Percaya berarti meyakini keunggulan-keunggulan atau kualitas yang dimiliki oleh orang atau benda atau hal yang dipercayai. Misalnya, percaya obat yang diminum akan menyembuhkan penyakit yang diderita, percaya olah raga setiap hari akan membuat tubuh bugar, percaya pasangan hidup tidak akan berkhianat.
Untuk dapat menjadi percaya, orang perlu referensi atau pengalaman yang membuatnya menjadi percaya. Percaya obat yang diberikan karena direferensikan dokter, percaya bugar berolah raga karena melihat bukti orang yang melakukannya sehat, percaya pada pasangan hidup karena telah bertahun-tahun setia hidup bersama.
Seorang perwira di Kapernaum percaya Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit, karena ia telah melihat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit (Matius 8:5-13). Buah dari percaya ialah memperoleh apa yang diyakini, sebagaimana dikatakan Yesus kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya."
Terkadang, yang kelihatan tidak menampakkan hal yang diyakini, sehingga timbul rasa tidak percaya. "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" kata murid-murid-Nya ketika membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan perahu (Markus 4:38). Di saat seperti inilah kepercayaan diuji.
Bagaimana kepercayaan kita terhadap Yesus Sang Penyelamat? Ketika terjadi hal-hal buruk pada kita, apakah kita seperti murid-murid Yesus yang mempertanyakan kuasa-Nya, atau tetap percaya penuh kepada-Nya seperti perwira di Kapernaum?
"Jangan takut, percaya saja!" kata Yesus memberi harapan kepada Yairus - kepala rumah ibadat yang diberitahu anaknya telah mati, pada saat ia memohon kesembuhan kepada Yesus (Markus 5:21-43). Ketika harapan semakin terkikis, apakah kata-kata Yesus itu menggema dalam hati kita: "Jangan takut, percaya saja!"