Kamis, 18 Desember 2025

Ragu-Ragu

Tiga tokoh terkait Natal yang dihadirkan di masa Adven, tak disangkal awalnya menampilkan sikap ragu-ragu ketika mendapat kabar dari surga.

* Zakharia - ragu-ragu terhadap kehamilan Elisabet istrinya, sehingga bisu sampai putranya yaitu Yohanes pembaptis, lahir.

* Yusuf - ragu-ragu mengambil Maria sebagai istrinya karena telah hamil oleh kuasa Roh Kudus, sampai malaikat mendatanginya dalam mimpi.

* Maria - ragu-ragu menerima kabar ia akan mengandung dari malaikat Gabriel, karena ia belum bersuami.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, ketiga tokoh tersebut dengan iman yang besar tidak lagi meragukan karya Tuhan dalam hidup mereka. Namun,dari pengalaman Zakaria, Yusuf, dan Maria - kita tahu bahwa pada dasarnya ragu-ragu adalah sikap yang manusiawi.

Manusia memiliki nalar yang merupakan kemampuan untuk berpikir logis. Hal-hal yang tidak dapat dicerap akal budi, akan menimbulkan sikap ragu-ragu, sehingga sulit dipahami dan diterima.

Di sisi lain, kita pun dapat belajar dari para gembala di padang. Mereka orang-orang kecil yang lugu, tidak menunjukkan keragu-raguan. Setelah melihat kedatangan para malaikat dan mendengar warta sukacita kelahiran Yesus, gembala-gembala segera berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf, dan bayi Yesus di dalam palungan (lihat Lukas 2:8-18).

Ketika sikap ragu-ragu menguasai kita, sadarilah dan berdiam dirilah sejenak, sebelum mengambil keputusan. Seperti Zakharia yang diberi waktu merenung berbulan-bulan dalam kebisuan, atau  Yusuf yang menimbang-nimbang langkah yang akan ditempuh dalam tidurnya, atau Maria yang memilih untuk melakukan kehendak Tuhan apa pun risikonya.

Betapa pun, sikap ragu-ragu perlu diatasi dengan keberanian bertindak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar