Entah kapan pastinya, dalam sanubariku muncul kerinduan untuk menapak tanah suci - tempat Engkau pernah menghirup udara bumi dan bermukim selama 33 tahun. Mungkin kerinduan itu telah muncul saat aku membeli buku
Napak Tilas ke Tanah Suci 17 tahun silam, atau ketika aku melihat film
Jerusalem - Holy City 8 tahun lalu.....
Jawaban Doa
Dan kerinduan itu semakin menggunung, tatkala seorang sahabat yang baru kembali dari ziarah ke Yerusalem dua tahun silam - memberiku Rosario bermanik-manik kayu zaitun dengan lingkaran 0,5 cm yang memuat tanah Yerusalem disertai tulisan
terra sancta.
Setiap aku mendaraskan doa dengan Rosario itu, aku mencium tanah keringnya seraya berucap dalam hati, "Suatu saat aku akan ke tempat Engkau pernah tinggal, ya Tuhan Yesus dan Bunda Maria...."
Jawaban doa itu datang tanpa diduga, bahkan didahului dengan dua peristiwa duka dalam hidupku: kepergian Ibuku dan pasangan hidupku. Niat untuk berziarah semakin mantap, akhirnya terwujud pada pertengahan bulan lalu (16-26 Juli 2015).
Terima kasih atas anugerah ini....
Segencar apa pun aku mengingini sesuatu, tak akan kesampaian tanpa campur tanganMu.
Mengikis Kekhawatiran
Semakin mendekati hari keberangkatan, aku dilanda kekhawatiran: Bagaimana keamanan di tempat-tempat yang akan kami kunjungi dalam ziarah? Bagaimana keselamatan dalam penerbangan jarak jauh yang harus kami tempuh?
Aneka pikiran bermain dalam benak. Kian dibayangkan, kian mencemaskan. SabdaMu bergema dalam hatiku mengatasi kerapuhan imanku. "Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi
yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang
berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka," (Matius 10:28) sebagai jawaban atas kekhawatiranku terhadap keamanan di Timur Tengah.
"Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu," (Matius 10:29) menjadi kekuatanku ketika menaiki tangga pesawat. Yakin, kalau Engkau tidak menghendaki kami jatuh ke bumi, seberat apa pun medan perjalanan yang akan kami tempuh, kami akan tetap selamat.
Terima kasih atas peneguhan ini.....
Aku harus tetap fokus pada tujuan semula, tanpa FirmanMu, si jahat dengan mudah mengacaukannya.
MenghidupiMu
Mengunjungi sejumlah tempat di mana Engkau pernah menapak, tinggal, dan mewartakan Kabar Sukacita lebih dari 2000 tahun silam, sebagai upaya menghidupiMu di tengah zaman ini. Pemaparan-pemaparan yang ada di Kitab Suci menjadi hidup dan penuh makna dalam pandangan mata.
Jalan salib menyusuri deretan pertokoan - jalan yang sama seperti yang Engkau tempuh di masa lalu, tetapi tentu dengan pemandangan berbeda. Menikmati keheningan Danau Galilea pada waktu malam dari balik jendela kamar hotel - suasana yang sama seperti yang Engkau rasakan di masa lalu, tetapi tentu di tempat berbeda.
Betapa terasa kehadiran IbuMu, ketika berkunjung rumahnya di Nazaret. Rasa sukacita yang penuh tatkala menuruni Gunung Tabor, seperti ketiga muridMu yang menyaksikan langsung KemuliaanMu.
Terima kasih atas pengalaman ini.....
Engkau telah membuka mata dan hatiku untuk mengenal Jejak-jejakMu di muka bumi,
Pasrah dan Rendah Hati
Berbagai pengalaman yang dialami dalam peziarahan 10 hari ini mengerucut pada dua keutamaan yang perlu dimiliki peziarah: pasrah dan rendah hati.
Pasrah sepenuhnya pada kehendak Tuhan, membiarkan diri dibimbingNya meski tidak tahu apa yang bakal dialami. Dengan rendah hati menerima apa yang terjadi selama peziarahan, karena percaya apa yang diberikanNya adalah yang terbaik.
Terima kasih atas pembelajaran ini....
Engkau telah mengajarkanku dua keutamaan yang bukan hanya diperlukan saat berziarah di Tanah Suci, melainkan juga dalam peziarahan di dunia ini.