Selasa, 31 Mei 2022

Menetap di Rumah Bersama Ibu

Anak-anak Maria menetap di rumah bersama Ibunya. Mereka suka menyepi, suka hidup batiniah, bertekun dalam doa menurut teladan dan bersama Ibu mereka, Perawan Tersuci, yang seluruh kemuliaannya bersifat batiniah. Terkadang mereka tampil ke dunia, tetapi itu karena ketaatan kepada kehendak Allah dan kehendak Ibu mereka yang terkasih.

Meskipun anak-anak Maria melakukan hal-hal yang dari luar kelihatannya besar, mereka merasa jauh lebih penting hal-hal besar yang mereka lakukan di dalam batin mereka bersama Perawan Tersuci; karena di dalam batin inilah mereka melakukan karya besar penyempurnaan diri mereka.

Hari terakhir di bulan Mei, Bulan Maria. Bukan berarti kita kembali berjarak dengan Bunda Surgawi. Tulisan Santo Louis-Marie de Montfort dalam buku Bakti yang Sejati kepada Maria yang dikutip di atas, hendaknya menjadi penyemangat kita untuk terus dekat - berada di rumah - bersama Bunda Maria. Penyempurnaan diri kita yang dilakukan secara batiniah bersama Perawan Tersuci adalah hal yang lebih penting, ketimbang hal-hal lain yang di mata dunia kelihatan hebat.

Kamis, 26 Mei 2022

Ada Harapan di Balik Perpisahan

Perpisahan sering kali membuat kedua pihak yang mengalaminya berduka. Merasa ditinggalkan, hampa, tidak bersemangat menjalani hari-hari selanjutnya - itulah yang dihasilkan oleh sebuah perpisahan.

Melalui peristiwa Yesus naik ke surga, Ia mengajarkan kepada kita untuk tidak takut menghadapi perpisahan, karena selalu ada harapan di balik keterpisahan. 

Kepada para murid-Nya, Yesus telah mengutarakan harapan itu sebelum Ia terangkat ke surga, dengan mengatakan: "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2)

Dan untuk menghibur para murid-Nya yang berduka karena ditinggal oleh-Nya, Yesus menjanjikan Penghibur. "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yohanes 14:26)

Bahkan keterpisahan dengan orang yang dicintai karena kematian pun, tetap ada harapan akan perjumpaan kembali dalam kehidupan kekal, seperti dikatakan rasul Paulus dalam surat kepada umat di Tesalonika: ....mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah kit, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.(1 Tesalonika 4:16b-17)

Anda sedang mengalami suatu perpisahan? Ingatlah, selalu ada harapan di baliknya.

 

Sabtu, 07 Mei 2022

Tak Banyak Bertanya

Dalam keseluruhan Injil, kita membaca hanya tiga kali Perawan Tersuci bertanya. Pertanyaan pertama dan kedua diajukan Maria kepada Malaikat Gabriel pada saat mengunjunginya untuk menyampaikan pemberitahuan tentang kelahiran Yesus: Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (Lukas 1:29) Pertanyaan kedua: Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34) Setelah mendengar penjelasan malaikat, Maria berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Maria tidak bertanya, meskipun ia harus membaringkan Putranya di palungan, mendapat kunjungan para gembala dan tiga orang majus, mengungsi ke Mesir, mendengar perkataan yang menusuk hati dari Simeon di Bait Allah. Maria lebih memilih menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya.

Pertanyaan ketiga yang diajukan Maria, ditujukan langsung kepada Yesus Putranya yang tertinggal di Bait Allah di Yerusalem. "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." (Lukas 2:48) Jawaban yang diberikan Yesus tidak lagi membuat Sang Ibu bertanya.

Apakah kita sering kali mempertanyakan kepada Tuhan, kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup kita? Berhati-hatilah. Pertanyaan-pertanyaan kita menandakan keraguan kita kepada Tuhan dan memicu munculnya godaan-godaan. Sebaliknya, kepatuhan kepada kehendak Tuhan membawa berkat.