Hari-hari ini, ketika awan kelam menutupi Gereja Universal, kita mengeluh seperti nabi Yeremia: "Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan?" (Yeremia 15:18)
Sesungguhnya Tuhan telah memberikan jawaban yang tepat melalui sabdaNya, sesuai bacaan Alkitab dalam liturgi harian kemarin dan hari ini: "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku.... Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau." (Yeremia 15:19a dan 20)
Tuhan pun meminta kita belajar dari pekerjaan tukang periuk. "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku." (Yeremia 18:6)
Dalam membuat sebuah bejana perlu proses yang makan waktu, tidak langsung jadi. Tukang periuk berulang kali membentuk tanah liat yang ada di tangannya, hingga menghasilkan bejana yang diinginkan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4)
Dengan rendah hati mari kita kembali kepada Tuhan untuk dibentuk menjadi pribadi yang sesuai dengan rancanganNya. Perlu proses, makan waktu. Tetaplah bertahan dan setia. Bersediakah kita?
Kamis, 28 Juli 2016
Kamis, 21 Juli 2016
Jika Aku Khawatir
Jika aku khawatir,
berarti aku meragukan KekuasaanMu yang Mahabesar,
MukjizatMu yang Mahadahsyat,
Kesempurnaan KasihMu yang senantiasa melingkupi anak-anakMu.
Jika aku khawatir,
berarti aku belum sepenuh hati percaya kepadaMu,
imanku masih dangkal dan lemah,
ya Tuhan Yesus, aku mau percaya. Tambahkanlah imanku.
berarti aku meragukan KekuasaanMu yang Mahabesar,
MukjizatMu yang Mahadahsyat,
Kesempurnaan KasihMu yang senantiasa melingkupi anak-anakMu.
Jika aku khawatir,
berarti aku belum sepenuh hati percaya kepadaMu,
imanku masih dangkal dan lemah,
ya Tuhan Yesus, aku mau percaya. Tambahkanlah imanku.
Jumat, 15 Juli 2016
Tanpa Rasa Sakit
Ibu berusia 71 tahun itu biasa berjalan kaki sambil mendaraskan doa Rosario di tengah kegelapan pagi, menempuh jarak sekitar 1,5 km untuk menghadiri misa pagi. Ia mengaku sudah menjalani rutinitas ini selama 19 tahun, sejak suaminya wafat.
Namun, kemarin subuh sesuatu yang tak lazim terjadi. Di tengah jalan yang sunyi dan gelap, ia didekati dua pemuda yang mengendarai sepeda motor. Pemuda yang dibonceng berupaya keras menarik tas tangan si ibu yang disandang di bahu kirinya. Keruan saja tubuh si ibu terputar, lalu terjatuh membentur aspal jalan.
Motor segera berlalu, tanpa berhasil meraih tas yang berisi buku Puji Syukur dan Ruah serta uang kurang dari Rp 30 ribu; meninggalkan ibu sepuh yang tergeletak di tepi jalan. "Saya tidak bisa melihat apa-apa. Gelap. Saya berusaha bangun sambil menyebut nama Yesus... Yesus... tolong..." Setelah penglihatannya berangsur pulih, ibu ini merangkak. Darah bersimbah di kepala dan tangan kanannya.
Seorang pengemudi motor lewat, menolong si ibu berdiri. Lalu muncul seorang bapak yang telah jalan pagi. Ia menghantar ibu ini pulang ke rumah dengan naik bajaj. Segera anak dan menantunya membawa si ibu ke rumah sakit.
Ketika menengoknya tadi pagi, si ibu menuturkan pengalaman dengan suara nyaring dan wajah berhias senyum. Padahal, kami prihatin melihat kondisi fisiknya - mata kanan sembap hanya 1/4 terbuka, kepala kiri sedikit digundul dan ditutup plester karena luka cukup dalam tetapi tidak perlu dijahit, tangan kanan dari lengan hingga ke jari berhias luka-luka parut akibat tergores aspal jalan.
"Tidak ada yang sakit," ujar si ibu dengan mantap. Bagaimana bisa luka-luka di kepala, wajah, dan tangan kanan tidak menimbulkan rasa sakit?
Kejadian yang dialami ibu itu membawa pada perenungan tentang jalan salib dan penderitaan. Si ibu tidak mengalami rasa sakit karena ia menyerukan nama Yesus. Ia setia mengikuti Perayaan Ekaristi dan mendaraskan Rosario. Kekuatan Ilahi menaunginya, mengalahkan kesakitan jasmaniah.
Demikian pula, kekuatan Ilahi yang besar melingkupi para martir dan orang-orang kudus yang memiliki relasi erat dengan Allah Tritunggal dan Bunda Maria, sehingga mereka dapat menanggung penderitaan fisik tanpa rasa sakit. Tentu saja, kekuatan Ilahi dari Allah Bapa tinggal bersama Yesus Sang Putra, saat Ia menapaki jalan salib hingga wafat di Golgota; sehingga Ia dapat menyelesaikan jalan sengsara dan berkata dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)
Namun, kemarin subuh sesuatu yang tak lazim terjadi. Di tengah jalan yang sunyi dan gelap, ia didekati dua pemuda yang mengendarai sepeda motor. Pemuda yang dibonceng berupaya keras menarik tas tangan si ibu yang disandang di bahu kirinya. Keruan saja tubuh si ibu terputar, lalu terjatuh membentur aspal jalan.
Motor segera berlalu, tanpa berhasil meraih tas yang berisi buku Puji Syukur dan Ruah serta uang kurang dari Rp 30 ribu; meninggalkan ibu sepuh yang tergeletak di tepi jalan. "Saya tidak bisa melihat apa-apa. Gelap. Saya berusaha bangun sambil menyebut nama Yesus... Yesus... tolong..." Setelah penglihatannya berangsur pulih, ibu ini merangkak. Darah bersimbah di kepala dan tangan kanannya.
Seorang pengemudi motor lewat, menolong si ibu berdiri. Lalu muncul seorang bapak yang telah jalan pagi. Ia menghantar ibu ini pulang ke rumah dengan naik bajaj. Segera anak dan menantunya membawa si ibu ke rumah sakit.
Ketika menengoknya tadi pagi, si ibu menuturkan pengalaman dengan suara nyaring dan wajah berhias senyum. Padahal, kami prihatin melihat kondisi fisiknya - mata kanan sembap hanya 1/4 terbuka, kepala kiri sedikit digundul dan ditutup plester karena luka cukup dalam tetapi tidak perlu dijahit, tangan kanan dari lengan hingga ke jari berhias luka-luka parut akibat tergores aspal jalan.
"Tidak ada yang sakit," ujar si ibu dengan mantap. Bagaimana bisa luka-luka di kepala, wajah, dan tangan kanan tidak menimbulkan rasa sakit?
Kejadian yang dialami ibu itu membawa pada perenungan tentang jalan salib dan penderitaan. Si ibu tidak mengalami rasa sakit karena ia menyerukan nama Yesus. Ia setia mengikuti Perayaan Ekaristi dan mendaraskan Rosario. Kekuatan Ilahi menaunginya, mengalahkan kesakitan jasmaniah.
Demikian pula, kekuatan Ilahi yang besar melingkupi para martir dan orang-orang kudus yang memiliki relasi erat dengan Allah Tritunggal dan Bunda Maria, sehingga mereka dapat menanggung penderitaan fisik tanpa rasa sakit. Tentu saja, kekuatan Ilahi dari Allah Bapa tinggal bersama Yesus Sang Putra, saat Ia menapaki jalan salib hingga wafat di Golgota; sehingga Ia dapat menyelesaikan jalan sengsara dan berkata dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)
Sabtu, 09 Juli 2016
Berani Bersikap
Ketika dosa-dosa lama kembali menggeliat dalam ingatan, aku lunglai didera ketidakberdayaan. Langkahku terhenti di tengah perjalanan, merasa tak layak untuk bergerak maju. Mungkin sebaiknya aku mundur, membiarkan jarak lebar terbentang di antara kita.
Tetapi Engkau mendekatiku lewat sabdaMu hari ini. KataMu, "Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."(lihat Yesaya 6:7) Aku terkesima, menyadari betapa Mahakasih Engkau.
Nabi Yesaya yang telah disucikan, segera menjawab panggilan Tuhan. "Ini aku, utuslah aku!" ujar sang nabi (lihat Yesaya 6:8) Beranikah aku bersikap seperti nabi Yesaya? Menjawab dengan mantap panggilanNya tanpa menengok ke belakang.
Tetapi Engkau mendekatiku lewat sabdaMu hari ini. KataMu, "Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."(lihat Yesaya 6:7) Aku terkesima, menyadari betapa Mahakasih Engkau.
Nabi Yesaya yang telah disucikan, segera menjawab panggilan Tuhan. "Ini aku, utuslah aku!" ujar sang nabi (lihat Yesaya 6:8) Beranikah aku bersikap seperti nabi Yesaya? Menjawab dengan mantap panggilanNya tanpa menengok ke belakang.
Jumat, 01 Juli 2016
Tahun Baru
Perayaan tahun baru di dunia internasional serempak dirayakan pada 1 Januari. Namun, sesungguhnya tahun baru setiap pribadi adalah pada saat orang itu merayakan hari kelahirannya di dunia. Karena itu, tahun baru setiap orang berbeda, kecuali mereka yang lahir pada tanggal yang sama.
Tahun baru menjadi momen yang tepat untuk bersyukur, seraya merefleksikan segala pencapaian yang telah diraih pada tahun sebelumnya, serta meneguhkan berbagai rencana dan niat yang akan dilaksanakan di tahun yang akan dilalui.
Marilah kita memaknai tahun baru kita masing-masing untuk terus berproses melangkah maju, menjadi ciptaan baru yang semakin menyerupai Kristus.
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)
Tahun baru menjadi momen yang tepat untuk bersyukur, seraya merefleksikan segala pencapaian yang telah diraih pada tahun sebelumnya, serta meneguhkan berbagai rencana dan niat yang akan dilaksanakan di tahun yang akan dilalui.
Marilah kita memaknai tahun baru kita masing-masing untuk terus berproses melangkah maju, menjadi ciptaan baru yang semakin menyerupai Kristus.
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)