Tuhan melengkapi manusia ciptaan-Nya dengan akal budi untuk bekerja dan berkarya bagi kemuliaan Tuhan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Namun, manusia sering kali menggunakan akal budinya untuk mengira-ngira apa yang Tuhan akan lakukan dalam kehidupan spiritualnya.
Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk mengendalikan segala sesuatu. Jika manusia memegang kendali, maka ia dapat mengarahkan yang dikendalikannya itu menjadi sesuai dengan keinginannya. Tidaklah demikian dalam relasi manusia dengan Tuhan. Justru, manusia diharapkan menaruh kepercayaan penuh kepada Tuhan, di atas akal budi dan logika.
Santo Paulus - sebelumnya bernama Saulus, bertemu dengan Tuhan yang dianiayanya dalam perjalanan ke Damsyik. Sinar terang membutakan matanya. Kata Tuhan kepada Saulus, ".... bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." (Kisah Para Rasul 9:6)
Saulus seorang yang terpelajar, tentu sangat mengedepankan akal budi. Kalau ia mengira-ngira misteri Tuhan dengan logikanya, mungkin Saulus tak mau pergi ke Damsyik. Tidak jelas perintah Tuhan - suara yang didengarnya dalam penampakan di tengah jalan. Apa yang akan ditemui di kota itu nanti? Jangan-jangan ia yang akan dibunuh.
Pada titik inilah, dapat dikatakan, iman Saulus kepada Tuhan mulai bertumbuh. Ia mengabaikan kerja akal budinya, mengikuti arahan suara yang didengarnya. Kita ketahui, selanjutnya Saulus bertobat menjadi rasul Paulus yang gigih mewartakan Injil Tuhan kepada orang-orang non-Yahudi.
Belajar dari pengalaman iman Santo Paulus, dalam menjalin relasi pribadi dengan Tuhan, sebaiknya kita tidak mengedepankan akal budi dan logika. Bukankah bagi Tuhan tidak ada yang mustahil?