Jangan pernah menyesali masa lalu
karena masa itu tidak akan terulang kembali.
Lebih baik mensyukuri masa lalu
karena melalui masa itu
engkau telah sampai pada titik
di mana engkau berada sekarang.
Minggu, 29 November 2015
Senin, 02 November 2015
Memahami Kematian
Seseorang berdiri di halte bus. Tiba-tiba sebuah mobil yang rem-nya blong menabrak orang itu hingga wafat. Seseorang lain menjadi korban aksi perampokan, ditusuk dan meninggal. Ada orang yang tampak sehat, tiba-tiba mengalami serangan jantung lalu menghembuskan napas terakhir. Gempa bumi melanda suatu tempat, meruntuhkan bangunan dan menimbun mati penghuninya. Pesawat terbang itu meledak di udara akibat hantaman peluru kendali yang salah sasaran, seluruh penumpangnya tewas.
Sederet cara orang meninggal bisa ditambahkan pada paragraf di atas. Terhadap orang-orang yang meninggal mendadak, kerap muncul pertanyaan: apakah orang yang mengalami kematian seperti itu memang sudah waktunya kembali kepada Sang Pencipta ataukah sebenarnya kematian bisa ditunda?
Dalam kitab Mazmur 139:16 nabi Daud menulis, ".... mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Ini berarti hari-hari hidup setiap manusia di dunia sudah ditentukan jangka waktunya. Maka, jika seseorang mengalami kematian mendadak, orang itu memang sudah saatnya pulang kepada Sang Pencipta.
Kematian milik setiap manusia, tak terelakkan. Kita tidak tahu dengan cara bagaimana kita akan mati pada waktu yang telah ditentukan Sang Pencipta. Kalau setiap orang diperkenankan Tuhan untuk memilih, tentu semua orang akan meminta cara mati yang menyenangkan dan paling sedikit rasa sakitnya. Tidur nyenyak di malam hari, membuka mata sudah di alam keabadian. Apalagi kalau Tuhan juga memperkenankan orang yang akan mati untuk berpamitan dengan keluarga dan handai tolan, lebih dulu memberesi semua urusannya di dunia.
Kematian mendadak dengan berbagai cara yang tidak mengenakkan di mata manusia, itulah yang sering kali menyebabkan jiwa-jiwa yang belum mau beralih ke dunia lain terpenjara antara dunia fana dan kekal, serta menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
Mungkin, cara Tuhan memanggil pulang tidak sesuai dengan harapan manusia. Kematian mendadak - mengejutkan kedua pihak: orang yang meninggal belum siap dan belum ingin meninggal, sementara orang yang ditinggalkan belum siap ditinggal pergi selamanya. Dalam situasi ini diperlukan keikhlasan hati. Orang yang meninggal ikhlas melepas segala ikatannya dengan dunia kebendaan, sedangkan orang yang ditinggalkan ikhlas melepas kepergian orang itu ke alam baka.
Kematian tetap menjadi misteri bagi manusia. Tetapi, dengan iman kita meyakini, Kristus telah dibangkitkan Bapa dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Kristus telah membinasakan musuh terakhir manusia, yaitu maut. (lihat 1 Korintus 15:20 dan 26)
Kita semua yang masih tinggal di dunia ini menanti jemputanNya. Nantikan kedatanganNya bukan dengan rasa takut dalam ketidakpastian, melainkan dengan rasa pasrah dalam keyakinan.
KedatanganNya sepatutnya menjadi saat yang membahagiakan bagi setiap orang, karena dapat menatap Tuhan muka dengan muka. Seperti dikatakan Santa Teresa Avila, "Aku ingin melihat Tuhan, dan untuk melihatNya, aku harus mati." Melalui perubahan dari hidup fana ke hidup kekal, terpenuhilah kerinduan jiwa manusia untuk bersatu dengan Penciptanya.
Sederet cara orang meninggal bisa ditambahkan pada paragraf di atas. Terhadap orang-orang yang meninggal mendadak, kerap muncul pertanyaan: apakah orang yang mengalami kematian seperti itu memang sudah waktunya kembali kepada Sang Pencipta ataukah sebenarnya kematian bisa ditunda?
Dalam kitab Mazmur 139:16 nabi Daud menulis, ".... mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Ini berarti hari-hari hidup setiap manusia di dunia sudah ditentukan jangka waktunya. Maka, jika seseorang mengalami kematian mendadak, orang itu memang sudah saatnya pulang kepada Sang Pencipta.
Kematian milik setiap manusia, tak terelakkan. Kita tidak tahu dengan cara bagaimana kita akan mati pada waktu yang telah ditentukan Sang Pencipta. Kalau setiap orang diperkenankan Tuhan untuk memilih, tentu semua orang akan meminta cara mati yang menyenangkan dan paling sedikit rasa sakitnya. Tidur nyenyak di malam hari, membuka mata sudah di alam keabadian. Apalagi kalau Tuhan juga memperkenankan orang yang akan mati untuk berpamitan dengan keluarga dan handai tolan, lebih dulu memberesi semua urusannya di dunia.
Kematian mendadak dengan berbagai cara yang tidak mengenakkan di mata manusia, itulah yang sering kali menyebabkan jiwa-jiwa yang belum mau beralih ke dunia lain terpenjara antara dunia fana dan kekal, serta menyisakan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
Mungkin, cara Tuhan memanggil pulang tidak sesuai dengan harapan manusia. Kematian mendadak - mengejutkan kedua pihak: orang yang meninggal belum siap dan belum ingin meninggal, sementara orang yang ditinggalkan belum siap ditinggal pergi selamanya. Dalam situasi ini diperlukan keikhlasan hati. Orang yang meninggal ikhlas melepas segala ikatannya dengan dunia kebendaan, sedangkan orang yang ditinggalkan ikhlas melepas kepergian orang itu ke alam baka.
Kematian tetap menjadi misteri bagi manusia. Tetapi, dengan iman kita meyakini, Kristus telah dibangkitkan Bapa dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Kristus telah membinasakan musuh terakhir manusia, yaitu maut. (lihat 1 Korintus 15:20 dan 26)
Kita semua yang masih tinggal di dunia ini menanti jemputanNya. Nantikan kedatanganNya bukan dengan rasa takut dalam ketidakpastian, melainkan dengan rasa pasrah dalam keyakinan.
KedatanganNya sepatutnya menjadi saat yang membahagiakan bagi setiap orang, karena dapat menatap Tuhan muka dengan muka. Seperti dikatakan Santa Teresa Avila, "Aku ingin melihat Tuhan, dan untuk melihatNya, aku harus mati." Melalui perubahan dari hidup fana ke hidup kekal, terpenuhilah kerinduan jiwa manusia untuk bersatu dengan Penciptanya.
Minggu, 01 November 2015
Tidak Dikenal, Namun Terkenal
Menurut rasul Paulus, salah satu ciri pelayan Allah adalah "sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal." (2 Korintus 6:9) Para kudus yang kita rayakan pada hari ini adalah pelayan-pelayan Allah yang setia semasa mereka hidup di dunia. Tidak banyak orang mengenal mereka, namun akhirnya mereka menjadi terkenal.
Ketika Germaine Cousin lahir di Pibrac-Perancis tahun 1579, ibunya meninggal. Ayahnya menikah lagi, tetapi sang ibu tiri sangat membenci Germaine. Ia tidak boleh tinggal di rumahnya sendiri, melainkan di gudang. Tidur beralas kumpulan ranting dengan bantal dari tumpukan jerami.
Germaine berperawakan kurus, tangan kanannya cacat, dan menderita penyakit TBC kelenjar. Setiap pagi ia hanya diberi sepotong roti dan air putih. Ia harus menggembalakan domba dan mengerjakan berbagai tugas dari ibu tirinya. Semua tugas diselesaikan Germaine dengan gembira.
Sepanjang hidupnya, Germaine tak pernah mengenyam pendidikan. Tetapi ia memiliki pengalaman rohani yang mendalam. Di tengah kesibukan kerja setiap hari, Germaine selalu menyediakan waktu untuk mengikuti misa dan berdoa Rosario.
Germaine meninggal di atas ranjang rantingnya pada usia 22 tahun. Saat itulah, ibu tirinya bertobat. Ia terus berada di samping jenazah anak tirinya dan meminta maaf atas semua perlakuannya kepada Germaine.
Kisah hidup seorang anak manusia yang sangat biasa, diterlantarkan ibu tiri yang kejam. Namun Tuhan mengganjar kerendahan hati, ketabahan, dan kesalehan Germaine dengan mahkota kehidupan abadi. Setelah 43 tahun kematiannya, ketika makamnya dibongkar, mereka mendapati jasad Germaine tidak hancur. Jasad itu dimakamkan kembali dalam peti kaca dan diletakkan di bawah altar Gereja Pibrac.
Alfonsus Rodriguez (1531-1617) selama 45 tahun melakukan tugasnya sebagai penjaga pintu biara Serikat Yesuit di Palma de Majorca, Spanyol. Banyak orang mendapat peneguhan spiritual saat bertamu ke biara dan diterima oleh sang penjaga pintu. Di antaranya, Petrus Claver, imam Yesuit yang semasa belajar sering meminta nasihat Bruder Alfonsus.
Kesetiaan pada tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati, menjadikan Alfonsus seorang kudus. Ia selalu menganggap orang yang ia bukakan pintu di biara adalah Yesus sendiri. Pada 6 September 1887 Alfonsus dikanonisasi sebagai Santo.
Ini pun kisah hidup yang sangat bersahaja. Bayangkan, selama 45 tahun hanya menjadi penjaga pintu! Bagi Tuhan ketulusan hati dalam kesetiaan adalah harta yang tak ternilai.
Hidup tersembunyi dalam persekutuan yang erat bersama Yesus selama berada di dunia. Memakai mahkota kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah. Tidak dikenal, tetapi terkenal - demikianlah cara hidup orang-orang kudus.
Saban hari Alfonsus menjalankan tugas membuka
pintu bagi siapa saja yang bertamu ke biara. Tugas sederhana ini ia
jalani dengan penuh sukacita dan rendah hati selama 45 tahun.
Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.
Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.
Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.
Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.
Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpuf
Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.
Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.
Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.
Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.
Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpuf
Saban hari Alfonsus menjalankan tugas membuka
pintu bagi siapa saja yang bertamu ke biara. Tugas sederhana ini ia
jalani dengan penuh sukacita dan rendah hati selama 45 tahun.
Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.
Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.
Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.
Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.
Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpuf
Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.
Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.
Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.
Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.
Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpuf
Saban hari Alfonsus menjalankan tugas membuka
pintu bagi siapa saja yang bertamu ke biara. Tugas sederhana ini ia
jalani dengan penuh sukacita dan rendah hati selama 45 tahun.
Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.
Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.
Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.
Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.
Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpufMereka sangat rendah hati, tidak mengharapkan ketenaran; namun setelah mereka meninggalkan dunia ini, mereka malah terkenal.
Bertugas sebagai penjaga pintu tampak sangat sederhana. Tetapi, Alfonsus telah melakukannya dengan hati besar. Sisa hidupnya diisi dengan membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu, sambil mengerjakan hal-hal kecil di sela-sela tugasnya itu. Selama menjalani tugas ini, Alfonsus selalu menganggap semua tamu yang melewati pintu yang ia jaga adalah Yesus sendiri.
Sembari menjaga pintu tamu, Alfonsus juga membuka pintu hatinya. Banyak orang yang melewati pintu biara mendapat peneguhan spiritual darinya. Salah satu di antaranya, Petrus Claver. Sewaktu masih belajar, Petrus Claver sering meminta nasihat Alfonsus. Berkat bimbingan Alfonsus, Petrus Claver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang kulit hitam yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Alfonsus dilahirkan dalam keluarga pedagang kain wol kaya raya di Segovia, Spanyol pada 1531. Saat belajar di Universitas Alkala, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Selang beberapa tahun, ia menikah dan dikaruniai anak.
Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Cobaan tidak berhenti di situ saja. Istri dan anaknya pun berpulang ke pangkuan Bapa. Alfonsus menerima segalanya dengan pasrah.
Selanjutnya, Alfonsus terpanggil memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder Serikat Yesus (SJ) di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca, Spanyol.
Di sinilah, ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Ia diberi tugas sebagai penjaga pintu tamu. Santo Alfonsus diangkat sebagai pelindung para bruder SJ. Kesetiaan dalam tugas, kesederhanaan, dan kerendahan hati Alfonsus Rodriguez memberi semangat tersendiri bagi para bruder Yesuit. Termasuk, para bruder Yesuit di Indonesia.
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/27/santo-alfonsus-rodriquez-kesetiaan-sang-penjaga-pintu#sthash.CzpKltZZ.dpufMereka sangat rendah hati, tidak mengharapkan ketenaran; namun setelah mereka meninggalkan dunia ini, mereka malah terkenal.