Tiga kali rasulMu itu menyangkalMu, padahal sebelumnya ia begitu mantap mengatakan, "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." (Matius 26:33)
Lalu, setelah Engkau bangkit dari mati, tiga kali Engkau meminta kepastian tentang kesungguhannya mengasihiMu. Ia menjadi sedih hati dan berkata, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." (Yohanes 21:17)
Kemudian, Engkau naik ke Surga. Dengan bimbingan Roh Kudus, rasulMu itu mewartakan Jalan Tuhan - Kabar SukacitaMu kepada orang-orang sebangsanya.
Setelah tiga tahun mengikutiMu secara langsung, setelah Engkau memberikan kunci Surga kepadanya, setelah Engkau memintanya menggembalakan domba-dombaMu, setelah ia dipenuhi Roh Kudus; bukan berarti ia menjadi manusia sempurna yang tak bercacat.
Dalam Galatia 2:11-14, rasul Paulus mengisahkan pertentangannya dengan rasul Petrus. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mau makan bersama saudara-saudara yang tidak bersunat; tetapi setelah beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, Petrus mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut kepada saudara-saudara yang bersunat.
Ada pula legenda yang mengisahkan, rasul Petrus berusaha melarikan diri dari Roma yang membara karena penangkapan orang-orang beriman. Sampai di suatu jalan dalam pelariannya ia bertemu denganMu yang tengah memanggul salib. Petrus bertanya kepadaMu, "Mau ke mana, Engkau, Tuhan?" JawabMu," Aku mau pergi untuk disalibkan kembali." Petrus sadar, ia tak jadi melarikan diri. Di Roma, ia mati disalibkan dengan kepala di bawah - karena tidak ingin menyamai posisiMu di salib.
Kelemahan rasul Petrus yang utama adalah rasa takut. Namun, kelemahan itu tidak membuatMu mengalihkan kepercayaanMu darinya. Engkau tetap memilihnya sebagai yang utama dari antara ke-12 rasulMu - mendirikan jemaatMu di atas batu karang itu. (lihat Matius 16:18)
Kelemahan manusia bukan halangan bagiMu untuk tetap berkarya di tengah umat manusia saat ini. Kesempurnaan kasihMu akan melengkapi kelemahan manusia pilihanMu, sehingga ia dapat menghasilkan karya dahsyat yang melampaui segala yang dapat dipikirkan manusia.
Minggu, 29 Juni 2014
Minggu, 08 Juni 2014
Berjalan BersamaMu
Berjalan bersamaMu adalah petualangan yang menakjubkan,
menyusuri jalan setapak tanpa memusingkan yang telah dilalui di belakang dan yang akan menghadang di depan.
Berjalan bersamaMu adalah penyerahan diri total berbalut sukacita, menaruh kepercayaan penuh tanpa meragukan jalan yang Kau pilih dan berapa lama jarak tempuhnya.
Berjalan bersamaMu adalah berpegang erat pada FirmanMu dalam terang Roh Kudus, memperoleh kepastian dalam kegelapan dan peneguhan dalam terang.
menyusuri jalan setapak tanpa memusingkan yang telah dilalui di belakang dan yang akan menghadang di depan.
Berjalan bersamaMu adalah penyerahan diri total berbalut sukacita, menaruh kepercayaan penuh tanpa meragukan jalan yang Kau pilih dan berapa lama jarak tempuhnya.
Berjalan bersamaMu adalah berpegang erat pada FirmanMu dalam terang Roh Kudus, memperoleh kepastian dalam kegelapan dan peneguhan dalam terang.
Jumat, 06 Juni 2014
PertanyaanMu
Sepertinya semalam Engkau ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, tetapi yang ada hanya keheningan. Pagi ini, ketika aku mengikuti perayaan Ekaristi, aku tahu apa yang ingin Engkau sampaikan: "Apakah engkau mengasihi Aku?" (Yohanes 21:15-17)
Tiga kali Engkau menanyakan hal itu kepada rasul Petrus. Engkau pun meminta aku menjawab pertanyaan yang sama.
PertanyaanMu membawaku pemahaman lebih jauh:
- Tak cukup sekadar mengucapkan, "Aku mencintaiMu dengan Cinta yang murni dan mendalam." MengasihiMu perlu diwujudnyatakan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
- Bukan kedekatan relasi antara guru-murid atau majikan-hamba. MengasihiMu merupakan kesatuan Roh yang kuat dalam kesetaraan.
- Tanpa terjerat pada situasi yang dialami, selalu dipenuhi damai dan sukacita. MengasihiMu adalah memberi yang terbaik bagi Sang Kekasih.
"Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau."
Tiga kali Engkau menanyakan hal itu kepada rasul Petrus. Engkau pun meminta aku menjawab pertanyaan yang sama.
PertanyaanMu membawaku pemahaman lebih jauh:
- Tak cukup sekadar mengucapkan, "Aku mencintaiMu dengan Cinta yang murni dan mendalam." MengasihiMu perlu diwujudnyatakan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
- Bukan kedekatan relasi antara guru-murid atau majikan-hamba. MengasihiMu merupakan kesatuan Roh yang kuat dalam kesetaraan.
- Tanpa terjerat pada situasi yang dialami, selalu dipenuhi damai dan sukacita. MengasihiMu adalah memberi yang terbaik bagi Sang Kekasih.
"Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa Aku mengasihi Engkau."