Salah
satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka
Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan
Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini
merupakan refleksi pribadi.
*******
Duka Keenam: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat
..... Sesudah itu, Yusuf dari Arimatea - ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi - meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. (Yohanes 19:38)
***
Setelah Yesus wafat di kayu salib, betapa pilu hati Bunda Maria melihat seorang serdadu menusuk lambung Putranya. Kemudian, jasad Yesus diturunkan dari salib. Bunda Maria diberi kesempatan memangku jenazah Putra tercintanya.
Inilah puncak penderitaan seorang ibu: menghadapi kenyataan anak yang dilahirkannya pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Bunda Maria kini harus melepaskan seluruh ikatan lahiriah dengan Putranya yang telah hidup bersamanya selama 30 tahun.
***
Kematian adalah bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita menyikapinya, ketika kematian merenggut orang-orang yang kita kasihi? Apakah kita marah berkepanjangan sampai tidak mau lagi berbakti kepada Sang Pencipta, karena telah mengambil nyawa orang yang dekat dengan kita?
Kepedihan manusiawi tak dapat sirna, ketika sosok yang kita cintai lenyap dari pandangan dan sentuhan. Namun, belajar dari Bunda Maria, kita dapat berkata dalam duka: Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMu, ya Tuhan.