Senin, 21 Agustus 2017

Patuh Karena Diawasi

Seorang pemilik restoran bertutur, ia atau salah satu anggota keluarganya harus selalu berada di restoran milik keluarga yang dibangun sejak 37 tahun silam, untuk mengawasi para karyawan dalam bekerja. Kalau tidak, para karyawan berbuat seenaknya.

Hari ini kita membaca tentang umat Israel yang patuh kepada Tuhan selama ada hakim-hakim yang dibangkitkan Tuhan untuk menyelamatkan umat Israel dari tangan musuh mereka. Tetapi, apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat... (lihat Hakim-Hakim 2:11-19).

Patuh karena diawasi merupakan kecenderungan kita sebagai manusia. Simon Petrus pun patuh kepada Yesus sejauh Sang Guru berada di dekatnya. Ketika Yesus telah bangkit dan hanya sesekali menampakkan diri di hadapan murid-muridNya, Petrus memilih pergi menangkap ikan lagi (lihat Yohanes 21:2-3a). Sampai kemudian Yesus bertanya tiga kali kepada Petrus untuk menakar kesungguhannya dalam mengikuti Yesus. Bagaimana dengan kita? 

Rabu, 09 Agustus 2017

Melihat Sisi Positif Kehendak Tuhan


Dua belas orang dipilih Musa dari setiap suku Israel untuk mengintai tanah Kanaan, negeri yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan keturunannya. Setelah 40 hari mereka kembali, lalu melapor kepada Musa, Harun, dan segenap umat Israel. (Bilangan 13:1-33)

Sepuluh pengintai berkata negatif tentang negeri yang akan mereka masuki, sementara hanya dua pengintai: Kaleb dan Yosua yang melihat sisi positif. "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya." (Bilangan 14:7b-8)

Segenap umat Israel hendak melontari Kaleb dan Yosua dengan batu, tetapi Tuhan membela keduanya. Dari 12 orang pengintai, hanya Yosua dan Kaleb yang tetap hidup. Tuhan berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! (Bilangan 14:11) 

***

Terkadang kita seperti sepuluh pengintai itu, tidak bisa melihat sisi positif kehendak Tuhan. Kita hanya membayangkan hal-hal buruk yang kita perkirakan bakal menimpa kita, padahal belum tentu terjadi demikian. Kita masih perlu mengasah iman kita, agar dapat melihat sisi positif seperti Kaleb dan Yosua; sehingga dalam segala hal dapat berkata seperti Bunda Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Selasa, 08 Agustus 2017

Miryam

Ketika masih kecil, Miryam menjadi saksi penyertaan Tuhan terhadap adik lelakinya. Ia mengikuti peti yang membawa bayi Musa sampai ke istana puteri Firaun. Dengan berani ia bertanya kepada puteri Firaun, "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" (Keluaran 2:7)

Sesaat setelah Tuhan membuat air Laut Merah berbalik memporakporandakan pasukan berkuda Firaun, Miryam mengambil rebana. Ia menyanyi dan menari diikuti semua perempuan Israel. Miryam mempimpin mereka, "Menyanyilah bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut." (Keluaran 15:21)

Dalam pengembaraan di padang gurun, Miryam bersama kakaknya Harun, mempertanyakan kenabian Musa adik mereka, ketika Musa mengambil perempuan Kush menjadi isterinya. "Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" kata Harun dan Miryam. (Bilangan 12:2)

Karena kesangsian mereka itu, Tuhan memanggil tiga bersaudara - Harun, Miryam, dan Musa - untuk menghadapNya. Tuhan membela Musa dengan menegur Harun dan Miryam. Setelah Tuhan berlalu, Miryam kena kusta.

Musa memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan kakaknya. Tuhan menjawab Musa. Selama 7 hari Miryam dikucilkan ke luar tempat perkemahan. Bangsa Israel menanti kesembuhan Miryam, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. (Bilangan 12:16)

Miryam masih mengiringi peziarahan bangsanya di padang gurun, sampai ia meninggal di Kadesh dan dimakamkan di sana.

***

Adakah penilaian-penilaian yang kita buat telah menjadi penghambat langkah maju dalam kehidupan spiritual kita? Kita perlu senantiasa waspada, jangan sampai menjadi seperti Miryam di tengah peziarahan kita di dunia.

Minggu, 06 Agustus 2017

Cahaya Pelita di Tempat Gelap

Ketika Tuhan Yesus dimuliakan Allah Bapa di Gunung Tabor, rasul Petrus adalah salah seorang saksi mata. Dan Yesus telah berpesan kepada tiga rasul yang mengikutiNya untuk tidak menceritakan penglihatan yang mereka lihat di atas Gunung Tabor kepada siapa pun sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (lihat Matius 17:9).

Petrus menepati permintaan Yesus. Setelah Yesus naik ke Surga, dalam pengajarannya Petrus mengungkapkan peristiwa itu (lihat 2 Petrus 1:16-21). Petrus bersaksi tentang apa yang dialaminya di Gunung Tabor.

Peristiwa penampakan Yesus dengan nabi Elia dan nabi Musa di atas Gunung Tabor meneguhkan keilahian Yesus, sekaligus menjadi pegangan bagi umat beriman yang terkadang dilanda keraguan akan kemahakuasaan Yesus.

Inilah yang dimaksudkan rasul Petrus ketika ia mengatakan: ".... Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu (2 Petrus 1:19b).

Yesus yang dimuliakan Allah Bapa di Gunung Tabor adalah Kristus, Mesias, Allah Putra. Walaupun sekeliling kita diliputi kegelapan, dengan tetap berpegang pada keyakinan iman itu, kita dapat teguh bertahan sampai Sang Surya Kebenaran terbit dan CahayaNya bersinar dalam hati kita.