PengalamanMu ketika menyembuhkan seorang yang kerasukan setan di Kapernaum menyadarkanku, terutama perkataan yang dilontarkan setan: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." (Markus 1:24)
Setan saja mengakui bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah, meskipun ia tak percaya kepadaMu. Aku pun mengakui yang sama, namun imanku masih belum begitu teguh. Ketika pencobaan datang, rintangan menghadang, aku mulai meragukan penyertaan dan kasih setiaMu.
Oh... Tuhan, aku tak ingin sama seperti setan... Tambahkanlah imanku, ya Tuhan...
Minggu, 29 Januari 2012
Minggu, 22 Januari 2012
Hadiah
Ketika engkau membuka matamu di pagi hari dari tidur panjang semalam,
sesungguhnya engkau mendapat hadiah dari Sang Pencipta.
Sebuah hari baru yang diberikanNya untuk engkau gunakan.
Engkau dapat melewatkannya seperti hari-hari sebelumnya,
atau engkau dapat memanfaatkannya sepenuh hati,
seakan hanya itu waktu yang tersisa untukmu.
Dan jika malam datang merambat, mengambil hadiah itu darimu,
engkau akan tidur dalam kepasrahan dan harapan,
semoga esok pagi engkau masih memperoleh hadiah dariNya lagi.
sesungguhnya engkau mendapat hadiah dari Sang Pencipta.
Sebuah hari baru yang diberikanNya untuk engkau gunakan.
Engkau dapat melewatkannya seperti hari-hari sebelumnya,
atau engkau dapat memanfaatkannya sepenuh hati,
seakan hanya itu waktu yang tersisa untukmu.
Dan jika malam datang merambat, mengambil hadiah itu darimu,
engkau akan tidur dalam kepasrahan dan harapan,
semoga esok pagi engkau masih memperoleh hadiah dariNya lagi.
Senin, 16 Januari 2012
Tak akan Mempertanyakannya
Hidup seakan terlontar ke masa lampau, begitu ia kembali.
Engkau menghadirkannya lagi, pada saat aku sudah melangkah sekian jauh bersamaMu.
Biarlah aku menjalaninya saja bersamaMu.
Aku tak akan mempertanyakannya kepadaMu.
Engkau sudah punya jawabannya.
Aku hanya perlu bersabar menanti penggenapannya.
Engkau menghadirkannya lagi, pada saat aku sudah melangkah sekian jauh bersamaMu.
Biarlah aku menjalaninya saja bersamaMu.
Aku tak akan mempertanyakannya kepadaMu.
Engkau sudah punya jawabannya.
Aku hanya perlu bersabar menanti penggenapannya.
Minggu, 15 Januari 2012
Apakah yang Kamu Cari?
PertanyaanMu yang Kau lontarkan dalam bacaan Injil hari ini kepada dua rasul pertama yang mengikutiMu, menggelitik batinku. Ya, apakah yang aku cari, ketika aku menyatakan kesediaanku untuk memulai peziarahan ini denganMu?
Hatiku belum sepenuhnya taat kepadaMu. Khayalanku terkadang masih mengembara, impianku masih bertaburan. Sebagai alas kakiMu, aku masih cenderung membelokkan arahku ke tempat yang ingin kulewati, ketimbang mengikuti langkahMu.
Apakah yang sesungguhnya aku cari?
Aku terdiam mengiringi langkahMu.
Hatiku belum sepenuhnya taat kepadaMu. Khayalanku terkadang masih mengembara, impianku masih bertaburan. Sebagai alas kakiMu, aku masih cenderung membelokkan arahku ke tempat yang ingin kulewati, ketimbang mengikuti langkahMu.
Apakah yang sesungguhnya aku cari?
Aku terdiam mengiringi langkahMu.
Sabtu, 14 Januari 2012
Menunggu WaktuMu
Waktu terasa semakin sempit. Orang-orang di dekatku mendesakku untuk segera mengambil keputusan. Padahal, di awal tahun aku mendengar bisikan suaraMu yang memintaku menanti hingga Paskah. Tidak terlalu lama, sekitar tiga bulan lagi. Mana yang harus kulakukan?
Seorang sahabat lama yang sebelumnya tak pernah berkontak, tiba-tiba membagikan pengalamannya. Selama enam bulan ia bergumul, menanti dengan sabar, sampai Tuhan menghadirkan seorang yang tepat untuk mengisi salah satu posisi penting di organisasinya.
Jika ia bisa bersabar, taat menanti pertolongan Tuhan, mengapa aku tak bisa melakukan yang sama? Ia menjalaninya selama enam bulan, sementara Tuhan hanya memintaku menanti tiga bulan ke depan. Baiklah, Tuhan, aku akan menunggu waktuMu.
Seorang sahabat lama yang sebelumnya tak pernah berkontak, tiba-tiba membagikan pengalamannya. Selama enam bulan ia bergumul, menanti dengan sabar, sampai Tuhan menghadirkan seorang yang tepat untuk mengisi salah satu posisi penting di organisasinya.
Jika ia bisa bersabar, taat menanti pertolongan Tuhan, mengapa aku tak bisa melakukan yang sama? Ia menjalaninya selama enam bulan, sementara Tuhan hanya memintaku menanti tiga bulan ke depan. Baiklah, Tuhan, aku akan menunggu waktuMu.
Minggu, 08 Januari 2012
Keluar dari Padang Gurun
Dua hari lalu saat aku berdiam diri di hadiratMu di pagi yang hening, aku mendapat pencerahan itu. Sekarang aku memahami makna terdalam dari dua peristiwa besar yang kualami pada pertengahan Oktober dan akhir November tahun lalu. Kau membawaku ke jalan-jalan yang tak terduga.
Padang gurun itu telah kita lewati bersama, tepat 40 hari saat Kau menjelaskan padaku makna semua itu. Oh, Tuhan... aku terperangah. Tak tahu lagi apa yang harus kuuraikan lewat kata-kata. Ketika aku menemukan SabdaMu lewat bisikan batinku, sore hari aku mendapati yang sama di buku renungan harian yang kubaca.
Peziarahan merupakan jalan kematian menuju kehidupan. Seorang peziarah akan meninggalkan orang-orang yang dikasihi dan rumah, memercayakan keselamatan dan pemeliharaan dirinya kepada Tuhan.
Awalnya Tuhan memimpin peziarah seperti Ia memimpin orang sekarat - dan peziarah mengikutiNya dengan malu, canggung, dan takut. Kemudian Tuhan melepaskannya pergi di suatu tempat di tengah perjalanan.Orang melepaskan semua yang ditinggalkan ke tangan yang akan menggenggam tangannya dalam perjalanan. (Dari Kata Pengantar buku Sepanjang Tahun Bersama Fransiskus - Meditasi Harian dari Perkataan dan Hidupnya, karya Murray Bodo)
Sungguh mengagumkan. Terlalu terbatas bagi logika manusia untuk mencernanya.Takjub aku menyaksikannya. Aku bahagia karena telah Kau pilih menjadi alas kakiMu. Mari, ya Tuhanku, kita memulai peziarahan ini. Dan aku menantikan saat Kau membawaku ke tempat-tempat lain yang ingin Kau tunjukkan kepadaku.
Padang gurun itu telah kita lewati bersama, tepat 40 hari saat Kau menjelaskan padaku makna semua itu. Oh, Tuhan... aku terperangah. Tak tahu lagi apa yang harus kuuraikan lewat kata-kata. Ketika aku menemukan SabdaMu lewat bisikan batinku, sore hari aku mendapati yang sama di buku renungan harian yang kubaca.
Peziarahan merupakan jalan kematian menuju kehidupan. Seorang peziarah akan meninggalkan orang-orang yang dikasihi dan rumah, memercayakan keselamatan dan pemeliharaan dirinya kepada Tuhan.
Awalnya Tuhan memimpin peziarah seperti Ia memimpin orang sekarat - dan peziarah mengikutiNya dengan malu, canggung, dan takut. Kemudian Tuhan melepaskannya pergi di suatu tempat di tengah perjalanan.Orang melepaskan semua yang ditinggalkan ke tangan yang akan menggenggam tangannya dalam perjalanan. (Dari Kata Pengantar buku Sepanjang Tahun Bersama Fransiskus - Meditasi Harian dari Perkataan dan Hidupnya, karya Murray Bodo)
Sungguh mengagumkan. Terlalu terbatas bagi logika manusia untuk mencernanya.Takjub aku menyaksikannya. Aku bahagia karena telah Kau pilih menjadi alas kakiMu. Mari, ya Tuhanku, kita memulai peziarahan ini. Dan aku menantikan saat Kau membawaku ke tempat-tempat lain yang ingin Kau tunjukkan kepadaku.