Kamis, 24 Agustus 2023

Misteri-Mu

Biarkan misteri-Mu tetap terselubung di mata manusia,
karena itulah bukti Kemahakuasaan-Mu,
sekaligus ketidakberdayaan ciptaan-Mu,
dan kami akan memuji Keagungan-Mu seumur hidup kami.
 

Selasa, 15 Agustus 2023

Kasih Seorang Anak

Adakah seorang anak yang berbakti dan mengasihi orang tuanya, akan bersikap tidak peduli terhadap orang tuanya?
 
Di tengah sengsara-Nya dalam sakratul maut di kayu salib, Yesus tetap memerhatikan Ibu-Nya. Perkataan Yesus yang menyerahkan Ibu-Nya kepada Yohanes, murid-Nya, bukti sangat jelas kasih Yesus kepada Ibu-Nya. 
 
Ketika Gereja Katolik melalui Paus Pius XII menerbitkan dogma yang menyatakan Santa Perawan Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya pada 1 November 1950, bukan sekadar penghormatan Gereja kepada Bunda Maria. Terlebih lagi, ajaran resmi Gereja tersebut semakin menegaskan kasih Yesus yang begitu besar kepada Ibu-Nya. 
 
Yesus ingin selalu bersama Ibu-Nya. Maka, setelah Sang Ibu menyelesaikan tugas perutusannya di dunia dengan penuh kasih dan ketaatan kepada Allah, ia memperoleh mahkota kemuliaan melalui pengangkatannya ke surga. 
 
Bagaimana sikap kita sebagai pengikut-pengikut Yesus terhadap Ibunda-Nya? Apakah kita telah menaruh kasih kepadanya seperti Yesus mencintainya?
 
“Jangan takut untuk sangat mencintai Santa Perawan Maria, karena cintamu kepadanya tidak akan pernah lebih besar dari cinta Yesus kepada Ibu-Nya.” (Santo Maximilian Maria Kolbe)
 

Selasa, 08 Agustus 2023

Berprasangka Buruk

Miryam dan Harun mengatai Musa, lantaran adik mereka itu mengambil seorang perempuan Kush sebagai istrinya. Lalu mereka berdua mempertanyakan, apakah Tuhan berfirman hanya dengan perantaraan Musa? (lihat kitab Bilangan 12:1-15)

Tuhan mendengar perbincangan Miryam dan Harun, memanggil mereka ke Kemah Pertemuan. Tuhan membela Musa. "Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa Tuhan. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" (Bilangan 12:8)

Akibat berprasangka buruk terhadap Musa, Tuhan menghukum Miryam dengan sakit kusta. Ia harus dikucilkan di luar perkemahan selama tujuh hari. Tuhan kemudian berkenan menyembuhkan Miryam karena doa Musa: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia." (Bilangan 12:13)

Kita dapat memetik hikmah dari pengalaman Miryam dan Musa tersebut. Hanya karena berprasangka buruk terhadap orang pilihan Tuhan, Miryam mendapat hukuman dari Tuhan. Dan Musa, meskipun dipandang rendah dan buruk oleh kakaknya, tetap tulus hati memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan kakaknya. Tuhan membela orang yang hidup seturut firman-Nya.