Minggu, 28 Mei 2017

Masih Adakah Iman di Bumi?

".... jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8b)

Pertanyaan Yesus itu patut menjadi bahan utama refleksi kita, saat kita menjalani hari-hari dalam kehidupan kita di dunia ini yang serba diwarnai ketidakpastian, serta rusaknya lingkungan bumi dan hilangnya kebajikan umat manusia. Di tengah situasi tersebut, adakah kita sering atau bahkan selalu merasa khawatir dan takut? 

Kekhawatiran dan ketakutan dapat menyebabkan kita mengambil langkah yang keliru. Contohnya, Pilatus khawatir mendapat citra buruk di mata masyarakat jika ia memihak Yesus, ditambah lagi ia bakal dianggap bukan sahabat kaisar, maka Pilatus takut membebaskan Yesus. Petrus khawatir ditangkap dan dihukum seperti Yesus, maka Petrus takut mengakui dirinya murid Yesus dan memilih menyangkal Yesus.

Kekhawatiran dan ketakutan yang menggunung merupakan bukti nyata menguapnya iman. Ketika taufan sangat dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, para murid membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" Setelah menghardik angin itu dan danau menjadi teduh sekali, Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" (Lihat Markus 4:35-40)

Di atas segala yang terjadi dalam kehidupan kita, janganlah sampai iman kita menyurut. Tidakkah Yesus akan sangat berduka, jika pada saat Ia datang kembali, Ia tidak lagi mendapati iman di bumi?

Minggu, 14 Mei 2017

Pertanyaan Anak-Anak

Pengajaran Bina Iman sore itu diisi dengan menonton bersama film kartun Penampakan Bunda Maria di Fatima:

https://www.youtube.com/watch?v=87xRcZcriAk&t=378s

https://www.youtube.com/watch?v=GNa08jQlW_g

https://www.youtube.com/watch?v=V385KSsZULk

Usai menyaksikannya, seorang anak perempuan kelas 4 SD bertanya: "Mengapa Bunda Maria tidak menampakkan diri lagi sekarang?"
"Apakah ada di antara kalian yang berdoa Rosario setiap hari?" sang pengajar balik bertanya. Dua belas anak yang duduk di bangku SD kelas 1-4 itu menggelengkan kepala. "Ketiga anak gembala di Fatima mendaraskan doa Rosario setiap hari, seperti yang dipesankan Bunda Maria dalam 6 kali penampakan di Fatima. Bagaimana Bunda Maria mau mengunjungi kita, jika kita tidak dekat dengannya?" tandas sang pengajar.

Sejurus, semua anak terdiam. Lalu, seorang anak laki-laki kelas 3 SD berkata, "Ibu, saya tidak mau berdoa, karena kalau saya berdoa di depan teman-teman, mereka mengatakan saya sok suci." Problema zaman modern. "Kamu bisa tetap berdoa. Masuklah ke kamar tidur kamu, lalu tutup pintu. Di dalam kamar kamu bisa berdoa dengan tenang," sang pengajar menyarankan. Anak-anak mengangguk.
 

Sabtu, 13 Mei 2017

100 Tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima


"Apakah kalian mau mempersembahkan dirimu kepada Allah dan menanggung semua penderitaan yang dikirimkan-Nya kepadamu, demi penebusan dosa-dosa yang melukai hati-Nya dan demi pertobatan para pendosa?"  

(Pertanyaan Bunda Maria kepada Lusia, Fransiskus, dan Yasinta dalam Penampakan pertama di Fatima, Portugal, 13 Mei 1917)
***

Hari ini, ketika kita merayakan 100 tahun Penampakan Bunda Maria di Fatima, kita patut merenungkan kembali pertanyaan Bunda Maria kepada tiga anak gembala dalam Penampakan Pertama itu:

- Apakah kita mau mempersembahkan diri kita kepada Allah? 
- Apakah kita mau menanggung semua penderitaan yang diberikan Allah kepada kita?

Pesan Bunda Maria di Fatima 100 tahun yang lalu tetap relevan saat ini. 
Persembahan diri dan kesediaan menanggung penderitaan dimaksudkan sebagai penebusan atas dosa-dosa kita yang telah melukai hati Tuhan dan untuk pertobatan orang-orang berdosa.

Ketiga anak gembala yang masih anak-anak itu menjawab "ya" dengan mantap untuk kedua pertanyaan Bunda Maria tersebut. Bagaimana dengan kita?


Selasa, 09 Mei 2017

Keadilan Allah

"Apabila Aku menetapkan waktunya, 
Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran. 
(Mazmur 75:2)


Kami menanti keadilanMu, ya Tuhan, yang jauh melampaui keadilan manusia