Tingkah laku manusia semakin tak terkendali. Dalam sebuah tayangan di televisi, tampak remaja putri belasan tahun memakai palu merusak patung yang telah lebih dari 200 tahun menghiasi taman kota itu. Di negara berbeda, perempuan berusia sekitar 20 tahunan merekam adegan saat dirinya menjatuhkan dua kursi dari apartemennya di lantai 46. Ia tidak peduli, apakah di bawah sana ada orang atau kendaraan yang melintas dan bakal celaka kalau tertimpa kursi.
Kisah yang lebih menyayat: dua remaja pria memilih tidak menolong seorang remaja pria lain yang nyaris terjatuh ke sungai. Anak ini tampak sangat ketakutan, berpegang erat di tepi sungai demi mempertahankan diri. Tetapi kedua remaja lain itu malah merekam adegan, saat mereka melepaskan cengkeraman kuat remaja pria itu. Sang remaja tewas lantaran jatuh ke sungai dari ketinggian dan ia tidak bisa berenang.
Ketidakjujuran, kekerasan, kejahatan telah menjadi hal biasa demi konten yang viral di media sosial. Pokoknya, buat konten yang spektakuler - tanpa peduli akibatnya bagi orang lain atau lingkungan di sekitar; unggah di media sosial, viralkan supaya bisa memperoleh ketenaran dan uang. Nilai-nilai luhur dan kebaikan kalah, semata untuk egoisme pribadi. Padahal, ketenaran yang diperoleh karena konten yang viral tak bertahan lama.
Rasul Paulus menasihatkan yang berbeda. Sebagai anak-anak Terang yang telah dibangkitkan bersama Kristus, hendaklah kita mencari perkara yang di atas, di mana Kristus berada. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kolose 3:2-3).
Hidup yang tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah, itulah yang perlu kita tekuni di dunia ini, sampai tiba saatnya kita kembali ke tempat asal mula kita diciptakan. Di sana tidak ada media sosial, tak perlu lagi mencari-cari konten untuk diviralkan.