Senin, 28 Februari 2022
Koleksi
Jumat, 18 Februari 2022
Keberanian Mendekati Salib
O Yesus, betapa sedikit orang yang berani mendekati salib-Mu... apalagi memeluk dan mencintai salib. Padahal Engkau telah mengatakan: "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku." (Markus 8:34)
Menurut Santo Louis-Marie de Montfort, seorang sahabat salib yang sempurna adalah seorang pengemban Kristus yang sejati, yang dengan sungguh hati dapat mengatakan: "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:20)
Berilah aku keberanian mendekati salib-Mu, ya Yesusku
Senin, 14 Februari 2022
Ketika Tuhan Menunjukkan Kuasa-Nya
Sabtu, 29 Januari 2022
Kebijaksanaan Ilahi
Dalam kehidupan manusia, ada kalanya Tuhan memakai orang-orang tidak benar untuk semakin memurnikan orang-orang benar. Tetapi bukan berarti orang tidak benar itu kemudian tidak menanggung hukuman atas penyimpangannya.
Contohnya, raja Saul dipakai Tuhan untuk memurnikan Daud. Raja Saul yang merasa takhtanya terancam karena kehadiran Daud, berusaha membunuhnya dua kali. Pada suatu kesempatan, ketika Saul dan para pengiringnya sedang tidur di perkemahan; Daud sebenarnya bisa membunuh raja Saul, tetapi ia tidak mau melakukannya. Dalam peristiwa ini, Daud semakin dimurnikan oleh Tuhan. Ia berhasil mengalahkan keinginan diri untuk membunuh orang yang akan membunuhnya (lihat 1 Samuel 26:1-23).
Raja Saul yang tidak taat kepada Tuhan, akhirnya memilih bunuh diri ketika orang Filistin berperang melawan orang Israel (lihat 1 Samuel 31:1-10).
Inilah Kebijaksanaan Ilahi yang tersembunyi di mata manusia.
Jumat, 07 Januari 2022
Nikmatilah Prosesnya
Sabtu, 01 Januari 2022
Meneruskan Peziarahan
Selamat menjejakkan langkah di tahun 2022!
Mari meneruskan peziarahan hidup kita,
berjalan bersama Tuhan di dunia ini,
sampai mencapai Tanah Air Surgawi kelak.
Sabtu, 25 Desember 2021
Dimensi Lain Perayaan Natal
Perayaan Natal identik dengan sukacita yang besar. Tentu saja kita sangat bergembira karena Allah Putra berkenan turun ke bumi untuk misi penyelamatan umat manusia dari dosa dan maut. Tetapi, di balik rasa kegembiraan besar itu, pernahkah kita merenungkan sejatinya Perayaan Natal adalah tanda dimulainya kesengsaraan?
Betapa tidak, kedua orang tua Yesus - Yosef dan Maria - sudah harus bersengsara menempuh perjalanan jauh dari Nazaret ke Betlehem karena program cacah jiwa penguasa waktu itu. Lalu, mereka tidak memperoleh penginapan yang pantas, sehingga Maria melahirkan Bayinya di kandang hewan.
Selanjutnya, ada upaya raja Herodes membunuh bayi-bayi berusia di bawah dua tahun karena khawatir takhtanya direbut. Bayi Kudus Yesus dilarikan ke Mesir. Lahir di tempat dengan fasilitas sangat tidak memadai, hidup di pengungsian sejak bayi, bukankah Bayi Yesus sudah menderita sejak Ia dilahirkan ke dunia?
Kelahiran Yesus dapat ditengarai sebagai gambaran kehidupan Sang Bayi kelak... menderita sengsara dan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa umat manusia.
Ketika kita merayakan Natal, selain sisi sukacita, ingatlah pula dimensi lain dari Perayaan ini: ada penderitaan, ada kedukaan, ada kesengsaraan. Namun, Keluarga Kudus dari Nazaret itu tetap optimistis menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana dengan kita?