"Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak," kata-Mu dalam perjamuan terakhir bersama para rasul (lihat Yohanes 13:8b).
Semula memang aku tak mengerti:
- Mengapa Engkau membasuh kaki para rasul?
- Mengapa Engkau mau menanggung sengsara begitu hebat, tanpa sedikit pun melawan?
- Mengapa Engkau tak mau turun dari salib, malah memilih masuk ke alam kematian?
- Mengapa Engkau mengatakan, roti adalah Tubuh-Mu dan air anggur adalah Darah-Mu?
Sekarang aku mengerti:
- Engkau memberi teladan kerendahan hati dan sikap melayani secara total.
- Engkau mau menyelamatkan seluruh umat manusia, serta memulihkan relasi yang terputus antara Allah dan manusia karena dosa manusia pertama.
- Engkau masuk ke alam maut, agar dapat mengalahkannya, sehingga maut tidak lagi berkuasa atas manusia.
- Engkau meninggalkan kenangan abadi berupa Tubuh dan
Darah-Mu dalam Sakramen Mahakudus, yang setiap kali kami sambut dalam Perjamuan Ekaristi.
Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sangat mengasihi kami.
Senin, 24 Juni 2019
Minggu, 23 Juni 2019
Mukjizat Penggandaan Roti
Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki (lihat Lukas 9:12-17). Ada tafsiran yang mengatakan, peristiwa penggandaan roti hanya simbolis. Intinya, Yesus mencontohkan agar orang-orang yang hadir di tempat itu mau saling berbagi, sehingga semua berkecukupan.
Mealui pemaparan Yesus dalam Injil Markus 8:18b-21, kita meyakini peristiwa penggandaan roti adalah sungguh mukjizat yang diperbuat Tuhan Yesus, bukan sekadar bermakna simbolis.
Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul." Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul." Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"
Sabtu, 15 Juni 2019
Ketika Kita Bertatapan
Tepat tiga tahun silam aku merasakan sapaanmu, ketika kita bertatapan.
Perjumpaan ini mengubah hidupku selanjutnya....
Tak ada perasaan bersemangat akan bertemu denganmu, ketika aku memutuskan menghadiri acara devosi kepada Bunda Maria Fatima di sebuah aula di kawasan Jakarta Barat pada 15 Juni 2016. Acara yang diselenggarakan Marian Centre Indonesia ini menghadirkan ikon Bunda Maria Peziarah Internasional dari Fatima-Portugal, dirangkai dengan Doa Rosario dan Perayaan Ekaristi.
Ketika ikon Bunda Maria Peziarah Internasional diarak masuk ke aula, seluruh hadirin berdiri. Dalam hati aku berucap, "Apa yang istimewa? Pasti seperti tampilan Bunda Maria umumnya.... tersenyum manis dengan pandangan mata lembut."
Aku menatap ke wajah Bunda Maria, saat tandu yang membawanya lewat di dekatku. "Ke mana saja kamu selama ini, anakku?" suara itu menggema dalam hatiku. Aku terkesiap! Sapaan Bunda menyadarkanku. Aku menatap wajah Bunda dengan lekat, lalu menunduk.
Sudah 37 tahun aku dibaptis. Sebagai orang Katolik tentu aku mengenalmu, Bunda. Aku telah mengalami berbagai peristiwa pribadi yang menjadi tonggak-tonggak penting dalam perjalanan hidupku, di dalamnya kuakui ada campur tangan dan peran besar Bunda Maria. Tetapi, selama itu pula relasiku dengan Bunda Maria hanya suam-suam kuku. Setelah masalah selesai dan peristiwa berlalu, penyertaan dan pertolongan Bunda Maria tak lagi kuingat. Bahkan dalam beberapa kasus, peringatan dini Bunda Maria tidak kugubris.
Ke mana saja aku selama ini sampai melupakan Bunda Surgawiku yang dalam diam dan caranya sendiri selalu mendampingi langkah hidupku?
Perjumpaan dengan Bunda Maria dan sapaannya mengubah hidupku. Selubung penghalang lenyap.
Dua minggu kemudian setelah peristiwa itu, aku mengawali devosi kepada Bunda Maria di Paroki dengan mengajak umat mendaraskan Doa Senakel, setelah Misa harian pada Sabtu pertama. Lima belas bulan setelahnya, Paroki kami diminta Marian Centre Indonesia menjadi salah satu penyelenggara Misa dan Doa Senakel bersama Father Laurent Larroque, pemimpin Gerakan Imam Maria Internasional, yang berkunjung ke Indonesia.
Tiga tahun berlalu sejak engkau menatap dan menyapaku. Terima kasih, Bunda Maria, engkau telah membawaku dekat kepadamu. Dari hari ke hari tumbuh semangat besar untuk makin mengenal dan mencintaimu, agar engkau dapat menggunakan diriku demi kepentingan Hatimu yang Tak Bernoda.