Minggu, 12 April 2020

Bukan Ritual, Melainkan Spiritual

Kursi-kursi kosong berjajar,
Tak ada nyanyian berkumandang,
Tak ada perarakan dengan lambaian daun palem,
Tak ada pembasuhan kaki,
Tak ada pentakhtaan Sakramen Mahakudus,
Tak ada penciuman Salib,
Tak ada lilin-lilin yang bernyala,
Tak ada pujian Eksultet,
Tak ada dentang lonceng,
Sunyi, pintu-pintu pagar gereja terkunci.
 
Ah, Tuhan, mengapa pandemi ini terjadi di masa suci Paskah?
Tidakkah Engkau salah mengatur waktu?
Seandainya ia melanda dunia setelah Paskah berlalu,
kami masih bisa hadir dalam rumah-Mu ,
kami masih bisa melakukan ibadah Pekan Suci.

Tetapi, Engkau mengizinkannya terjadi di masa Prapaskah,
Engkau membiarkan umat-Mu menjauh dari rumah-Mu,
Engkau membuat umat-Mu termenung dalam diam,
Engkau memperkenankan semua ini terjadi,
Engkau tidak menghendaki sekadar ritual, melainkan yang spiritual.

Sabtu, 11 April 2020

Mengisolasi Diri Bersama Bunda Maria

Sabtu yang sunyi,
hari ketika Bunda Maria kehilangan Yesus secara manusiawi,
sejak ia mengandung-Nya, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya,
dan menyertai-Nya selama 33 tahun masa hidup-Nya di dunia.

Sang Bunda memilih berdiam di rumah,
mengisolasi diri dalam kedukaan yang sangat,
penuh harap menanti janji Sang Putra,
besok fajar kebangkitan akan terbit.

Hari-hari yang sunyi,
ketika pandemi mengharuskan masyarakat tinggal di rumah,
mengubah irama kehidupan ceria menjadi murung,
menyaksikan wajah dunia yang tanpa daya.

Mengisolasi diri bersamamu, Bunda
saling menghibur dalam kesedihan dan penantian,
Putramu besok akan bangkit, Ibu
Pandemi ini akan berakhir, anakku

Jumat, 10 April 2020

Ketakutan Kita

Ketika berdoa di Taman Getsemani sebelum ditangkap para prajurit, Yesus mengalami rasa takut seperti manusia pada umumnya. Apalagi, sebagai Putra Allah, Yesus sudah mendapat penglihatan kesengsaraan yang bakal menimpa dan kematian-Nya yang sudah semakin dekat. 

Mengapa kita takut pada pandemi Covid-19? Penyakit ini sangat menular, jika virus sudah masuk ke paru-paru, tanpa penanganan medis yang baik dapat berujung pada kematian.

Manusia takut menghadapi kematian. Tetapi, bukankah kematian adalah misteri Allah? Belajar dari Yesus yang menerima kematian dengan kepasrahan total kepada Bapa; ketika maut mengintai, kita pun hendaknya berpasrah seraya mengatakan, "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku."

Kamis, 09 April 2020

Memaknai Doa Ini

Dalam Perayaan Ekaristi, sebelum menyambut Tubuh Kristus, kita mendaraskan doa singkat ini: "Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh." Lalu, kita duduk dan menanti giliran maju ke depan untuk menyambut Komuni Kudus.

Sekarang, dalam situasi pandemi Covid-19, pada saat Perayaan Ekaristi tidak bisa dilakukan di dalam gedung gereja, dan umat Katolik mengikuti Perjamuan Kudus secara online, doa tersebut menjadi sangat bermakna.

Karena kedosaan kita, sesungguhnya kita memang tidak pantas menyambut Tubuh Kristus untuk menyatu dengan tubuh kita yang fana; maka kita meminta Tuhan Yesus untuk bersabda saja, itu sudah cukup untuk menyembuhkan tubuh dan jiwa kita.

Pada Trihari Suci ini, saat kita mengikuti Perayaan Ekaristi secara online, doakanlah secara perlahan: "Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh." Dalam kesatuan dengan Roh Kristus, kita dapat menghayati pernyataan tersebut, dan aliran yang damai akan memenuhi hati kita.

Minggu, 05 April 2020

Ketika Yesus Tak Memerlukan Lambaian Daun Palem

... mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yohanes 12:13)

Kali ini, Yesus tidak menginginkan kita melambai-lambaikan daun-daun palem.
Kali ini, Yesus tidak mengharapkan pekik sorak dan tawa umat-Nya.
Kali ini, Yesus tidak menerima kumandang lagu-lagu pujian kita.
Kali ini, Yesus tidak menghendaki kehadiran kita di rumah-Nya.

Tuhan Yesus tidak menyukai hal-hal yang artifisial. 

Kali ini, Yesus menginginkan kita menelaah hati kita sedalam-dalamnya.
Kali ini, Yesus mengharapkan kita mengakui segala dosa dan berbalik kepada-Nya.
Kali ini, Yesus menerima anak-anak-Nya yang dengan tulus hati berserah.
Kali ini, Yesus menghendaki kita menanti kedatangan-Nya di rumah kita.

Rabu, 01 April 2020

Padang Gurun di Tengah Kota

Sebelas tahun silam, ketika mulai menapaki jalan spiritual, betapa menggebu keinginan untuk naik ke gunung dan menjadi rahib. Kini, ternyata tak perlu menyepi ke gunung untuk hidup dalam keheningan. Kita bisa menjadi rahib di tengah kota, di dalam rumah kita sendiri.