Senin, 20 Juli 2020

Bersama Ibu-Nya

Kedekatan Yesus dengan Ibu-Nya tampak dari dua peristiwa besar yang dialami Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia. Mengawali penampilan-Nya di depan umum dalam perjamuan kawin di Kana, Yesus melakukan mukjizat pertama saat bersama Ibu-Nya. Di atas kayu salib, penampilan terakhir Yesus di depan umum sebelum wafat, Ia pun berada bersama Ibu-Nya.

Melalui kedua peristiwa besar itu, terlihat jelas peran besar Bunda Maria dalam kehidupan Yesus, Putranya. Apakah kita sebagai putra dan putri Bunda Maria juga menyertakan Ibu Surgawi kita dalam hidup kita? Adakah kita menyadari campur tangan Bunda Maria di saat-saat penting kehidupan kita?

Kamis, 16 Juli 2020

Tanda Penyertaan

Manusia butuh tanda penyertaan yang kasat mata dari Tuhan yang tak kelihatan. Dalam pengembaraan bangsa Israel di padang gurun menuju tanah terjanji Kanaan, Allah menyertai mereka dengan tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam (lihat Bilangan 14:14).

Setelah Tuhan Yesus naik ke Surga, sesuai amanat perpisahan-Nya dalam Perjamuan Terakhir, umat beriman kristiani mengalami tanda penyertaan-Nya secara konkret melalui Sakramen Mahakudus dalam Perayaan Ekaristi.

Bunda Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja, yang telah diangkat ke Surga juga memberikan tanda penyertaannya lewat Rosario dan Skapulir Cokelat Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

Dengan tanda kehadiran Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang nyata sampai saat ini, adakah hal lain yang melebihi kedua tanda penyertaan itu untuk kehidupan kita sehari-hari?

Komuni Suci secara fisik belum dapat kita terima beberapa bulan belakangan ini lantaran pandemi Covid-19. Tetapi kita bisa menyelami kehadiran Yesus dalam Komuni Batin dan Adorasi Sakramen Mahakudus, merasakan penyertaan-Nya secara spiritual dalam setiap langkah hidup kita.

Bagaimana dengan untaian Rosario? Dalam beberapa penampakan Bunda Maria, terutama di Fatima tahun 1917, Bunda Maria berpesan melalui tiga anak gembala - Lusia, Fransiskus, dan Yasinta - agar kita berdoa Rosario setiap hari. Sudahkah kita melakukannya? Melalui doa Rosario, bersama Bunda Maria kita menghayati perjalanan hidup Putra tercintanya, Tuhan Yesus.
 
Lalu, bagaimana pemakaian Skapulir Cokelat? Skapulir adalah tanda dan lambang perlindungan Bunda Maria bagi kita anak-anaknya, sama seperti ibu kita di dunia yang mengenakan pakaian pada kita. ".... Siapa pun yang meninggal dalam busana ini, tidak akan mengalami api yang kekal. Ini adalah tanda keselamatan, perlindungan dari segala bahaya, sebuah sarana perdamaian dan perjanjian," pesan Santa Perawan Maria kepada Santo Simon Stock saat memberikan Skapulir Cokelat pada 16 Juli 1251.

Sakramen Mahakudus, Rosario dan Skapulir Cokelat - tanda penyertaan nyata dari Tuhan Yesus dan Bunda Maria - yang dapat kita jadikan "teman seperjalanan" dalam peziarahan kita di dunia, sampai tiba dengan selamat di Kerajaan Surga kelak.

Rabu, 01 Juli 2020

Goresan Warna-Mu

Terima kasih, Tuhan
atas goresan warna-warni 
yang Engkau berikan di atas kanvas kehidupanku. 
Indahlah apa yang telah Engkau buat, ya Tuhan
jiwaku mengaguminya. 
 

Senin, 15 Juni 2020

Berhenti Berpikir Berlebihan

Pikiran berlebihan, mendatangkan petaka.
Lihat saja Kain yang berpikir berlebihan karena iri persembahannya tidak diterima, sedangkan persembahan adiknya berkenan kepada Allah. Muncul macam-macam pikiran buruk, yang berujung pada tindakan menghilangkan nyawa Habel, adiknya.Contoh lain, Raja Daud yang berpikir berlebihan ketika tertarik kepada Batsyeba, sehingga ia merancang segala yang buruk terhadap Uria, suami Batsyeba, agar dapat memperistri perempuan itu.  

Ketika kita sedang mengalami masalah dan berpikir, pergerakan pikiran kita seperti air dalam gelas yang sedang diaduk dengan sendok. Berputar-putar tak tentu arah, menimbulkan kebingungan dan ketidakjelasan. Akibatnya, dalam situasi pikiran keruh seperti itu, si jahat yang selalu mengintai untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa, dapat dengan mudah ikut masuk memberikan ide-ide buruk ke dalam pikiran kita.

Berhenti berpikir berlebihan, membantu menghindari kita jatuh ke dalam dosa akibat pikiran kita. Anda sedang menghadapi masalah? 
Stop berpikir berlebihan. 
Lebih baik datang ke hadirat Tuhan.

Rabu, 03 Juni 2020

Bunda Maria adalah Ibu Bumi

"Seluruh alam dijadikan oleh Allah, dan Allah lahir dari Maria. Allah menciptakan segala sesuatu, dan Maria melahirkan Allah. Allah yang menjadikan segala-galanya, membiarkan diri dibentuk melalui Maria, sehingga Ia membuat diri-Nya diciptakan. Ia yang dapat menciptakan segala sesuatu tanpa bahan baku, tidak mau menjadikan kembali ciptaan-Nya yang hancur tanpa bantuan Maria.

Maka, Allah adalah Bapa bumi yang diciptakan, dan Maria adalah Bunda bumi yang diciptakan kembali. Allah adalah Bapa yang oleh-Nya segala sesuatu diberi kehidupan, dan Maria adalah Bunda yang olehnya segala sesuatu diberi kehidupan baru." - Santo Anselmus, Uskup Agung dari Canterbury (1033-1109)

Sepanjang bulan Mei yang lalu, kita mendaraskan doa Rosario dengan ujud-ujud permohonan sesuai Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si yang menekankan perhatian kepada Ibu Bumi dan pelestarian lingkungan hidup.
 
Merefleksikan dan memahami khotbah Santo Anselmus di atas, Maria adalah Bunda bumi yang diciptakan kembali. Dalam carut-marut dunia saat ini, sudah sepatutnya kita berpaling kepada Bunda Maria, agar sebagai Bunda bumi ia berkenan mencurahkan kehidupan baru atas segala sesuatu di muka bumi ini.

Jumat, 29 Mei 2020

Pelajaran Lain dari Salib Kristus

Salib Kristus terutama melambangkan penebusan dan pendamaian. Melalui salib, Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penebus dosa bagi seluruh umat manusia. Relasi Allah dengan manusia yang sebelumnya terputus karena dosa manusia pertama di taman Eden, kini dipulihkan Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib.

Kematian dan kebangkitan Kristus juga mengajarkan kepada kita bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, justru melalui kematian itu Yesus mengalahkan maut yang sangat ditakuti manusia.

Renungkanlah lebih dalam tentang Salib Kristus, penderitaan-Nya yang sangat berat; maka kita akan menemukan pemahaman lain yang dapat menguatkan kita dalam menyusuri lembah duka kehidupan di dunia ini.

Anda pernah menderita? Tentu. Tak ada satu manusia pun yang bebas dari penderitaan. Tetapi, hati-hati. Penderitaan yang tidak dikelola dengan baik, terus-menerus diratapi; dapat membawa manusia pada musnahnya harapan. Jika tak ada lagi secercah harapan, manusia cenderung jadi apatis, memilih jalan pintas mengakhiri hidupnya.

Sekarang, di tengah penderitaan Anda, cobalah memandang Salib Kristus. Selamilah penderitaan-Nya. Pandanglah wajah-Nya yang menunduk, luka-luka di sekujur tubuh-Nya, sakit yang mendera akibat tusukan paku di kedua tangan dan kaki-Nya. Perlahan, Anda dapat merasakan, kesedihan dan kesengsaraan yang ditanggung Yesus ternyata jauh lebih dahsyat daripada kesedihan dan penderitaan kita. Salib kita tidak seberat Salib-Nya.

Ya Yesus, pada saat aku mengalami duka dan derita, aku akan memeluk Salib-Mu, agar aku dapat memperoleh kekuatan dari penderitaan-Mu.

Rabu, 13 Mei 2020

Memilih Jalan Maria Tak Bernoda

Santo Louis Marie de Montfort (1673-1716) dikenal karena devosinya yang sangat mendalam kepada Santa Perawan Maria. Dalam bukunya Bakti Sejati kepada Maria, St. Louis Marie de Montfort mengungkapkan betapa Yesus sendiri sejak awal memilih jalan melalui Maria untuk datang ke dunia. Bagaimana dengan kita?

Silakan orang membuka bagi saya sebuah jalan baru kepada Yesus Kristus – dengan segala pahala para orang suci, dengan segala keutamaan yang heroik, dengan segala kecemerlangan dan keindahan para malaikat. Namun dengan kepastian sepasti-pastinya, saya mengatakan kebenaran bahwa jalan yang sangat sempurna yang saya pilih adalah jalan Maria Tak Bernoda. Sebuah lintasan jalan tanpa cacat atau cela, tanpa noda dosa asal atau dosa pribadi, tanpa bayangan atau kegelapan.

Apabila Yesusku datang kedua kalinya ke dunia dalam kemuliaan-Nya untuk memerintah, sudah pasti Ia tidak akan mengambil jalan lain daripada jalan Maria yang dipenuhi Allah, yang telah dilalui-Nya dengan begitu aman dan sempurna, ketika Ia datang pertama kali ke dunia.

Perbedaan antara kedua kedatangan itu hanya terletak pada hal ini: kedatangan pertama berlangsung secara rahasia dan tersembunyi, sedangkan kedatangan kedua akan berlangsung dengan mulia dan gemilang. Kedua kedatangan itu sempurna, karena berlangsung lewat Maria. Sayang sekali, rahasia ini tidak dimengerti. (dari buku Bakti Sejati kepada Maria no. 158)