Rabu, 31 Desember 2014

Memahkotai Tahun

Apa pun yang telah aku alami,
apa pun yang bakal aku alami,
aku mau senantiasa mengucap syukur kepadaMu,
karena aku tahu di balik semua peristiwa,
Engkau selalu memahkotai tahun 
dengan kebaikanMu 
(lihat Mazmur 65:11a)

Kamis, 25 Desember 2014

Tak Perlu Mencari Penginapan Lagi

Di tengah malam gelap dan sunyi,
ketika penduduk kota Betlehem telah terlelap,
AyahMu mencari penginapan,
IbuMu menahan sakit menjelang persalinan.

Beberapa rumah menolak menerima,
tak ada ruang tersisa untuk Ayah dan IbuMu,
apalagi ditambah Seorang Bayi yang akan lahir,
mereka tak mau terusik di tengah kenyamanan.

Menjelang perayaan hari lahirMu,
rumah kami telah selesai dibangun,
Ayah dan IbuMu tak perlu mencari penginapan lagi,
tinggallah seterusnya di sini.

Inilah rumah yang akan menjadi RumahMu,
tempat Ayah dan IbuMu membesarkanMu,
kami siap menjadi pelayan-pelayanMu,
senantiasa bersamaMu di bawah satu atap.

Kamis, 18 Desember 2014

Semarak Menyambut KelahiranMu

Hari-hari ini, ketika berjalan dalam mal-mal anyar, kita dapat merasakan begitu semarak aneka hiasan dan lagu-lagu yang dikumandangkan untuk menyambut perayaan Natal. Hati kita dipenuhi rasa sukacita menikmati kesemarakan itu.

Semoga, hati setiap orang juga memiliki semarak yang sama, karena menerima kehadiran Sang Bayi Mungil nan suci dalam hidup mereka. Jika ini terjadi, maka kemilau indah aneka hiasan dan kidung gembira yang digemakan di pusat-pusat perbelanjaan akan semakin memberi makna, bukan sekadar ritual perayaan tahunan.

Minggu, 07 Desember 2014

Lega....

Tenangkanlah hatimu, 
perhambaanmu sudah berakhir, 
kesalahanmu telah diampuni,
sebab engkau telah menerima hukuman 
dari tangan Tuhan dua kali lipat
karena segala dosamu.

(lihat Yesaya 40:2, bacaan pertama dalam Perayaan Ekaristi di minggu Adven ke-2) 

Jumat, 05 Desember 2014

Teringat Dosa Lama

Masa Adven - penantian akan kedatanganMu. Ajakan untuk bertobat menggema - menyucikan hati, agar pantas menerima kehadiran Engkau, Sang Juru Selamat.

Merefleksikan perjalanan hidup untuk menggali dosa-dosa yang masih tersisa dan perlu diakui, membuatku teringat akan dosa lama. Tiga dosa besar itu telah aku akui dalam Sakramen Rekonsiliasi hampir lima tahun silam, menjelang Natal seperti sekarang.

Engkau telah mengampuniku, menebusku dengan Darah suciMu. Sejauh timur dari barat, Engkau menjauhkan aku dari pelanggaranku. (lihat Mazmur 103:12)

Semestinya semua sudah selesai. Namun, ingatan akan dosa lama itu dimanfaatkan si jahat untuk merenggangkan relasiku denganMu. Aku jadi merasa tak pantas berada dalam hadiratMu. Aku menarik diri, melangkah mundur dari hadapanMu. Aku enggan menyapaMu, apalagi berbincang secara pribadi denganMu. Rasanya malu, tak layak.

Sesaat terasa hampa. Ah... di pojok sana si jahat menyeringai.
Bertepuk tangan penuh kemenangan. 

Hei, apa yang terjadi denganku?

Dengan sikapku seperti ini, bukankah berarti....
aku meragukan pengampunanMu,
aku menolak kerahimanMu,
aku menghancurkan kedekatan relasi yang telah terbangun di antara kita.

Ampuni, aku, ya Yesus.
Engkau adalah Gembala yang rela meninggalkan 99 ekor domba
hanya untuk mencari seekor domba yang hilang.
Engkau adalah Ayah yang selalu mengasihi,
meskipun si anak telah menghamburkan harta warisan.

Aku kembali kepadaMu, apa adanya.