Kamis, 29 Juni 2017

Standar Cinta Yesus


Tiga kali bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya? Terjemahan Injil Yohanes dalam bahasa Indonesia tidak memperlihatkan gradasi kasih yang diutarakan Yesus dan Petrus. Tetapi, dalam Injil berbahasa Yunani, kita dapat mencermati lebih jauh dialog antara Yesus dengan Petrus itu:  

The dialogue between Jesus and Peter contains two different words for "love," which  some, but not all, commentators deem to be of exegetical significance. The words are agapao (the verb form of the noun agape) and phileo (the verb form of the noun philia). The dialogue proceeds as follows:

* Jesus asked, "do you agapao me?"
* Peter replied, "I phileo you."
* Jesus asked, "do you agapao me?"
* Peter replied, "I phileo you."
* Jesus asked, "do you phileo me?"
* Peter replied, "I phileo you."
(Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Restoration_of_Peter)

Perhatikan, perbedaan kadar cinta yang dipakai Yesus: pada pertanyaan pertama dan kedua, Yesus bertanya kepada Petrus, apakah ia mencintai Yesus dengan cinta yang paling tinggi (agape)? Dua kali pula Petrus menjawab, ia mencintai Yesus sebatas sahabat dalam kesetaraan (philia).

Yesus tidak mendapatkan jawaban yang diharapkanNya. Sebenarnya Yesus menginginkan standar cinta yang tertinggi dari Petrus, yang akan ditugaskan untuk menggembalakan domba-dombaNya. Meski Yesus mungkin kecewa terhadap Petrus, namun Ia bertanya ketiga kalinya kepada Petrus dan menurunkan standar cinta yang diharapkanNya: "Do you phileo me?" Bukan lagi agapao. Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya... (lihat Yohanes 21:17).

Boleh jadi Petrus sedih, karena ternyata ia belum bisa mencintai Yesus sesuai standar yang diinginkan Yesus. Ia baru bisa mencintai Yesus sebagai sahabat (philia), bukan cinta tak bersyarat seperti Tuhan mencintai manusia (agape).  

Petrus sudah mengikuti Yesus sekitar 3 tahun, sudah mengenal pribadi dan karakter Yesus. Tetapi tetap tidak bersedia menyatakan cinta tak bersyarat kepada Yesus. Bagaimana dengan kita yang hanya mengenal Yesus dari Alkitab dan pewartaan? Apa jawaban yang akan kita berikan kepada Yesus, jika Ia bertanya kepada kita: "Do you agapao me?"

Minggu, 25 Juni 2017

Menyimpan dalam Memori

Perangkat telekomunikasi seluler, smartphone, punya ruang penyimpanan data yang terbatas. Ketika memori di smartphone sudah mendekati batas maksimal, pemilik perangkat itu biasanya akan memilah-milah data mana yang tetap perlu disimpan dan data mana yang dapat dilenyapkan dari perangkat (delete).

Bagaimana ruang penyimpanan dalam hati kita?
Memori kita pun terbatas. Tidak semua peristiwa bisa kita ingat sejak kita lahir sampai saat ini. Kita perlu memilah-milah juga, apa yang akan tetap kita simpan dalam hati dan apa yang akan kita lenyapkan dari memori kita. Biasanya peristiwa-peristiwa berkesan yang kita simpan. Tetapi, berkesan karena apa: karena indahnya atau karena menyakitkannya?

Kalau kita bisa menyimpan data yang bagus-bagus saja dalam memori smartphone, sepatutnya kita pun menyimpan hal-hal baik saja dalam hati kita.


Kamis, 22 Juni 2017

Gelap-Mu adalah Cahaya Kami

Di tengah lembah duka dan derita,
seolah yang tampak hanya kegelapan.
Sesungguhnya, 
gelap dari-Mu adalah cahaya bagi kami.
Sebab, kegelapan tidak menggelapkan bagi-Mu,
dan malam menjadi terang seperti siang.
Kegelapan sama seperti terang,
asalkan kita bisa memaknainya.

(Lihat Mazmur 139:12)