Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk memberi perhatian pada kebersihan tangan dan sekitarnya. Sekarang, semua orang jadi rajin mencuci tangan dan membersihkan tubuh. Bagaimana dengan hati kita? Sudahkah kita juga membersihkannya di masa Prapaskah ini?
Sabtu, 28 Maret 2020
Jumat, 20 Maret 2020
Doa Komuni Batin
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. (Yohanes 4:23-24)
Doa Komuni Batin
dari St. Alfonsus Maria de Liguori
Yesus-ku, aku percaya
Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus.
Aku mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu,
dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam jiwaku.
Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Perayaan Ekaristi,
aku mohon datanglah secara rohani ke dalam hatiku.
(Hening sejenak, satukanlah dirimu dengan Yesus)
Seolah-olah Engkau telah datang.
Aku memeluk-Mu, dan menyatukan diriku sepenuhnya dengan Dikau.
Jangan biarkan aku terpisah dari-Mu.
Amin
Doa Komuni Batin
dari St. Alfonsus Maria de Liguori
Yesus-ku, aku percaya
Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus.
Aku mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu,
dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam jiwaku.
Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Perayaan Ekaristi,
aku mohon datanglah secara rohani ke dalam hatiku.
(Hening sejenak, satukanlah dirimu dengan Yesus)
Seolah-olah Engkau telah datang.
Aku memeluk-Mu, dan menyatukan diriku sepenuhnya dengan Dikau.
Jangan biarkan aku terpisah dari-Mu.
Amin
Kamis, 19 Maret 2020
Malam Gelap - Santo Yohanes dari Salib
Syair di bawah ini ditulis Santo Yohanes dari Salib di dalam kegelapan penjara tempat ia ditahan dari 2 Desember 1577 sampai Agustus 1578, karena perselisihan yang timbul dengan sebagian rekan biaranya dalam upaya pembaruan Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD).
Bagi Santo Yohanes dari Salib, siksaan yang dialami menjadi jalan menuju terang, sekaligus menolong ia menemukan suatu lambang yang menjelaskan situasi rohani banyak orang.
Dalam bait pertama dan kedua dijelaskan hasil pembersihan keindrawian dan pembersihan kerohanian manusia. Dalam keenam bait lainnya, diterangkan secara rinci buah hasil istimewa dari penerangan rohani dan persatuan dengan Allah dalam cinta.
Jiwa menyanyikan bait-bait ini, sesudah ia sampai ke tingkat kesempurnaan, yakni persatuan dengan Allah dalam cinta. Rasa sakit dan sesak yang pernah menekannya, sudah lewat. Itu dialaminya dalam usaha rohaninya di jalan sempit menuju hidup kekal seperti disebut Penyelamat kita dalam Injil (lihat Matius 7:14). Santo Yohanes Salib menyebut jalan sempit itu sebagai malam gelap.
Jalan ini sempit dan hanya sedikit orang yang masuk melaluinya, seperti dikatakan Tuhan sendiri (lihat Matius 7:14). Maka, jiwa merasa beruntung sekali, karena melalui jalan itu ia masuk ke dalam kesempurnaan cinta.
1. Di malam yang gulita
Membara dan merayau kar'na cinta
- betapa beruntung -
Aku tak kelihatan,
Ke luar, dan rumahku sudah tenang.
2. Gelap, tetapi aman,
Lewat tangga yang sepi - samar-samar
- betapa beruntung -
Gelap, tak kelihatan
Sebab rumahku itu sudah tenang.
3. Di malam beruntung 'tu,
Aku sembunyi dan tidak dikenal,
Tidak melihat apa,
Tanpa terang pembimbing
Selain yang membara di hatiku.
4. Ini menuntun aku,
- yang lebih terang daripada siang -
Aku sudah dinanti
Dia yang kukenal baik
Dan tiada orang lain kelihatan.
5. Wahai malam pembimbing
Malam yang jauh melebihi fajar,
Dan yang mempersatukan
Kekasih dan kekasih,
Kekasih berubah jadi kekasih!
6. Dadaku penuh kembang,
yang kusimpan melulu bagi Dia.
Ia tidur tenang.
Dan aku membuai-Nya
di bawah himbauan kedar yang sejuk.
7. Angin sejuk bertiup,
Seraya aku membelai rambut-Nya,
Dan tangan-Nya yang halus
Melukai leherku,
Sampai segala rasa hilang lenyap.
8. Aku lupa, menyerah,
Wajah kusandarkan pada Kekasih;
Tenang; aku menyerah,
Segala susah hilang,
Terlupa di antara bunga bakung.
(Cuplikan dari buku: Malam Gelap, karya Santo Yohanes dari Salib. Penerbit Karmelindo, 2011)
Jumat, 13 Maret 2020
Merefleksikan Covid-19
Dalam tiga bulan terakhir ini, dunia porak-poranda lantaran pandemi virus Covid-19. Pada minggu ini, ada negara-negara di Eropa yang melakukan lockdown hingga akhir Maret, agar virus itu tidak makin menyebar di antara masyarakat. Salah satu konsekuensi yang timbul dari lockdown ialah tidak diperkenankannya masyarakat berkumpul secara massal, termasuk menghadiri Perayaan Ekaristi.
Di satu sisi, kenyataan tersebut sangat menyedihkan. Di saat umat membutuhkan peneguhan iman dalam menghadapi wabah penyakit ini, Gereja tidak dapat hadir. Namun, cobalah memandangnya dari sisi lain.
Saat ini kita berada dalam masa Prapaskah - masa pertobatan. Masih ada 3 minggu lagi sebelum memasuki Pekan Suci. Kita dapat sungguh-sungguh memanfaatkan waktu mengurung diri di rumah ini untuk berada di padang gurun bersama Kristus. Dalam kesepian, dalam kesendirian, dalam kegersangan, dalam ketakutan, dalam ketidakberdayaan, dalam kesengsaraan.
Inilah malam gelap yang harus dilalui manusia untuk dapat sampai kepada Kristus, seperti diajarkan Santo Yohanes Salib. Malam gelap bagi jiwa, yang sebenarnya adalah kehadiran Kristus di dekat kita, namun karena ditutupi dosa-dosa sehingga kita belum dapat melihat kehadiran-Nya.
Jika kita bertekun melewati malam gelap indrawi dan rohani, sebagai pemurnian diri, akhirnya kita akan sampai pada persatuan dengan Kristus. Perjalanan panjang bagi jiwa yang rindu bersatu dengan-Nya.