Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. (Mazmur 51:12)
Refren Mazmur Tanggapan dua hari yang lalu menggugahku. Hati yang murni..... itulah yang menjadi dambaanku sejak enam tahun silam. Saat itu lewat pengalaman doa sehari-hari, aku merasa doa-doaku dijawab Tuhan, jika aku menyampaikannya dengan hati yang murni, tanpa tergores sedikit pun oleh noda apalagi dosa. Bukan hanya jawaban atas doa-doa. Hati yang murni membuatku mampu menjalani hari-hariku dengan sukacita dan damai, memandang segalanya dengan tulus.
Namun, ketika itu - enam tahun silam - hati yang murni masih menjadi kerinduan utamaku. Aku baru mengalaminya sesekali, bukan sesuatu yang ada dalam diriku. Aku masih meraba-raba, bagaimana cara memperoleh hati yang murni?
Dengan caraNya, Tuhan Yesus menghantarku pada pemahaman dan pengalaman itu secara bertahap. Perkenalanku dengan meditasi, pemurnianku dari segala dosa masa lampau, pendekatanku kepada Tuhan melalui pembacaan Alkitab setiap hari dan doa-doa rutin harian, serta belakangan ini kehadiran dalam perayaan Ekaristi sesering mungkin kalau bisa setiap hari - semuanya mengasah hati untuk semakin menuju pada kemurniannya.
Kehidupan memiliki dinamikanya tersendiri. Kita mengalami peristiwa-peristiwa dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari. Kemurnian hati bukan suatu kondisi yang permanen, melainkan ikut bergerak bersama dinamika kehidupan. Melalui berbagai peristiwa dan pengalaman dengan orang lain, kemurnian hati kita diuji. Di sinilah tantangannya.
Dalam 1 Timotius 1:19, rasul Paulus mengatakan tentang beberapa orang yang telah menolak hati nuraninya yang murni, sehingga iman mereka kandas. Kita perlu terus memurnikan hati kita, agar kita semakin serupa dengan gambaran Allah - karena kita diciptakan Allah secara murni pada mulanya.
Bersama rasul Paulus, mari kita katakan, "Aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." (Kisah Para Rasul 24:16)