Waktu begitu cepat berlalu, ketika berada di kaki gunung:
ada kejadian yang membutuhkan perhatian,
ada kegaduhan yang membutuhkan peleraian,
ada kegiatan yang membutuhkan penanganan,
ada kesempatan yang membutuhkan jawaban.
Di tengah segala keriuhan itu,
suaraMu sayup, nyaris tak terdengar.
Berjalan sunyi dalam keramaian,
menggapai RohMu dalam ketiadaan.
Haruskah terus berada di kaki gunung?
Menjalani tugas perutusan baru:
menyangkal kenyamanan diri,
membuka jendela hati bagi sesama,
menghadirkan Engkau di hadapan khalayak.
Waktu begitu cepat berlalu, ketika berada di kaki gunung
Baiklah menekuni perjalanan ini, sampai saatnya kembali naik gunung.
Selasa, 17 Januari 2017
Sabtu, 31 Desember 2016
Saat Aku Menatapmu
Berulang kali aku merasakan kehadiranmu, tetapi aku tak menggubrismu.
Banyak tanda telah engkau berikan, tetapi aku berkilah itu hal biasa.
Engkau tetap setia mendampingi, sementara aku tak menyadari keberadaanmu.
Bertahun-tahun berlalu dalam kesenyapan di antara kita.
Perjumpaan denganmu secara pribadi sungguh membuatku berubah.
Menjadikan peristiwa tak terduga ini sebagai rahmat terbesar bagiku.
Kini, perkenankan aku meraih tanganmu yang terulur penuh cinta.
Tanganmu yang selama ini kubiarkan menggapai, disertai tatapan matamu yang penuh perhatian.
Terima kasih Bunda Maria, Ratu Abadi yang Teragung.
Sapaan kasihmu mendekatkanku kepadamu.
Aku tak akan berpaling lagi darimu.
Banyak tanda telah engkau berikan, tetapi aku berkilah itu hal biasa.
Engkau tetap setia mendampingi, sementara aku tak menyadari keberadaanmu.
Bertahun-tahun berlalu dalam kesenyapan di antara kita.
Perjumpaan denganmu secara pribadi sungguh membuatku berubah.
Menjadikan peristiwa tak terduga ini sebagai rahmat terbesar bagiku.
Kini, perkenankan aku meraih tanganmu yang terulur penuh cinta.
Tanganmu yang selama ini kubiarkan menggapai, disertai tatapan matamu yang penuh perhatian.
Terima kasih Bunda Maria, Ratu Abadi yang Teragung.
Sapaan kasihmu mendekatkanku kepadamu.
Aku tak akan berpaling lagi darimu.
Rabu, 21 Desember 2016
Ketika Surga dan Bumi Menyatu
Adakah hal lain yang lebih membahagiakan, ketika Surga dan Bumi menyatu dalam raga - mengalirkan damai dan sukacita yang melampaui segala hal?
Senin, 12 Desember 2016
Satu Misi
Bunda Surgawi, menampakkan diri secara berbeda di Guadalupe-Meksiko (1531), La Vang-Vietnam (1798), Lourdes-Perancis (1828), Fatima-Portugal (1917), dan sejumlah tempat lain; namun ia mengemban satu misi: terus bekerja menyelamatkan umat manusia, setelah Sang Putra naik ke Surga dan duduk di takhta Allah.
Kita dapat turut serta membantu Bunda Maria dalam misinya dengan tekun mendaraskan doa Rosario, sesuai pesannya dalam penampakan di Fatima, "Berdoalah Rosario setiap hari... Berdoalah, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa.... Akulah Ratu Rosario.... Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang."
Kita dapat turut serta membantu Bunda Maria dalam misinya dengan tekun mendaraskan doa Rosario, sesuai pesannya dalam penampakan di Fatima, "Berdoalah Rosario setiap hari... Berdoalah, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa.... Akulah Ratu Rosario.... Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang."
Kamis, 08 Desember 2016
Hati yang Tak Bernoda
Hati yang tak bernoda adalah hati yang suci dan murni. Sekudus apa pun para Santo dan Santa, hati mereka tidak sepenuhnya suci dan murni. Sebab, tak ada seorang manusia pun yang memiliki hati yang tak bernoda, kecuali Bunda Maria. Mengapa demikian?
Bunda Maria sejak awal telah dipilih untuk menjadi Bunda Putra Allah yang akan menjelma menjadi Manusia. Tak sulit untuk memahami dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dengan memakai analogi sangat sederhana ini: ketika masakan siap disajikan, bukankah kita akan menempatkannya pada wadah yang bersih?
Putra Allah yang Mahakudus membutuhkan tempat bernaung jasmaniah yang kudus pula, ketika Ia akan menjelma menjadi Manusia. Allah Bapa menyiapkan segalanya dengan sempurna jauh-jauh hari. Untuk itu, Allah Bapa telah menguduskan Santa Perawan Maria sejak ia dikandung ibunya. Selanjutnya, dengan dikandung tanpa noda, dalam kehidupan di dunia ini Santa Perawan Maria pun memiliki hati yang tak bernoda.
Kita memang tidak dapat memiliki hati yang tak bernoda seratus persen, tetapi dengan menyerahkan diri kita kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, kita akan hidup bersama Bunda Maria dan diubah dari dalam oleh Bunda Maria sendiri; sehingga semakin hari hidup kita semakin menyerupai Bunda Maria.
Bunda Maria sejak awal telah dipilih untuk menjadi Bunda Putra Allah yang akan menjelma menjadi Manusia. Tak sulit untuk memahami dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda dengan memakai analogi sangat sederhana ini: ketika masakan siap disajikan, bukankah kita akan menempatkannya pada wadah yang bersih?
Putra Allah yang Mahakudus membutuhkan tempat bernaung jasmaniah yang kudus pula, ketika Ia akan menjelma menjadi Manusia. Allah Bapa menyiapkan segalanya dengan sempurna jauh-jauh hari. Untuk itu, Allah Bapa telah menguduskan Santa Perawan Maria sejak ia dikandung ibunya. Selanjutnya, dengan dikandung tanpa noda, dalam kehidupan di dunia ini Santa Perawan Maria pun memiliki hati yang tak bernoda.
Kita memang tidak dapat memiliki hati yang tak bernoda seratus persen, tetapi dengan menyerahkan diri kita kepada Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda, kita akan hidup bersama Bunda Maria dan diubah dari dalam oleh Bunda Maria sendiri; sehingga semakin hari hidup kita semakin menyerupai Bunda Maria.
Selasa, 29 November 2016
Mata yang Melihat
Mata siapakah yang dimaksud Yesus Kristus, ketika Ia mengatakan, "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat" dalam Injil Lukas 10:23b?
Mata yang melihat apa yang dilihat murid-murid Yesus waktu itu adalah mata kita semua, para pengikutNya di masa sekarang. Mata yang dapat melihat pernyataan Anak tentang BapaNya. Mata orang kecil yang dapat mengerti dan meyakini bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa, Tuhan langit dan bumi.
Mata yang melihat adalah mata iman di dalam hati setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Mata yang melihat apa yang dilihat murid-murid Yesus waktu itu adalah mata kita semua, para pengikutNya di masa sekarang. Mata yang dapat melihat pernyataan Anak tentang BapaNya. Mata orang kecil yang dapat mengerti dan meyakini bahwa Yesus Kristus berasal dari Bapa, Tuhan langit dan bumi.
Mata yang melihat adalah mata iman di dalam hati setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Minggu, 20 November 2016
Pintu Suci - Pintu Hati
Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. (Mazmur 118:19-20)
Pintu Suci (Porta Sancta) di Vatikan dibuka Paus Fransiskus pada 8 Desember 2015. "Saya bersukacita membuka Pintu Suci pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pintu Suci akan menjadi sebuah pintu kerahiman. Siapapun yang masuk, akan mengalami kasih Allah yang menghibur, mengampuni, dan menanamkan harapan." (Dikutip dari Bulla Paus Fransiskus tentang Misericordiae Vultus - Wajah Kerahiman)
Sepanjang Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah (8 Desember 2015 - 20 November 2016) umat Katolik seluruh dunia diajak semakin memahami dan meyakini Kerahiman Allah, sehingga dapat mengalami pertobatan pribadi; kemudian mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan nyata, dengan semakin berbelas kasih kepada sesama.
Hari ini, Pintu Suci yang kasat mata sudah ditutup, namun tidak demikian dengan pintu hati kita. Justru setelah mengalami penebusan dan pemurnian di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, pintu hati kita sekarang menjadi terbuka dan kita mulai melangkah dalam perjalanan rohani yang baru.
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu. Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu. Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu. (Yesaya 60:1, 11, 17b, 19)
Pintu Suci (Porta Sancta) di Vatikan dibuka Paus Fransiskus pada 8 Desember 2015. "Saya bersukacita membuka Pintu Suci pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pintu Suci akan menjadi sebuah pintu kerahiman. Siapapun yang masuk, akan mengalami kasih Allah yang menghibur, mengampuni, dan menanamkan harapan." (Dikutip dari Bulla Paus Fransiskus tentang Misericordiae Vultus - Wajah Kerahiman)
Sepanjang Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah (8 Desember 2015 - 20 November 2016) umat Katolik seluruh dunia diajak semakin memahami dan meyakini Kerahiman Allah, sehingga dapat mengalami pertobatan pribadi; kemudian mewujudkan pertobatan itu dalam kehidupan nyata, dengan semakin berbelas kasih kepada sesama.
Hari ini, Pintu Suci yang kasat mata sudah ditutup, namun tidak demikian dengan pintu hati kita. Justru setelah mengalami penebusan dan pemurnian di Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah, pintu hati kita sekarang menjadi terbuka dan kita mulai melangkah dalam perjalanan rohani yang baru.
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu. Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu. Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu. (Yesaya 60:1, 11, 17b, 19)
