Ketika melakukan perjalanan wisata, kita sangat bergairah menjalaninya. Berbagai panorama yang melintas memberi percikan keindahan tersendiri. Suasana riang, hati ringan. Tak ada duka yang menggelayut, semua tampak cerah.
Allah menciptakan manusia, lalu mengutus manusia untuk hidup di dunia dan kelak kembali ke Tanah Air Surga. Hidup kita di dunia pun adalah perjalanan wisata. Tempat pesiar kita adalah tempat kita bermukim dengan segala panorama kesehariannya.
Apakah dalam melakukan perjalanan wisata kehidupan ini kita sama bergairahnya seperti ketika kita berpesiar ke suatu tempat tertentu? Adakah kita menikmati keindahan dari berbagai panorama kehidupan yang melintas di hadapan kita? Apakah hati kita dipenuhi sukacita dalam perjalanan wisata kehidupan ini?
Selasa, 26 April 2016
Rabu, 20 April 2016
Melepas Keinginan
Tuhan Yesus, jangan biarkan aku menginginkan sesuatu,
jika Engkau sendiri tidak menghendakinya.
jika Engkau sendiri tidak menghendakinya.
Jumat, 01 April 2016
Beda Senang dan Sukacita
Ada perbedaan mendasar antara rasa senang dan sukacita. Perhatikan beberapa contoh berikut:
Saya senang karena bisa bertemu dengan Anda.
Saya senang karena berpesiar ke luar negeri.
Saya senang karena mendapat hadiah.
Saya senang karena karier saya meningkat.
Saya senang karena memiliki rumah baru.
Saya bersukacita karena memaafkan kesalahannya.
Saya bersukacita karena membantu anak yatim piatu.
Saya bersukacita karena memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada orang lanjut usia.
Saya bersukacita karena menolong pedagang asogan yang dagangannya jatuh di jalan.
Saya bersukacita karena memberi semangat kepada teman yang putus asa.
Rasa senang bersifat sementara, ketika peristiwa berlalu bersama waktu, rasa senang dapat lenyap. Anda senang bertemu sahabat atau kekasih Anda, tetapi ketika harus berpisah dengannya, rasa senang itu menguap. Anda senang mendapat promosi jabatan, tetapi beberapa tahun kemudian, rasa senang akan posisi baru tidak lagi dirasakan.
Sedangkan rasa sukacita menetap, terus dirasakan walaupun peristiwanya sudah lama berlalu. Kunci untuk bersukacita adalah menuruti perintah Kristus. Apakah itu? Supaya kita saling mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita (lihat Yohanes 15:10 dan 12). Memaafkan kesalahan orang lain, membantu yang miskin, lemah, cacat, dan tersingkir - merupakan perbuatan kasih kepada sesama. Fokusnya adalah orang lain, bukan diri sendiri.
Ketika Anda dihadapkan pada dua pilihan: bersenang-senang atau bersukacita - seperti jalan lebar atau jalan sempit - ambillah pilihan yang tidak lazim dipilih orang-orang dunia.
"Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." (Yohanes 15:11)