Maut mengintai pada dini hari Minggu 27 November 2011, ketika perlahan rasa dingin menjalari kedua kaki, tangan, dan punggungku. Napasku terengah-engah karena denyut nadi yang melebihi 100. Aku terbangun pukul tiga dini hari. Saat itu aku menyadari sesuatu yang 'berbeda' dalam tubuhku.
Timbul pertempuran dalam batin. Di satu sisi suara itu begitu jelas, memintaku untuk segera menghubungi rohaniwan untuk meminta sakramen terakhir dan menelepon anak-anakku. Tetapi kutentang. Tidak, aku tidak mau. Suara itu bukan suara yang lembut, tetapi kasar dan memaksa.
Aku berjuang, berhadapan dengan maut secara nyata. Dan aku memohon kepadaMu untuk menolongku menghalau maut. Aku merasa belum memberikan yang terbaik untukMu. Hidupku masih penuh kepentingan pribadi. "Beri aku kesempatan hidup kedua, aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepadaMu....," aku berseru.
Lalu suara kasar itu dengan seringainya kembali menggodaku, "Hei, bukankah kamu ingin melihat dunia sana? Ayo... ikutlah. Nanti akan kuantar kembali." Memang, sejak kematian ayahku, sahabatku, ibu mertuaku, adik iparku, aku sering bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan mereka? Seandainya aku bisa bertemu dengan mereka lalu kembali lagi ke dunia fana ini, tentu aku akan mendapatkan kisah yang luar biasa. Itulah kesombonganku, egoku.
"Tidak.. aku tidak mau ikut. Aku sudah tidak mau tahu lagi apa yang terjadi di alam sana. Itu misteri Sang Pencipta," aku bertahan, menolak ajakan suara mengejek itu. Aku terus memohon kepadaMu dan IbuMu untuk menyelamatkan nyawaku. Bukan Engkau berdua atau malaikat yang datang menjemputku, mengapa aku harus ikut?
Suara dalam hati mengatakan, aku harus bertahan sampai pukul 6 pagi. Jika itu berhasil, aku akan memperoleh kesempatan hidup kedua. Aku bersuka cita ketika fajar menyingsing. Kau menghantarku pada kemenangan, ya Tuhan... Aku mengalamiMu secara nyata lewat peristiwa mendekati kematian ini.
Terima kasih atas kesempatan hidup kedua ini. Kalau bukan Kau yang membangunkanku malam itu, maut telah mengambil alih tubuhku dalam tidur. Oh... Kau begitu mengasihiku. PertolonganMu selalu datang tepat pada waktunya. Aku bersyukur, Engkau Penyelamatku. Kini aku siap melakukan apa pun yang Kau inginkan. Aku tak ingin melukai hatiMu lagi.Katakanlah, nyatakanlah.
Saat aku memberesi buku-buku koleksiku, aku menemukan buku "Dalam Keheningan Dasar Samudera Ilahi - Menjelajahi Puri Batin Teresia Avila" karangan Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm. Betapa jelas terungkap, Kau menghendaki yang lebih dariku. Setelah kematian diri pertama 16 Oktober lalu, di mana segala kelekatan dengan orang-orang yang kusayangi berakhir, kini Kau menarikku lebih jauh, sehingga seluruh bagian daya jiwaku mengarah kepadaMu semata, agar tercipta integrasi yang sempurna antara Kau dan aku. Aku baru saja memasuki ruang puri batin yang ke-6. Selangkah lagi menuju ruang terakhir ke-7, di mana tak ada lagi dualitas antara Engkau dan aku.
Aku mau menikmati pengintegrasian sempurna denganMu, biarlah Engkau menggerakkanku. Engkau yang hidup di dalam aku. Seperti telah kuungkapkan lewat profilku di blog ini, aku sebagai alas kakiMu, aku mengikuti ke mana saja Engkau pergi. Pakailah tubuh, roh, dan jiwaku bagi kemuliaanMu.
Di hari Minggu pertama Masa Adven aku mengalami peristiwa ini. Engkau tentu menyimpan maksud tersendiri yang belum kuketahui sekarang. Semua akan terjadi sesuai dengan kehendakMu, karena rancanganMu adalah rancangan kebaikan, yang akan memberi masa depan penuh harapan bagi orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepadaMu.
Selasa, 29 November 2011
Minggu, 06 November 2011
MemandangMu dengan Mata Batin
Perjumpaan denganMu selama beberapa detik mengubah hidupku. Kau menatapku lembut dengan senyum mengembang. Betapa ingin Kau menghampiriku, sementara aku masih terpana.
Barangkali seperti itu juga yang dialami orang-orang yang merasa menemukan Engkau yang membawa mereka ke pertobatan. Mungkin seperti itu pula yang dikisahkan oleh para kudus, saat mereka merasa mengalami penampakanMu.
MemandangMu dengan mata batin, suatu perjumpaan yang sangat mengesankan dan mendalam. Entah kapan, aku dapat kembali memandangMu.
Barangkali seperti itu juga yang dialami orang-orang yang merasa menemukan Engkau yang membawa mereka ke pertobatan. Mungkin seperti itu pula yang dikisahkan oleh para kudus, saat mereka merasa mengalami penampakanMu.
MemandangMu dengan mata batin, suatu perjumpaan yang sangat mengesankan dan mendalam. Entah kapan, aku dapat kembali memandangMu.
Sabtu, 29 Oktober 2011
Orang Kudus Abad Ini
Itulah keinginanku. Tetapi, kalau aku masih berkeinginan dan berusaha mencapainya, berarti aku masih punya ego dan ingin menunjukkan kehebatanku, padahal aku hanya alas kakiMu.
Dengan segala keterbatasan diri dan kesalahan yang telah kubuat, masihkah aku layak meminta hal itu kepadaMu?
Dengan segala keterbatasan diri dan kesalahan yang telah kubuat, masihkah aku layak meminta hal itu kepadaMu?
Minggu, 09 Oktober 2011
Mengenakan Pakaian Pesta UntukMu
Kau mengutarakan perumpamaan tentang Raja yang mengadakan perjamuan pesta. Para undangan berhalangan hadir, bahkan membunuh para pesuruh Raja yang mengundang. Lalu Raja meminta pesuruh-pesuruhnya mengundang semua orang yang ditemui di sudut-sudut jalan. Orang-orang memenuhi ruangan pesta, tetapi ada satu orang yang datang tidak dengan pakaian pesta.
Umat Israel telah menolakMu. Ajaran Cinta KasihMu lalu menyebar di antara bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Namun, sekalipun banyak yang mengikuti ajaranMu, mengenakan label "pengikut Kristus" dalam kenyataan hidup mereka tidak bersikap dan berperilaku sesuai ajaranMu. Mereka laksana orang yang tidak mengenakan pakaian pesta.
Perkenankanlah aku mengenakan pakaian pesta yang terindah untukMu, ya Rajaku.
Umat Israel telah menolakMu. Ajaran Cinta KasihMu lalu menyebar di antara bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Namun, sekalipun banyak yang mengikuti ajaranMu, mengenakan label "pengikut Kristus" dalam kenyataan hidup mereka tidak bersikap dan berperilaku sesuai ajaranMu. Mereka laksana orang yang tidak mengenakan pakaian pesta.
Perkenankanlah aku mengenakan pakaian pesta yang terindah untukMu, ya Rajaku.
Senin, 12 September 2011
Aku Memaafkannya
Sejak tadi pagi, Kau telah mengatakan dalam hatiku, bahwa aku sebaiknya memaafkannya. KataMu, masih banyak orang yang berbuat jauh lebih salah daripadanya. Tetapi hatiku masih keras, mengingat-ingat apa yang telah dilakukannya. Kau juga mengingatkan, aku pun tak luput dari berbagai kesalahan. Dan Kau telah mengampuniku. Mengapa aku tak mau melakukan yang sama kepada orang lain?
Sampai aku mendengar bacaan pertama di rumahMu sore ini. Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan (Sirakh 28:1). Ya, Kau benar. Untuk apa aku membalas kejahatan dengan kejahatan, padahal sebagai Sang Penciptanya yang lebih berkuasa atasnya Kau masih berbelas kasih kepadanya?
Dalam homili dikatakan pula, walaupun Kain telah berdosa karena membunuh adiknya, namun karena kerahiman Allah ia tidak mendapat balasan instan. Ia malah dilindungi dengan janji Allah sendiri bahwa siapa pun yang berlaku jahat terhadap Kain akan dihukum tujuh kali lipat.
Aku memaafkannya, sekaligus membebaskannya. Segera saja kelegaan memenuhi ruang hati.
Sampai aku mendengar bacaan pertama di rumahMu sore ini. Barangsiapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan (Sirakh 28:1). Ya, Kau benar. Untuk apa aku membalas kejahatan dengan kejahatan, padahal sebagai Sang Penciptanya yang lebih berkuasa atasnya Kau masih berbelas kasih kepadanya?
Dalam homili dikatakan pula, walaupun Kain telah berdosa karena membunuh adiknya, namun karena kerahiman Allah ia tidak mendapat balasan instan. Ia malah dilindungi dengan janji Allah sendiri bahwa siapa pun yang berlaku jahat terhadap Kain akan dihukum tujuh kali lipat.
Aku memaafkannya, sekaligus membebaskannya. Segera saja kelegaan memenuhi ruang hati.
Sabtu, 10 September 2011
Keotentikan Ajaran
Aku banyak membaca buku-buku olah batin belakangan ini. Tetapi, kuperhatikan para pengarang buku mengutip cerita-cerita yang sama, namun dengan nama para pelaku yang bervariasi. Seperti kisah pendiri Stanford University kujumpai di dua buku berbeda - pengarang beragama Buddha dan Katolik. Lalu, kisah penerimaan realitas "ini pun akan berlalu" kubaca di beberapa tempat dengan versi beragam.
Ah, sungguh berbeda sekali dengan ajaranMu yang tak berubah dan tak tergantikan. Hanya Engkau yang mengungkapkannya, tak ada pribadi sebelum dan sesudahMu yang mengutarakan hal serupa dengan apa yang kau nyatakan. Sungguh, ajaranMu benar-benar otentik. Aku mengagumiMu.
Ah, sungguh berbeda sekali dengan ajaranMu yang tak berubah dan tak tergantikan. Hanya Engkau yang mengungkapkannya, tak ada pribadi sebelum dan sesudahMu yang mengutarakan hal serupa dengan apa yang kau nyatakan. Sungguh, ajaranMu benar-benar otentik. Aku mengagumiMu.
Jumat, 02 September 2011
Tak Ingin Anggur yang Baru
Malam ini di rumahMu aku mendengar Kau mengatakan, "Tak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."
Aku tahu, yang Kau maksudkan adalah orang-orang yang telah berpegang pada keyakinan lama mereka akan sangat sulit untuk menerima ajaran baru yang Kau perkenalkan kepada mereka. Adakah ajaran yang lebih baru daripada yang Kau ajarkan?
Terima kasih, Engkau telah menyadarkanku untuk lebih waspada. Banyak yang menawarkan anggur baru saat ini, tetapi ternyata anggur mereka tidak benar-benar baru. Tidak seperti anggur baru yang pernah Kau tawarkan.
Aku tahu, yang Kau maksudkan adalah orang-orang yang telah berpegang pada keyakinan lama mereka akan sangat sulit untuk menerima ajaran baru yang Kau perkenalkan kepada mereka. Adakah ajaran yang lebih baru daripada yang Kau ajarkan?
Terima kasih, Engkau telah menyadarkanku untuk lebih waspada. Banyak yang menawarkan anggur baru saat ini, tetapi ternyata anggur mereka tidak benar-benar baru. Tidak seperti anggur baru yang pernah Kau tawarkan.
Sabtu, 27 Agustus 2011
Jika Aku Dipakai Yang Lain
Kemarin, timbul pergulatan dalam batin. Apakah boleh sekali ini Kau pinjamkan aku kepada orang lain? Aku ingin merasakan jika aku dipakai olehnya. Mungkin aku akan senang berjalan bersamanya pada saat awal, lalu aku mulai merasa tidak nyaman karena ternyata ia membawaku pergi mengunjungi tempat-tempat yang tidak sesuai dengan nuraniku, sehingga aku ingin segera kembali kepadaMu. Syukurlah, Kau tak berkenan meminjamkanku kepadanya. Terima kasih atas kasihMu yang begitu besar melingkupiku.
Minggu, 14 Agustus 2011
Yakin Telah Dinubuatkan
Dalam talk show kemarin, terkait kehidupan seorang suci yang juga tokoh dunia, Beato Johanes Paulus II, dikatakan ia merasa yakin telah dinubuatkan untuk memimpin umatnya memasuki Milenium ke-3 tahun 2000. Dan memang benar terjadi demikian.
Apa yang Engkau nubuatkan untukku? Aku menyimpan janjiMu dalam hatiku. Aku percaya Engkau akan mewujudkannya suatu saat kelak, asalkan aku tetap menjadi alas kakiMu.
Apa yang Engkau nubuatkan untukku? Aku menyimpan janjiMu dalam hatiku. Aku percaya Engkau akan mewujudkannya suatu saat kelak, asalkan aku tetap menjadi alas kakiMu.
Jumat, 12 Agustus 2011
Kebahagiaan Alas Kaki
Bagaimana orang menggambarkan relasinya dengan Sang Kudus, Sang Khalik, Sang Pencipta Kehidupan?
Ada yang menganggap dirinya sebagai hamba Sang Khalik, yang lain merasa menjadi sahabatNya. Ada pula yang mempersonifikasi dirinya seperti bola yang dimainkan Sang Pencipta, atau bejana yang siap dibentuk Sang Pemberi Kehidupan.
Siang ini, di tengah keheningan suasana ruang kerja, tiba-tiba melintas keinginanku menjadi alas kakiNya. Alas kaki yang selalu dipakaiNya ketika menyusuri jalan-jalan di dunia. Dengan menjadi alas kakiNya, aku membiarkanNya membawaku sekehendak hatiNya. Ada perjalanan yang menyenangkan di rerumputan nan lembut, ada pula perjalanan yang membuatku sakit lantaran harus melewati bebatuan. Sesekali, Ia melepaskan alas kakiNya, mengajakku beristirahat bersamaNya.
Aku akan menurutiNya saja ke mana Ia mengarahkan langkahNya, yang penting aku bisa selalu bersamaNya, menemaniNya. Aku tak ingin menjadi lebih daripada alas kaki. Ini sudah membahagiakanku. Alas kaki berada di bagian paling bawah mengajarkanku untuk selalu rendah hati. Alas kaki bergerak sesuai ayunan langkah Sang Pemakai mengajarkanku untuk tunduk pada kehendakNya bukan keinginanku.
Ada yang menganggap dirinya sebagai hamba Sang Khalik, yang lain merasa menjadi sahabatNya. Ada pula yang mempersonifikasi dirinya seperti bola yang dimainkan Sang Pencipta, atau bejana yang siap dibentuk Sang Pemberi Kehidupan.
Siang ini, di tengah keheningan suasana ruang kerja, tiba-tiba melintas keinginanku menjadi alas kakiNya. Alas kaki yang selalu dipakaiNya ketika menyusuri jalan-jalan di dunia. Dengan menjadi alas kakiNya, aku membiarkanNya membawaku sekehendak hatiNya. Ada perjalanan yang menyenangkan di rerumputan nan lembut, ada pula perjalanan yang membuatku sakit lantaran harus melewati bebatuan. Sesekali, Ia melepaskan alas kakiNya, mengajakku beristirahat bersamaNya.
Aku akan menurutiNya saja ke mana Ia mengarahkan langkahNya, yang penting aku bisa selalu bersamaNya, menemaniNya. Aku tak ingin menjadi lebih daripada alas kaki. Ini sudah membahagiakanku. Alas kaki berada di bagian paling bawah mengajarkanku untuk selalu rendah hati. Alas kaki bergerak sesuai ayunan langkah Sang Pemakai mengajarkanku untuk tunduk pada kehendakNya bukan keinginanku.