Ada satu istilah menarik dalam dunia penerbangan: point of no return. Menurut pakar penerbangan udara, point of no return adalah titik di mana pesawat berada dalam posisi tidak bisa lagi kembali ke bandara asal (sebelum ia lepas landas), sebab perjalanan kembali itu berbahaya dan tidak memungkinkan.
Point of no return juga kita alami dalam perjalanan kerohanian kita. Suatu titik di mana kita tidak bisa lagi kembali kepada manusia lama kita, karena Tuhan Yesus telah mengubah hidup kita secara total. Yang bisa kita lakukan adalah meneruskan perjalanan kerohanian kita sambil terus terhubung pada "Penunjuk Arah" kita yang senantiasa membimbing kita dengan bisikan Roh KudusNya.
Rabu, 31 Oktober 2018
Kamis, 18 Oktober 2018
Penjagaan-Mu Luar Biasa
Pernahkah Anda sejenak berhenti dan merenungkan, betapa banyak kuman, virus, bakteri, dan bahaya mengancam di sekeliling kita. Tetapi Tuhan yang memelihara kita, menjauhkan dan meluputkan kita dari semuanya.
Menyadari kenyataan itu, tak henti kita menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan Sang Penjaga yang tidak pernah terlelap.
Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan;
Ia akan menjaga nyawamu.
Tuhan akan menjaga keluar masukmu,
dari sekarang sampai selama-lamanya.
(Mazmur 121:7-8)
Menyadari kenyataan itu, tak henti kita menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan Sang Penjaga yang tidak pernah terlelap.
Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan;
Ia akan menjaga nyawamu.
Tuhan akan menjaga keluar masukmu,
dari sekarang sampai selama-lamanya.
(Mazmur 121:7-8)
Sabtu, 13 Oktober 2018
Tak Pernah Rugi
BersamaMu Tuhan,
aku tak pernah merasa rugi
Semua yang Kau berikan,
membuatku selalu merasa beruntung
Terima kasih Tuhan
aku tak pernah merasa rugi
Semua yang Kau berikan,
membuatku selalu merasa beruntung
Terima kasih Tuhan
Hanya Karena Rahmat
Dua tahun lalu aku pernah mencoba mempelajarinya, tetapi kedua tanganku tidak terampil merangkai manik-manik menjadi untaian kalung doa. Tanpa keinginan mencobanya terus, semua bahan kusimpan di gudang.
Hari ini, saat aku memegang kertas devosi kepada St. Theresia Lisieux, aku tergerak untuk membuat rangkaian manik-maniknya agar bisa kupakai berdoa. Segera kuambil manik-manik dan perlengkapan lain. Dengan semangat aku merangkai satu demi satu manik-manik. Sangat mudah.
Mengapa dua tahun silam aku menganggap keterampilan ini begitu sulit, sementara hari ini aku dapat mengerjakannya tanpa kesulitan?
Ketika merenungkannya, aku sepenuhnya menyadari, semua hanya karena rahmat. Tanpa rahmat Tuhan kita tidak bisa melakukan sesuatu yang berada di luar kemampuan kita, dalam hal apa pun.
Terima kasih, Tuhan atas rahmatMu yang Kau curahkan pada saat kami membutuhkannya.
Hari ini, saat aku memegang kertas devosi kepada St. Theresia Lisieux, aku tergerak untuk membuat rangkaian manik-maniknya agar bisa kupakai berdoa. Segera kuambil manik-manik dan perlengkapan lain. Dengan semangat aku merangkai satu demi satu manik-manik. Sangat mudah.
Mengapa dua tahun silam aku menganggap keterampilan ini begitu sulit, sementara hari ini aku dapat mengerjakannya tanpa kesulitan?
Ketika merenungkannya, aku sepenuhnya menyadari, semua hanya karena rahmat. Tanpa rahmat Tuhan kita tidak bisa melakukan sesuatu yang berada di luar kemampuan kita, dalam hal apa pun.
Terima kasih, Tuhan atas rahmatMu yang Kau curahkan pada saat kami membutuhkannya.