Sabtu, 22 April 2017

Rabu, 19 April 2017

Menderita-Mati-Bangkit

Tiada kebangkitan tanpa kematian,
Tiada kematian tanpa penderitaan,
Perlu menderita dan mati, sebelum bangkit.
 

Jumat, 14 April 2017

Duka ke-7: Bunda Maria Mengantar Yesus ke Makam

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Ketujuh: Bunda Maria Mengantar Yesus ke Makam

..... Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ. (Yohanes 19:41-42)


***

Meskipun telah mendengar Anaknya mengatakan Ia akan mati, dikubur, dan bangkit pada hari ketiga; ibu manakah yang tidak akan berurai air mata ketika mengantar anaknya ke makam?

Bunda Maria mengikuti prosesi pemakaman Putranya dalam diam, sambil  merenungkan pesan Yesus tentang kebangkitanNya. Bunda Maria percaya itu akan terjadi, tetapi ia pun menyadari kelak relasinya dengan Sang Putra tercinta tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Relasi yang tidak kasat mata, melainkan kesatuan dalam Roh.

***

Mengantar kepergian selamanya dari orang-orang yang kita kenal, apalagi orang-orang yang kita cintai, selalu membawa kepedihan. Hal yang paling mendukakan ialah sejak saat itu kita tidak dapat lagi memandang dan menyentuhnya secara fisik.

Bunda Maria pun pernah mengalami duka itu, ketika ia berpisah secara fisik dengan Yesus. Namun, kita dapat belajar dari Bunda Maria, menyadari kefanaan relasi fisik dan mengubahnya menjadi kesatuan dalam Roh, lewat doa-doa yang kita panjatkan untuk orang-orang tercinta di Rumah Bapa.

 

Jumat, 07 April 2017

Duka ke-6: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat

Salah satu tradisi dalam Gereja Katolik ialah merenungkan Tujuh (Sapta) Duka Bunda Maria. Setiap Jumat dalam Masa Prapaskah tahun ini akan dipaparkan Duka Bunda Maria yang dikaitkan dengan duka manusia modern. Duka Bunda Maria adalah duka umat manusia. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi. 

******* 

Duka Keenam: Bunda Maria Memangku Yesus yang Wafat

..... Sesudah itu, Yusuf dari Arimatea - ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi - meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. (Yohanes 19:38)

***

Setelah Yesus wafat di kayu salib, betapa pilu hati Bunda Maria melihat seorang serdadu menusuk lambung Putranya. Kemudian, jasad Yesus diturunkan dari salib. Bunda Maria diberi kesempatan memangku jenazah Putra tercintanya.

Inilah puncak penderitaan seorang ibu: menghadapi kenyataan anak yang dilahirkannya pergi lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Bunda Maria kini harus melepaskan seluruh ikatan lahiriah dengan Putranya yang telah hidup bersamanya selama 30 tahun.    

***

Kematian adalah bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Bagaimana kita menyikapinya, ketika kematian merenggut orang-orang yang kita kasihi? Apakah kita marah berkepanjangan sampai tidak mau lagi berbakti kepada Sang Pencipta, karena telah mengambil nyawa orang yang dekat dengan kita? 

Kepedihan manusiawi tak dapat sirna, ketika sosok yang kita cintai lenyap dari pandangan dan sentuhan. Namun, belajar dari Bunda Maria, kita dapat berkata dalam duka: Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMu, ya Tuhan.