Jumat, 14 Juli 2023

Selembar Brosur

Seorang teman mengaku tertarik kepada agama Katolik lantaran selembar brosur yang ia temui di jalan. Informasi tentang suatu acara yang akan diselenggarakan di sebuah gereja Katolik telah membawa ibu ini mengenal Kristus, kemudian mengimaninya.

Pengalaman ini diceritakan temanku bertahun silam, tetapi aku selalu mengingatnya sebagai penyemangat. Tak ada kata-kata yang terbuang percuma, tak ada perasaan sia-sia saja mewartakan. Tuhan selalu punya cara untuk menjangkau jiwa-jiwa. 

Demikian pula ratusan tulisan yang ada di blog ini, semoga menjadi berkat bagi yang membacanya.

Selasa, 11 Juli 2023

Menghargai Pemberian

Vincent van Gogh (1853-1890), pelukis terkenal asal Belanda menyandang sakit mental. Suatu malam menjelang Natal tahun 1888, van Gogh memotong daun telinga kirinya dengan pisau cukur, setelah bertengkar dengan temannya yang juga pelukis. Ia ditemukan polisi dan dibawa ke rumah sakit.

Setahun berselang, kepada dokter Felix Rey yang telah mengobatinya, van Gogh memberikan lukisan karyanya Potret Dokter Felix Rey. Namun, rupanya sang dokter muda ini tidak suka lukisan. Ia bahkan sempat memakai lukisan dari van Gogh itu untuk memperbaiki kandang ayamnya. Kemudian, lukisan Potret Dokter Felix Rey beralih ke tangan orang lain. Tahun 2016, lukisan yang dipajang di Museum Seni Rupa Pushkin di Moskow itu diperkirakan bernilai lebih dari US$ 50 juta.

Seberapa besarkah penghargaan kita kepada pemberian orang lain? Seberapa besar pula kita sebagai umat beriman kristiani menghargai pemberian diri Kristus? Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari.

Sabtu, 01 Juli 2023

Wajah-Mu

Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. 
Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!
Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
Dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

(Dirangkai dari Mazmur 27:8, Mazmur 31:17, Mazmur 119:135, Mazmur 17:15)

Senin, 26 Juni 2023

Perjalanan Abram adalah Perjalanan Kita

Ketika Tuhan meminta Abram (kemudian bernama Abraham) pergi dari tanah kelahirannya ke tempat yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya, Abram melaksanakan perintah itu dengan taat. Meski belum tahu tujuannya, tidak tahu apa yang bakal dijumpai dalam perjalanannya, berapa lama ia harus berjalan, Abram menjalani tanpa ragu. (lihat Kejadian 12:1-9)

Perjalanan Abram adalah perjalanan kita. Pada saat Tuhan meminta kita melakukan sesuatu - ibarat sebuah perjalanan, kita tidak tahu tantangan yang bakal kita hadapi dan apa yang akan kita alami dengan melakukan yang Tuhan kehendaki. 

Seperti Abram yang percaya penuh kepada Tuhan yang memanggilnya, dengan iman yang teguh kita pun dapat melaksanakan dengan baik apa yang Tuhan inginkan dari kita.

Senin, 19 Juni 2023

Bunga Matahari

Satu batang pohon satu bunga,
tumbuh mengarah ke matahari,
mengumpulkan biji yang banyak dalam bunganya.

Seperti bunga matahari - hendaknya
kita berteguh hati menghadapi berbagai tantangan,
mengarahkan pandangan dan hati ke Tuhan,
menyimpan banyak hal baik dalam tabungan surgawi.

Ketika bunga matahari mengering, layu, dan mati,
diperoleh banyak biji sebagai generasi penerus.   
Ketika tiba saat kita beralih dari dunia ini,
semoga Tuhan berkenan menerima persembahan hidup kita.

Minggu, 11 Juni 2023

Bekal untuk Hari Baru

Awali hari baru dengan berbekal:

- Persatuan dengan Kristus melalui Sakramen Ekaristi

- Penerangan Roh Kudus

- Pendampingan Bunda Surgawi

Dengan tenang dan mantap kita melangkah menuju Kerajaan Allah

Minggu, 04 Juni 2023

Juara

Setiap orang tentu senang kalau dirinya menjadi juara dalam kompetisi. Rasa bangga menyeruak, merasa diri lebih hebat dari yang lain. Namun sebaliknya, orang merasa bodoh dan malu, saat mengetahui ia tidak menjadi juara. Apalagi jika orang itu mewakili sebuah tim yang menggantungkan harapan kemenangan kepadanya. 

Itulah yang terjadi, saat tim-ku menjadi juara paling bawah dalam suatu kompetisi. Keruan saja, aku yang menjadi juru bicara tim menjadi malu dan merasa jadi orang paling bodoh di ruangan itu. 

Ketika merefleksikan pengalaman tersebut, timbul pertanyaan dalam hati: mengapa harus menang? Apa yang mau kubuktikan? Bukankah sepatutnya aku senang melihat orang-orang lain meraih keberhasilan? 

Juara yang sejati adalah ketika kita bisa mengendalikan diri dan perasaan, dengan legawa menerima kenyataan.