuji sehabis-habisnya oleh Tuhan. Abraham diminta mengurbankan Ishak, anak tunggal kesayangannya. Meski berat, tanpa bertanya, Abraham menaati kehendak Tuhan. (lihat Kejadian 22:1-19) Kemudian, bacaan Injil hari itu mengulas tentang orang lumpuh yang Engkau sembuhkan karena keteguhan imannya. (Matius 9:1-8)
Bacaan tersebut sama dengan situasi yang kualami sekarang. Engkau memintaku keteguhan imanku untuk berani "mengurbankan" putriku untukMu. Membiarkan Engkau yang menjamah dan menyembuhkannya, tanpa ketergantungan besar pada kenyamanan pengobatan di rumah sakit.
Dalam keterbatasan fisikku yang menderita sakit pula, aku memercayakan segalanya kepadaMu. Benarlah yang dikatakan putriku, sekarang Engkau mengujiku melalui dirinya. Ujian yang hanya menyangkut diri sendiri lebih mudah dihadapi, daripada ujian yang menyangkut orang-orang yang disayangi.
Engkau menempatkanku pada ujian tingkat lanjut ini untuk semakin memurnikan relasiku denganMu. Seperti Abraham, aku mau melaksanakan perintahMu tanpa mempertanyakannya.
Senin, 01 Juli 2013
Darah MuliaMu
Dari dua situs ini aku mengetahui bahwa hari ini, 1 Juli, pernah dirayakan sebagai Hari Pesta Darah MuliaMu, ya Kristus. (sumber: https://www.facebook.com/notes/gereja-katolik/sekilas-tentang-hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus/10150232624182440 dan http://www.indocell.net/yesaya/pustaka4/id6.htm)
Pada 1849, Paus Pius IX menyatakan hari Minggu pertama bulan Juli sebagai Pesta Darah Mulia dan wajib dirayakan secara universal. Selanjutnya, Paus Pius X melakukan pembaruan penanggalan liturgi dan Pesta Darah Mulia dipindahkan menjadi tanggal 1 Juli.
Pada 1961, semua pesta sengsara termasuk Pesta Darah Mulia yang tercantum dalam appendix, dihapuskan, kecuali apabila ada permintaan dengan alasan yang masuk akal oleh ordo/kongregasi atau keuskupan yang memiliki keterkaitan istimewa dengan pesta-pesta tersebut.
Kebijakan gerejawi berubah pada masa kepemimpinan Paus Yohanes XXIII.Beliau adalah seorang yang berdevosi pada Darah Mulia. Beliau mempromosikan devosi terhadap Darah Mulia melalui ensiklik “Inde a Primis.”
Tahun 1960-an ada perubahan penanggalan liturgi Gereja universal. Diputuskan bahwa pesta-pesta devosional harus dipindahkan atau paling tidak diturunkan tingkatannya. Pesta Darah Mulia yang dirayakan pada 1 Juli turut dihapuskan, walaupun tidak lama setelah keputusan ini dikeluarkan, banyak petisi dari para uskup yang meminta agar Pesta Darah Mulia tetap dilestarikan. Namun demikian Konsili menolak petisi-petisi tersebut dan memutuskan untuk menambahkan kata “Darah,” sehingga Hari Raya Tubuh Kristus dirayakan sebagai “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.”
Walaupun kita tidak lagi mempraktikkan Pesta Darah Mulia dalam penanggalan liturgi Gereja Universal, namun secara tradisional Gereja Katolik mendedikasikan BULAN JULI demi penghormatan pada Darah Mulia Kristus.
Pada hari yang istimewa ini, perkenankanlah aku mendaraskan doa bagiMu, ya Penebus dan Juru Selamatku:
Terpujilah Darah Kristus yang Mahaindah,
yang telah menebusku dari segala dosa dan mengampuni semua kesalahanku.
Terpujilah Darah Kristus yang Mahasuci,
yang telah menarikku dari jurang maut dan mengaruniakan kehidupan kekal kepadaku.
Segala hormat, puji, dan sembah kami haturkan kepadaMu, ya Yesus Kristus,
yang telah taat dan rela mengurbankan diriMu untuk menyelamatkan umat manusia melalui puluhan ribu tetes DarahMu yang Mulia. Amin.