Minggu, 29 Juli 2018

Kanak-Kanak Yesus dari Praha

Patung Kanak-Kanak Yesus di Praha
Di sebuah toko benda rohani di Jakarta sekitar setahun yang lalu, aku menemukan kertas doa dan kaplet devosi kepada Kanak-Kanak Yesus dari Praha. Sejak itu, aku mendaraskan devosi ini setiap Minggu sore.Tanpa intensi khusus apa pun, semata hanya ingin menghormati Kanak-Kanak Yesus yang suci.

Kota Praha ibu kota negara Ceko, tempat bersemayam patung Kanak-Kanak Yesus, terasa begitu jauh dari jangkauan. Sama sekali tak terlintas dalam benakku, suatu kali aku akan menjejakkan kaki ke tempat ini.

Kesempatan datang ketika keluarga kami merancang ziarah pribadi ke beberapa tempat di Eropa. Praha menjadi salah satu tujuan, dan Gereja Our Lady Victorious berada di urutan atas yang akan kami kunjungi. 

Menatap dengan takjub patung Kanak-Kanak Yesus di Praha, bukan hanya karena keindahan dan keontetikannya, terlebih karena tak menyangka kami bisa memandang langsung patung Kanak-Kanak Yesus di kota asalnya. Sungguh, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.


Doa Syukur kepada Kanak-Kanak Yesus

Kanak-Kanak Yesus yang amat baik, dengan bersujud di hadapan-Mu aku mempersembahkan syukurku atas segala berkat yang telah Kau limpahkan bagiku. Tak henti-hentinya aku memuji kerahiman-Mu yang tak terlukiskan; aku mengakui hanya Engkaulah Allahku, penolong dan pelindungku. Mulai sekarang, aku mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Mu; aku akan mewartakan kerahiman dan kemurahan-Mu di mana-mana, agar semua orang mengakui kasih dan kebaikan-Mu yang besar.
Semoga penghormatan kepada masa Kanak-Kanak-Mu yang suci semakin berkembang dalam hati semua orang Kristen, dan semoga semua orang yang telah menerima pertolongan-Mu senantiasa setia untuk bersyukur kepada-Mu. Kanak-Kanak Suci, pujian dan kemuliaan bagi-Mu selama-lamanya. Amin. (dari kertas doa Devosi kepada Kanak-Kanak Yesus)


Selasa, 24 Juli 2018

Memaknai Doa Koronka

Sebagian besar bangunan gereja di sebuah negara di Eropa ini bergaya gotik dengan dinding batu bata merah tak diplester, berdiri sejak abad 15-17. Namun, kemegahan gedung ditambah keindahan dan keagungan altar serta hiasan-hiasan suci di dalam gereja, tidak diimbangi dengan kegairahan umat untuk beribadah. Agaknya, kemutakhiran dunia berbanding terbalik dengan keimanan orang-orang di zaman modern, terutama di negara-negara maju.

Saat menyusuri jalan raya yang lebar namun lengang, tergambar wajah duka Yesus yang memandang kondisi dunia ini. Tiba-tiba terlintas dalam hati, kalimat yang terus kita ulangi dalam doa Koronka: "Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia."

Kalimat doa Koronka itu menjadi jelas maknanya, di saat kita membayangkan kepedihan hati Yesus, kemudian kita memohon kepada Allah Bapa untuk menghargai penderitaan Yesus yang begitu besar guna menebus umat manusia melalui sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. 

Doa Koronka menjadi sarana tepat bagi kita untuk memohon Kerahiman Bapa bagi umat manusia yang menyimpang dari jalan-Nya. Bersama-sama kita meminta kepada Bapa: "Pandanglah pengurbanan Putra-Mu, ya Bapa, dan kasihanilah kami. Janganlah murka dan menghukum dunia lagi karena Putra-Mu telah menebus umat manusia dengan Darah Suci-Nya."

Minggu, 01 Juli 2018

Sepasang Kaki yang Kuat

Betul, itulah yang kumohon kepadaMu. Aku memang membutuhkannya saat ini, ketika aku harus berjalan kaki menempuh jarak beratus meter hingga beberapa kilometer untuk mencapai halte bus, stasiun kereta, atau sebuah tempat.

Sudah berpuluh tahun aku terbiasa berkendara atau naik kendaraan umum, bahkan untuk mencapai tempat berjarak dekat. Kini di negeri orang, tak ada angkutan kota yang lalu-lalang, apalagi bisa berkendara sendiri dengan mobil sewaan.

Sepasang kaki kuat seperti kakiMu yang tanpa lelah menyusuri jalan-jalan di seputar Galilea dan Yerusalem. Itulah yang kuperlukan, supaya bisa menjangkau tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Dan Tuhan mengabulkan permohonanku melalui suatu kejadian yang tak menyenangkan.

Suatu hari, aku bersikeras naik bus daripada harus berjalan kaki sejauh 1,5 km untuk pulang ke tempat penginapan. Tiba di persimpangan, rasanya sudah mendekati rumah yang terletak di pinggiran kota, kami berdua turun. Berjalan beberapa langkah, kami bingung dengan arah yang harus dituju.

Teknologi komunikasi sudah canggih, seharusnya kami membuka gadget untuk memperoleh petunjuk arah. Namun, hal itu tak dapat kami lakukan karena perangkat kehabisan batere. Berjalan tanpa kepastian arah, berusaha mencari tanda yang kami kenali di jalan-jalan yang kami lalui.... dua jam berlalu, akhirnya kami bisa tiba di tempat penginapan.

Mengilas balik rute yang kami tempuh saat tersesat dan mengukur jaraknya dengan Google Map, ternyata kami sudah berjalan kaki sejauh 4,5 km! Betapa ajaib caraMu, Tuhan Yesus - menunjukkan secara langsung lewat pengalaman ini: aku punya sepasang kaki yang kuat! Terima kasih atas anugerahMu.