Minggu, 19 Mei 2019

Yerusalem yang Baru

Lalu, di dalam roh, ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. (Wahyu 21:10)

Ayat ini memiliki makna yang sangat mendalam:

* di dalam roh
Perjumpaan dengan Tuhan terjadi dalam persatuan roh - roh manusia dengan Roh Tuhan

* ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi
Jika ingin bertemu dengan Tuhan, naiklah ke gunung yang tinggi - mengangkat jiwa dan roh kita ke atas (pada tingkat roh) dengan cara membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi

* kota yang kudus, Yerusalem turun dari sorga, dari Allah
Dalam persatuan roh, Tuhan mengunjungi umat-Nya seperti Yerusalem yang turun dari sorga

*
Yerusalem yang baru bukanlah wujud fisik sebuah kota, melainkan ketika Tuhan turun dari sorga, menyatu dengan umat-Nya. Di sisi lain, umat-Nya mengangkat jiwa dan roh ke atas, untuk menyatu dengan Tuhan.

Tak perlu menunggu saat kita kembali ke alam kekal. Yerusalem yang baru sudah bisa kita rasakan di dunia ini, ketika kita hadir sepenuh hati dalam Perayaan Ekaristi - pertemuan surga dan bumi.

Kamis, 25 April 2019

Menjadi Laskarmu

Dalam pandangan dan perhitungan manusia, sepertinya mustahil mengerjakan tugas perutusan ini. Tetapi, demi terselenggaranya devosi di Bulan Maria,
aku menerimanya.
Bukankah aku telah mengikrarkan diri secara pribadi untuk menjadi laskarmu?
Aku tak akan menelantarkanmu lagi.
Bersamamu, Bunda Maria, tugas ini pasti dapat diselesaikan dengan baik.


Rabu, 06 Maret 2019

Padang Gurun yang Berbeda

Tahun ini, kita melintasi padang gurun yang berbeda dari biasanya.
Mengapa Engkau membawaku ke sini, ya Yesus?
Engkau tentu punya alasannya.

Tak ada pilihan untuk mundur,
Tak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan,
Engkau sudah melangkah maju,
Aku akan mengikuti-Mu.

Kamis, 14 Februari 2019

Separuh atau Semua?

Beberapa bulan belakangan ini, ajaran Yesus untuk menjadi sempurna makin menggema dalam kalbu.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48) 

Kepada seorang muda yang kaya, Yesus meminta ia menjual seluruh miliknya, lalu mengikuti Yesus untuk menjadi sempurna. "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21) 

Sebagai orang biasa - bukan kaum berjubah, bagaimana bisa menjual seluruh milik agar dapat menjadi sempurna?  

Zakheus mendapat kunjungan Yesus ke rumahnya. Ia lalu merelakan separuh hartanya. "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin...." (Lukas 19:8a)

Tindakan Zakheus dapat menjadi jalan tengah bagi orang awam yang ingin mengikuti Tuhan menuju kesempurnaan. Apakah kita berani melakukannya?

Rabu, 16 Januari 2019

Kepastian dalam Ketidakpastian

Ketika kita menggunakan moda transportasi untuk pergi ke suatu tujuan tertentu - entah itu dengan pesawat terbang, kapal laut, kereta , mobil, atau motor; dalam hati kita merasa pasti kita akan sampai di tujuan dengan selamat. Meskipun sebenarnya pada saat berada dalam moda transportasi itu, kita berada dalam situasi ketidakpastian. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi dalam perjalanan menuju ke tujuan kita. Apakah akan ada hambatan atau bahkan kecelakaan yang tidak diharapkan? Ataukah perjalanan kita mencapai tujuan berjalan lancar?   

Demikian pula gambaran perjalanan hidup kita. Kita bergerak menuju tujuan akhir kehidupan, yakni Kerajaan Allah, disertai keyakinan kita akan sampai di tujuan dengan selamat. Kita tidak tahu dengan pasti hambatan atau rintangan apa yang akan kita jumpai dalam perjalanan hidup ini. Kita berada dalam situasi ketidakpastian. Dengan iman dan pimpinan Roh Kudus, kita dapat memastikan, pada akhirnya kita akan tiba di tujuan dengan selamat. 

Selasa, 01 Januari 2019

Bersama Bunda

Semasa hidupnya di dunia, ia telah mengalami berbagai kecemasan - mulai dari mengandung sebelum menikah, melahirkan dalam kondisi sangat berkekurangan di sebuah kandang, mengungsi ke Mesir, menahan cemoohan para tetangga karena sepak-terjang Putranya, mengikuti jalan sengsara Putranya, hingga bertahan sampai tarikan napas terakhir Putra terkasihnya.

Ia sudah berhasil mengatasi berbagai tantangan kehidupan. Mengawali tahun baru dalam penyertaan Bunda Allah, tak ada lagi yang perlu dicemaskan. Bersamanya, dituntun olehnya, kita berada di jalan yang benar dan aman untuk dihantar kepada Putranya.

Senin, 24 Desember 2018

Tempat yang Kotor

Bayi Yesus memilih lahir di tempat yang kotor - kandang hewan, bukan di rumah yang bersih. Apa artinya?

Hati manusia bagaikan kandang hewan yang kotor. Penuh dosa, kejahatan, dan segala yang negatif. Tetapi Tuhan memilih tempat itu bukan yang lain. Ia mau hadir di hati kita yang tidak bersih untuk menyucikannya.

Setelah Yusuf dan Maria setuju memakai kandang hewan itu untuk tempat mereka bermalam, tidakkah si pemilik kandang berusaha membersihkan tempat itu, supaya cukup layak dihuni? 
Ketika Tuhan mengetuk pintu hati kita, walaupun hati kita kotor dan tak layak dihuni, tetapi karena Tuhan mau berdiam di rumah hati kita, maka kita berusaha membersihkan hati kita supaya cukup layak dihuni-Nya.

Datanglah, ya Tuhan Yesus, tinggallah selalu dalam hatiku.
Meski tak layak Kau tempati, tetapi aku mau menerima-Mu. 
Aku akan membersihkannya setiap waktu, 
supaya Engkau lebih nyaman tinggal di dalamnya.