Senin, 28 Februari 2022

Koleksi

Ayah memiliki ruang perpustakaan untuk memajang ribuan buku koleksinya sejak zaman Balai Pustaka sampai terbitan milenium ketiga. Beliau juga memiliki ruang musik yang menyimpan ratusan koleksi laser disc, compact disc, dan digital video disc. Memberi kegembiraan dan penghiburan, bisa memiliki dan menikmati hobi. Kini Ayah telah tiada. Koleksi Ayah sempat menimbulkan kebingungan, terutama ketika rumah akan dijual. 

Pernahkah kita sejenak berpikir, untuk siapakah nanti barang-barang yang kita miliki, jika kita telah beralih dari dunia ini? Mungkin keturunan kita tidak memiliki hobi yang sama dengan kita. Lalu, apa gunanya kita mengoleksi barang tertentu?

Sungguh tepatlah perkataan Yesus kepada orang yang menanyakan tentang rahasia memperoleh hidup yang kekal: "Pergilah, juallah apa yang kaumiliki, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Maka engkau akan memperoleh harta di surga. Kemudian datanglah ke mari, dan ikutilah Aku." (Markus 10:21) 

Jumat, 18 Februari 2022

Keberanian Mendekati Salib

O Yesus, betapa sedikit orang yang berani mendekati salib-Mu... apalagi memeluk dan mencintai salib. Padahal Engkau telah mengatakan: "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku." (Markus 8:34)

Menurut Santo Louis-Marie de Montfort, seorang sahabat salib yang sempurna adalah seorang pengemban Kristus yang sejati, yang dengan sungguh hati dapat mengatakan: "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:20)

Berilah aku keberanian mendekati salib-Mu, ya Yesusku

Senin, 14 Februari 2022

Ketika Tuhan Menunjukkan Kuasa-Nya

Saat kita merasa telah nyaman dengan irama kehidupan yang kita jalani, sama sekali tak terlintas di benak, ketika Tuhan menunjukkan kuasa-Nya secara mendadak. Tuhan tiba-tiba menghendaki kita menempuh jalan yang berbeda dari biasanya. Apakah kita akan memprotes-Nya, lalu melanjutkan perjalanan seraya menggerutu? Marah kepada-Nya dan menolak mengikuti-Nya lagi? Ataukah kita menerima segala yang diberikan-Nya kepada kita? Keputusan yang kita ambil, apa pun itu, akan memengaruhi relasi kita selanjutnya dengan Sang Pencipta. 

Jika suatu saat, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya secara mendadak, apakah keputusan kita?