Kekudusan bukan hanya rahmat yang diberikan Tuhan kepada orang-orang tertentu yang hidupnya begitu saleh, sehingga sulit dicontoh oleh orang-orang biasa. Dalam Matius 5:48 Yesus mengatakan, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Berarti, setiap manusia dipanggil kepada kesempurnaan yang dapat dicapai melalui kekudusan hidup.
Hal ini kembali ditegaskan rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Tesalonika: "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (1 Tesalonika 4:7-8)
Marilah kita menjadi kudus dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari. Hal-hal biasa yang jika ditekuni, akan berdampak luar biasa.
Nasihat-nasihat yang diberikan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi dalam suratnya yang ditulis sekitar tahun 56 Masehi, tetap relevan bagi kita sebagai para pengikut Kristus:
Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.
Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!
(Filipi 3:17-19, 4:1)