Selasa, 23 April 2013

Kematian dan Kehidupan

Selami dan pahami kematian sedalam-dalamnya bersama Kristus, maka engkau tidak akan takut lagi menghadapi kehidupan.


Kamis, 18 April 2013

S - A - K - I - T dan S - A - L - I - B

Menunggu seorang sahabat yang tengah menjalani operasi bersama beberapa orang kawan, memunculkan berbagai kisah pengalaman seputar kesehatan. Salah seorang kawan bertutur tentang putranya yang sakit "aneh." Ia telah membawa putranya berobat ke beberapa negara, tetapi para dokter tidak dapat menemukan penyakitnya. Kawan lain bercerita tentang anak temannya yang menderita penyakit saraf sangat langka: anak itu tidak boleh tertawa, karena akan pingsan. Ada lagi kisah tentang virus yang masuk ke otak dan ke jantung, serta cerita lainnya.

Merenungkan berbagai penyakit yang melanda manusia, membawa pada pemahaman: akhirnya semua bergantung kepadaMu, ya Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan. Jika Engkau menghendaki seseorang sehat, akan sehatlah orang itu sekalipun dikelilingi oleh orang-orang yang sakit dan lingkungan yang kurang sehat. Namun, jika Engkau menghendaki seseorang terkena penyakit tertentu, akan sakitlah orang itu meskipun sudah berobat ke manapun dan meminum obat terampuh sekalipun.

Maka, satu hal terpenting yang perlu kita lakukan ketika sakit adalah S-A-K-I-T =
                                               
                               Saya - Akan - Kembali - Ingat - Tuhan

Jadikanlah sakit sebagai sarana dan kesempatan istimewa untuk dekat dengan Sang Pemberi Kehidupan, maka sakit itu akan berubah menjadi keindahan S-A-L-I-B =
                                               
                               Saya - Alami - Limpahan - Iman dan - Berkat


Kamis, 11 April 2013

Jarak

Dalam sosiologi kedekatan relasi seseorang dengan orang lain dapat dilihat dari jarak antara kedua orang tersebut. Dua orang yang sangat dekat relasinya berada pada jarak intim (0-45cm), sedangkan dua orang yang cukup dekat relasinya ada dalam lingkup jarak pribadi (45cm-1,22m). Sementara itu, jarak sosial (1,22m-4,66m) merupakan jarak yang wajar dalam komunikasi antar-manusia, dan jarak publik (lebih jauh dari 3,66m) salah satu contohnya jarak selebriti yang sedang berada di atas pentas dengan para penggemarnya. Jarak ini merupakan jarak yang nyata terlihat dan terukur, di mana terjadi keterlibatan intensif panca indra seseorang terhadap orang lain. 

Senada dengan perbedaan jarak itu adalah jarak psikologis yang terentang antara seseorang dengan orang lain. Jarak psikologis di sini maksudnya seberapa jauh seseorang bisa masuk dalam ranah pribadi orang lain.

Seorang sahabat memintaku menulis buku perjalanan hidupnya. Namun, ia tetap menjaga jarak pribadi denganku. Ia sulit dikontak, ia tak pernah melibatkanku dalam kegiatan-kegiatan pribadinya. Kami hanya bertemu seperlunya di ruang publik.

Berbeda dengan Engkau, ya Yesus. Pada saat Engkau memanggilku untuk mendekat dan aku menanggapi panggilanMu, maka yang terjadi adalah leburnya jarak psikologis antara kita. Ketika aku kemudian memintaMu untuk memberiku kuasa Roh Kudus yang lebih besar, dengan lembut Engkau memberitahu, jika jiwa telah menyatu denganMu, maka RohMu adalah Roh Kudus yang akan menguasai dan menggerakkan roh dan jiwa. Betapa dahsyat pemahaman dan pengalaman yang terjadi di ranah spiritual ini.

Minggu, 07 April 2013

Real Time, Real Fact

Perkembangan teknologi saat ini begitu canggih. Kita dapat memotret sesuatu dilengkapi dengan koordinat spasialnya, dan dalam hitungan detik langsung diterima oleh si penerima. Menyalakan pesawat televisi atau perangkat komputer, kita bisa menyaksikan siaran langsung atau live streaming tentang suatu peristiwa penting yang sedang berlangsung. Pada waktu saat ini (real time), kita dapat memperoleh fakta yang sebenarnya (real fact).

Kecanggihan tersebut di satu sisi memudahkan dan menggembirakan, namun di sisi lain memprihatinkan. Kita baru percaya akan sesuatu, kalau sudah melihat faktanya. Maka, sepiring makanan, pemandangan alam tertentu, kejadian tertentu lebih bergaung kebenarannya, jika telah ditampilkan fotonya.

Kita menjadi orang-orang yang tidak mudah percaya pada kebenaran suatu hal, sebelum kita melihat gambarnya - entah lewat layar telepon seluler, televisi, komputer, atau langsung. Inilah sebabnya, mengapa orang-orang modern sekarang sulit mengimani Yesus Kristus.

Kita bagai Tomas yang tidak akan percaya akan kebangkitan Kristus, sebelum melihat bekas paku pada tanganNya, mencucukkan jari ke bekas paku itu, dan mencucukkan tangan ke dalam lambungNya. (lihat Yohanes 20:25)

Tomas beruntung, karena delapan hari kemudian, ia didatangi Kristus yang telah bangkit. Kristus meminta Tomas menaruh jarinya ke tangan Kristus dan mencucukkan tangannya ke lambung Kristus. Bagaimana dengan kita yang tidak pernah melihat Kristus secara kasat mata?  Tak ada seorang pun dari kita yang bisa memotret luka di tangan dan lambung Kristus, lalu mengirimkannya kepada orang-orang lain agar percaya.

Di sinilah iman berperan. Keyakinan bahwa karena kuasa Allah, Kristus telah bangkit dari alam maut. Kebangkitan Kristus benar adanya, meskipun kita tidak melihat secara langsung.

Jika kita termasuk orang-orang yang percaya penuh akan kebangkitan Kristus, maka kita adalah orang-orang yang berbahagia, seperti dikatakan Kristus sendiri: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29)

Dan pada saat kita mengimani kebangkitan Kristus, maka saat itu pula (real time) kita memperoleh fakta sebenarnya (real fact) akan kebenaran tersebut. Tidak secara kasat mata, tetapi semua itu berlangsung dalam relung spiritual kita - dalam dunia rohaniah yang tidak kasat mata. 


Jumat, 05 April 2013

Lebih MengenalMu

Perjalanan di padang gurun selama masa Prapaskah kali ini membuatku lebih mengenalMu dan menyatu denganMu.

Ada orang yang menganggapMu sebagai salah seorang nabi seperti nabi Musa, nabi Elia, atau nabi-nabi lain yang bernubuat sampai 400 tahun sebelum kelahiranMu di dunia. Yang lain, memandangMu sebagai guru spiritual yang berhasil mengosongkan diri hingga mencapai kesempurnaan batiniah. 

Bagiku, Engkau lebih dari sekadar nabi atau guru spiritual. Engkau adalah Putra Allah yang menjelma menjadi manusia. Dalam diriMu bersemayam Roh Allah Bapa dan Roh Kudus. Maka, mengenalMu sama dengan mengenal Bapa yang mengutusMu dan juga mengenal Roh Kudus yang selalu bersama denganMu.

MengenalMu secara mendalam telah menghantarku pada kesatuan roh denganMu. Membawaku pada dunia tidak kasat mata yang hanya dapat dirasakan kedamaiannya di kedalaman jiwa. Ketika dunia kasat mata tempat ragaku hidup saat ini mulai bergejolak dengan segala persoalannya, aku hanya perlu berdiam dalam keheningan dan masuk ke kedalaman jiwa di mana Engkau bersemayam. Lalu, aku memandangMu, merasakan kehadiranMu, dan mendengarkan suaraMu.

Degup jantung yang keras tak lagi kurasakan, setelah dengan lembut Engkau memasuki ruang jiwaku. Tiada lagi keraguan dan ketakutan berhadapan denganMu. Yang ada hanyalah sukacita dan damai.