Rabu, 27 November 2024
Hidupku
Kamis, 07 November 2024
Orang-Orang Berjubah Putih
Mengapa ada orang-orang yang mau mengenakan jubah putih, membaktikan seluruh hidup mereka untuk Tuhan; padahal kaki mereka masih berpijak di dunia, mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersinggungan dengan dunia, dan mereka pun menyantap makanan yang sama dengan orang-orang lain di dunia ini?
"Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?" .... "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. (Wahyu 7:13-14)
Kaum religius - para imam, biarawan, biarawati - adalah orang-orang berjubah putih, yang telah mencuci jubah mereka di dalam darah Anak Domba; pada saat mereka mengucapkan ikrar setia atau kaul hidup bakti untuk melayani Kristus.
Kaum religius bukan baru mengenakan jubah putih, setelah mereka berada di alam baka. Namun, sejak masih hidup di dunia ini mereka telah memakai jubah putih; lantaran mereka berusaha menghidupi surga, ketka mereka berada di dunia.
Kaum religius telah memilih untuk hidup seperti di surga, walaupun wujud fisik mereka dan secara manusiawi mereka tetap manusia biasa. Dapat dibayangkan, betapa sulit menerapkan kehidupan a la surgawi di tengah belantara dunia yang sarat tarikan-tarikan duniawi.
Sebagai umat beriman kristiani, kita patut mendukung upaya-upaya kaum religius memaknai panggilan hidup mereka. Kita dapat membuat 'jubah mereka tetap putih' dengan mendoakan mereka dan membantu mereka menyelamatkan jiwa-jiwa, seperti yang ditugaskan Kristus kepada para pengikut-Nya.
Jumat, 01 November 2024
Belajar Kekudusan dari Santa Theresia Lisieux
Dalam buku otobiografinya, Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan Wajah Kudus Yesus (1873-1897), seorang biarawati Karmel Tak Berkasut (OCD) yang berasal dari Lisieux, Prancis; menuliskan keinginannya menjadi orang suci.
Namun, ia merasa tak mampu mengikuti teladan para kudus yang seperti gunung tinggi baginya, sementara ia bagaikan pasir yang diinjak orang.
Di sisi lain, Santa Theresia memiliki keyakinan: tak mungkin Tuhan menanamkan keinginan untuk menjadi orang kudus dalam dirinya, jika hal itu tidak bisa diwujudkan.
Santa Theresia merasa dirinya memiliki banyak ketidaksempurnaan. Sulit sekali baginya menjadi orang dewasa. Tetapi, justru dengan menerima kekurangan diri inilah, Santa Theresia berhasil menemukan cara tersendiri menuju surga.
Ia sangat terkesan dengan Sabda Yesus yang meminta agar murid-murid-Nya membiarkan anak-anak datang kepada-Nya (lihat Matius 19:13-14). Yesus sangat mencintai anak-anak. Maka, ia pun akan menjadi seperti anak kecil di mata Yesus.
Aku ingin tahu, apa yang akan Engkau lakukan terhadap anak kecil yang menjawab panggilan-Mu? Inilah yang kutemukan: "Seperti seorang yang dibelai ibunya, Aku juga akan menghiburmu. Kamu akan menyusu, digendong, dan dibelai-belai di pangkuan." (Lihat Yesaya 66:10-13)
Dari penemuan itulah, Santa Theresia yakin, ia harus tetap menjadi kecil. Jalan kecil Santa Theresia adalah jalan spiritual seorang anak yang percaya dan menyerahkan diri secara total kepada Tuhan.